Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Karakteristik vegetasi penyusun habitat Lebah Madu Hutan (Apis dorsata. F) di hutan masyarakat Sungai Indragiri Riau Michael Daru Enggar W; Avry Pribadi
Jurnal Zona Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Pelantar Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52364/jz.v2i2.42

Abstract

Habitat of Asian giant honeybee (Apis dorsata) and the forest that surround it play an important role for the development of bees. For local, honey gathered from the bees has important role in enhancing people`s live hood. However, studies examine the interaction between the bees and its vegetation is limited. The objection of this study were to (1) determine the number of the sialang trees and (2) to eamine structure of vegetation along the Indragiri river, Riau. The data were collected using the observation method by establishing many observation plots. The data were processed and analyze using quantative descriptive. The results showed that the structure of forests along the Indragiri river are consisted of several types of sialang trees, namely jelemu, arau, and stone wood. The diversity of plants is considerably high, such as Melastoma malabatrichum, rubber, ferns, acacia, and rattan at the seedling level and Macaranga sp, durio sp, rubber and meranti at the weaning level. The vegetation is considered still in good condition for bees` hive. Forest vegetation is dominated by the types of meranti, rubber, and the araceae family which can be used for either habitat or bee forage for bees.
KARAKTER MADU LEBAH HUTAN (Apis dorsata Fabr.) DARI BERBAGAI BIOREGION DI RIAU Avry Pribadi; M. Enggar Wiratmoko
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7532.126 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2019.37.3.184-196

Abstract

Karakteristik madu dari lebah hutan Apis dorsata yang berasal dari bioregion di Riau belum dipelajari secara intensif. Penelitian ini mempelajari karakteristik madu dari lebah hutan dari bioregion di Riau berdasarkan pada Standar nasional Indonesia. Penelitian dilakukan pada bulan September 2015 hingga November 2015. Sedikitnya tiga sampel madu hutan diambil sebagai ulangan pada setiap bioregionnya dan dianalisis berdasarkan prosedur dari SNI 8664-2018. Enam bioregion dimana sampel madu diambil adalah hilir dan pesisir pantai (Kabupaten Bengkalis dan Selat Panjang), hutan dengan tanah mineral (Kabupaten Kampar), hutan rawa gambut (Kabupaten Pelalawan), aliran sungai (Kabupaten Rokan Hilir), hutan tanaman (Kabupaten Siak), dan perkebunan kelapa sawit dan karet (Kabupaten Kuansing). Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antar bioregion terhadap mayoritas parameter pada SNI 8664-2018. Akan tetapi, parameter gula reduksi dan kadar air pada seluruh sampel menunjukkan bahwa madu hutan yang diteliti tidak memenuhi persyaratan SNI 8664-2018. Lebih lanjut, jenis dan ukuran polen yang terdapat pada sampel madu dapat dijadikan metode untuk penentuan asal usul madu berdasar bioregionnya.
Perbandingan Uji Budi Daya Lebah Jenis Heterotrigona itama pada Empat Tipe Vegetasi (Comparision of Meliponiculture using Heterotrigona itama Placed at Four Different Vegetations) Avry Pribadi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.93-108

Abstract

ABSTRACTNowadays, meliponiculture becomes a popular activity for most beekeepers since it is not complicated as apiculture. Heterotrigona itama is common species of stingless bees that becomes one of the most favorites for most meliponiculturists in Indonesia. On the other hand, location and vegetation are essential factors that influence the success of practicing meliponiculture. This study aimed to evaluate the development of H. itama at four locations (heterogenic yard field, calyandra plantation, pine forest, and oil palm plantation). Three times observations were conducted in June, August, and October 2016 toward the volume of brood,the number of honey, and the number of pollen pots. A randomized completely design was assigned in this study. Data were analyzed by conducting ANOVA and repeated measures that comparing between locations and observation times. Results showed that at the end of observation, the volume of brood was significantly high in oil palm plantations and the volume of brood was low in Pine forest. Meanwhile, the number of honey pots was significantly high in the heterogenic yard field and significantly low in the Pine forest. Furthermore, pollen pots were significantly high in oil palm plantations and low in Pine forests. This study revealed that low land and heterogeny yard are more suitable for keeping H. itama.Keyword: Meliponoculture, heterotrigona itama, honey pots, pollen pots, vegetations  ABSTRAKBeberapa tahun belakangan ini, budi daya lebah tanpa sengat menjadi sangat popular dibandingkan lebah bersengat, karena budi dayanya yang relatif \ sederhana dan tidak rumit. Mayoritas jenis yang banyak dibudidayakan oleh para peternak lebah adalah Heterotrigona itama. Kesuksesan budi daya lebah tidak bersengat bergantung pada lokasi dan kondisi vegetasi, sehingga pemilihan lokasi sebelum budi daya merupakan hal yang penting. Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan H. itama yang ditempatkan pada vegetasi yang berbeda, yaitu lahan pekarangan heterogen, kebun kaliandra, hutan pinus, dan kebun kelapa sawit. Pengumpulan data dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober tahun 2016 terhadap volume sel anakan, jumlah kantung madu yang terbentuk, dan jumlah kantung tepung sari/polen.  enelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Data dianalisis secara ANOVA dan pengukuran berulang terhadap waktu pengamatan dan lokasi. Hasil menunjukkan bahwa volume sel anakan tertinggi pada akhir pengamatan pada bulan Oktober terdapat di lokasi kebun sawit dan terendah terdapat di hutan pinus. Perkembangan jumlah kantung madu pada koloni tertinggi terdapat di lahan pekarangan dan terendah terdapat di hutan pinus. Selanjutnya, perkembangan jumlah kantung polen pada koloni H. itama tertinggi terdapat di kebun sawit dan terendah di hutan pinus. Hasil ini menunjukkan bahwa lokasi yang tepat untuk pemeliharaan H. itama berada di lingkungan yang heterogen dan berada di dataran rendah.Kata kunci: Budi daya, tegakan, lebah tanpa sengat, Heterotrigona itama, kantung madu, kantung pole
KARAKTER MADU LEBAH HUTAN (Apis dorsata Fabr.) DARI BERBAGAI BIOREGION DI RIAU Avry Pribadi; M. Enggar Wiratmoko
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2019.37.3.184-196

Abstract

Karakteristik madu dari lebah hutan Apis dorsata yang berasal dari bioregion di Riau belum dipelajari secara intensif. Penelitian ini mempelajari karakteristik madu dari lebah hutan dari bioregion di Riau berdasarkan pada Standar nasional Indonesia. Penelitian dilakukan pada bulan September 2015 hingga November 2015. Sedikitnya tiga sampel madu hutan diambil sebagai ulangan pada setiap bioregionnya dan dianalisis berdasarkan prosedur dari SNI 8664-2018. Enam bioregion dimana sampel madu diambil adalah hilir dan pesisir pantai (Kabupaten Bengkalis dan Selat Panjang), hutan dengan tanah mineral (Kabupaten Kampar), hutan rawa gambut (Kabupaten Pelalawan), aliran sungai (Kabupaten Rokan Hilir), hutan tanaman (Kabupaten Siak), dan perkebunan kelapa sawit dan karet (Kabupaten Kuansing). Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antar bioregion terhadap mayoritas parameter pada SNI 8664-2018. Akan tetapi, parameter gula reduksi dan kadar air pada seluruh sampel menunjukkan bahwa madu hutan yang diteliti tidak memenuhi persyaratan SNI 8664-2018. Lebih lanjut, jenis dan ukuran polen yang terdapat pada sampel madu dapat dijadikan metode untuk penentuan asal usul madu berdasar bioregionnya.