This Author published in this journals
All Journal PIPER
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH BOKASHI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.) Sumartoyo Sumartoyo
Publikasi Informasi Pertanian Vol 12, No 23 (2016): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v12i23.23

Abstract

Kacang hijau merupakan salah satu jenis tanaman pertanian yang penting karena banyak mengandung gizi. Hasil kacang hijau di kabupaten Sintang masih rendah, oleh karenanya perlu ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil kacang hijau adalah dengan perbaikan teknik budidaya, antara lain melalui pemberian Bokashi Tandan Kosong Kelapa Sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokashi tandan kosong kelapa sawit terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau dan untuk mendapatkan dosis bokashi tandan kosong kelapa sawit yang akan menghasilkan pertumbuhan serta hasil kacang hijau tertinggi pada tanah PMK. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan, dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri atas 5 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 5 kali, ke lima perlakuan tersebut adalah: B0 = Tanpa bokashi TKKS. B1 = Bokashi TKKS 5 ton per ha (0,50 kg per m2). B2 = Bokashi TKKS 10 ton per ha (1,00 kg per m2). B3 = Bokashi TKKS 15 ton per ha (1,50 kg per m2). B4 = Bokashi TKKS 20 ton per ha (2,00 kg per m2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bokashi tandan kosong kelapa sawit dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang hijau yang ditunjukkan oleh peubah, diameter batang, jumlah polong per tanaman, dan berat biji per tanaman. Pertumbuhan dan hasil tertinggi akibat pemberian bokashi tandan kosong kelapa sawit dicapai pada dosis 2,00 kg per m2, pada dosis tersebut menghasilkan bahwa rerata diameter batang terbesar (8,650 mm), rerata jumlah polong per tanaman terbanyak (38,600 buah), dan rerata berat biji per tanaman terberat (45,500 g).
Pengaruh Kompos Enceng Gondok Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Mentimun (Cucumis sativus L) Sumartoyo Sumartoyo
Publikasi Informasi Pertanian Vol 13, No 25 (2017): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v13i25.92

Abstract

Mentimun merupakan salah satu jenis tanaman pertanian yang penting karena banyak mengandung gizi. Hasil mentimun manis di kabupaten Sintang masih rendah, oleh karenanya perlu ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil mentimun adalah dengan perbaikan teknik budidaya, antara lain melalui pemberian Bokashi Enceng Gondok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokashi Enceng Gondok terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun dan untuk mendapatkan dosis bokashi Eceng Gondok yang akan menghasilkan pertumbuhan serta mentimun pada tanah podsolik merah kuning (PMK). Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan, dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri atas 6 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 4 kali, ke enam perlakuan tersebut adalah: A = Tanpa kompos eceng gondok.B = Kompos eceng gondok 5 ton per ha = 0,5 kg per m2. C = Kompos eceng gondok 10 ton per ha = 1,0 kg per m2. D = Kompos eceng gondok 15 ton per ha = 1,5 kg per m2. E = Kompos eceng gondok 20 ton per ha = 2,0 kg per m2. F = Kompos eceng gondok 25 ton per ha = 2,5 kg per m2. Pengamatan dilakukan terhadap peubah berat basah berangkasan, jumlah buah, dan berat buah. Hasil penelitian meunjukkan bahwa Kompos enceng gondok berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun pada tanah PMK, yang ditunjukkan oleh berat basah berangkasan, jumlah buah, dan berat buah. Pertumbuhan dan hasil tertinggi dicapai pada pemberian kompos eceng gondok sebanyak 2,00 kg per m2, pada dosis tersebut menghasilkan rerata berat basah berangkasan 187,188 g per tanaman, rerata jumlah buah sebanyak 15,938 buah per tanaman, dan rerata berat buah 3,358 kg per tanaman.