Aminah Ekawati
Dosen STKIP PGRI Banjarmasin Pendidikan Matematika

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Collective Argumentation through Scaffolding: Homogeneous and Heterogeneous Groups in Solving Mathematics Tasks Ekawati, Aminah; Siswono, Tatag Yuli Eko; Lukito, Agung
Mathematics Education Journal Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas Sriwijaya in collaboration with Indonesian Mathematical Society (IndoMS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22342/jpm.v19i2.pp217-240

Abstract

Collective argumentation plays a crucial role in enhancing students' mathematical understanding through discussion. While previous studies have explored collective argumentation and group composition, only a limited number of research has examined the impact of ability-based grouping—both homogeneous and heterogeneous—on collective argumentation in mathematics learning. Based on this, the current research aims to explore collective argumentation in homogeneous and heterogeneous groups of students, supported by scaffolding, in solving mathematically and non-mathematically rich tasks. Using a qualitative approach with a case study design, the present study involved two groups of eighth-grade students, each consisting of six eighth-grade students with high, medium, and low abilities. Data were collected through recorded group discussions, observations, and interviews. After that, the collected data were analyzed using the Toulmin argumentation model. The findings reveal that homogeneous groups of high-ability students engaged more actively in idea exploration and generated dynamic arguments, incorporating key argumentation elements such as claims, data, warrants, rebuttals, and qualifications. In contrast, in heterogeneous groups, high-ability students dominated discussions, while lower-ability students were more passive and relied on scaffolding from teachers or peers. Furthermore, mathematically rich tasks were more effective in fostering in-depth discussions than non-mathematically rich tasks. These findings highlight the importance of strategic student grouping and scaffolding in promoting engagement and meaningful collective argumentation in mathematics learning.
Kelayakan Instrumen Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Berbasis Kontekstual untuk Siswa SMP Ditinjau dari Rasch Model Ekawati, Aminah; Wardiah, Isna; Huriaty, Dina
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 001 February 2026 (Spesial Issue)
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i001.3242

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika dan menjadi salah satu fokus utama Kurikulum Merdeka. Namun, instrumen yang digunakan untuk menilai kemampuan tersebut masih didominasi oleh soal prosedural dan kurang mencerminkan konteks autentik kehidupan siswa, sehingga pengukuran menjadi kurang akurat. Penelitian ini bertujuan menilai kelayakan instrumen kemampuan pemecahan masalah matematika berbasis kontekstual untuk siswa SMP menggunakan Model Rasch. Instrumen terdiri dari empat soal uraian pada materi perbandingan, bilangan bulat, pecahan, dan aritmetika sosial yang dikembangkan berdasarkan level kognitif C3 dan C4. Proses validasi dilakukan melalui penilaian ahli terhadap aspek isi, teknis, dan bahasa, kemudian diuji empiris pada 60 siswa kelas VIII SMP menggunakan analisis Rasch melalui RStudio. Hasil validasi menunjukkan seluruh butir memenuhi kriteria I-CVI dan koefisien kappa, meskipun satu butir direvisi sesuai masukan ahli. Hasil analisis Rasch menunjukkan nilai Infit dan Outfit MNSQ berada dalam rentang 0,5–1,5, yang mengindikasikan validitas empiris yang baik. Reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,709, WLE reliability 0,678, dan EAP reliability 0,772 menunjukkan konsistensi pengukuran yang memadai. Asumsi unidimensionalitas terpenuhi berdasarkan nilai eigenvalue PCAR (< 3), dan parameter kesulitan menunjukkan variasi logit yang proporsional dari mudah hingga relatif sulit. Instrumen juga memiliki kualitas targeting yang baik, ditunjukkan oleh kesesuaian distribusi kemampuan siswa dengan tingkat kesulitan butir. Dengan demikian, instrumen ini layak digunakan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika berbasis kontekstual pada siswa SMP.
ETNOMATEMATIKA ADAT BABILANGAN: ANALISIS KONSEP PENJUMLAHAN DAN ARITMETIKA MODULO DALAM BUDAYA MASYARAKAT TAPIN Syifa, Muhammad; Ekawati, Aminah; Khair, Muhammad Sa'duddien
EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 14, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/edumat.v14i1.25073

Abstract

Pembelajaran matematika tidak hanya menuntut penguasaan konsep, tetapi juga pemaknaan proses berpikir dalam konteks kehidupan nyata, termasuk budaya lokal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis konsep penjumlahan dan aritmetika modulo dalam praktik adat babilangan serta menjelaskan langkah-langkah pelaksanaannya di masyarakat Tapin. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi terhadap tiga informan dari desa berbeda yang memahami Adat Babilangan. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adat Babilangan berakar pada praktik hisab berbasis aksara hijaiyah yang diwariskan secara turun-temurun. Konsep matematis yang ditemukan meliputi penjumlahan bilangan bulat serta aritmetika modulo multibasis, seperti modulo 12 untuk menentukan sifat individu serta modulo 3, 5, dan 7 dalam penentuan nasib pernikahan melalui perhitungan nilai aksara. Meskipun terdapat variasi nilai aksara dan perbedaan penafsiran antar narasumber, struktur perhitungan tetap konsisten, yaitu penjumlahan yang diikuti pembagian bersisa. Temuan ini menunjukkan bahwa Adat Babilangan merupakan bentuk matematika informal yang berpotensi menjadi konteks pembelajaran yang mengaitkan konsep matematika formal dengan budaya lokal. Kata kunci: Adat Babilangan, Etnomatematika, Modulo, Penjumlahan Abstract: Mathematics learning requires not only conceptual mastery but also meaningful understanding of thinking processes in real-life contexts, including local cultural practices. This study aims to identify and analyze the concepts of addition and modular arithmetic embedded in the Adat Babilangan tradition and to systematically describe the procedures used in its implementation within the Tapin community. The study employed an exploratory qualitative approach. Data were collected through semi-structured interviews and documentation involving three participants from different villages who are knowledgeable about Adat Babilangan. Data analysis followed the Miles and Huberman model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that Adat Babilangan is rooted in a traditional calculation system based on the Arabic (Hijaiyah) script, transmitted across generations. The identified mathematical concepts include integer addition and multi-base modular arithmetic, such as modulo 12 for determining individual characteristics, and modulo 3, 5, and 7 for determining marital compatibility through calculations based on the numerical values of Hijaiyah letters. Despite variations in letter values and differences in interpretation among informants, the underlying computational structure remains consistent, involving addition followed by division with remainders. These findings suggest that Adat Babilangan represents a form of informal mathematics with potential as a culturally relevant context for connecting formal mathematical concepts to local traditions. Keywords: Adat Babilangan, Addtion, Etnomatematics, Modular