Ditemukannya kesalahan penyampaian materi pelajaran Animasi Digital Puppeteer secara tidak langsung disebabkan oleh pelaksaan program prakerin selama 1 tahun di SMK. Hal tersebut karena adanya pemadatan pembelajaran yang berdampak pada pemberian materi dimana seharusnya diberikan selama 2 semester menjadi 1 semester saja. Terbatasnya waktu pembelajaran tersebut membuat beberapa materi pelajaran tidak tersampaikan kepada siswa. Hal tersebut juga dipicu dengan belum adanya bahan ajar yang mendukung pembelajaran yang dipadatkan akibat pelaksanaan praktik kerja industri selama 1 tahun. Melihat permasalahan tersebut membuat pengembangan sebuah modul pembelajaran pada mata pelajaran Animasi 2D dan 3D bermuatan project-based learning untuk mendukung pelaksanaan praktik kerja industri selama 1 tahun merupakan solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan yang ada. Hasil pengujian kelayakan menunjukkan bahwa modul pembelajaran valid dimana hasil uji kelayakan oleh ahli media menunjukkan bahwa 95,14% modul sangat valid serta dilihat dari hasil uji kelayakan oleh ahli materi menunjukkan bahwa 97,14% modul sangat valid untuk digunakan dalam pembelajaran. Pada uji coba yang melibatkan siswa menunjukkan bahwa melalui hasil uji coba perseorangan dapat diketahui bahwa 94,17% modul pembelajaran yang dikembangkan sangat layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Selain itu melalui hasil uji coba kelompok kecil dapat diketahui bahwa modul pembelajaran 85,18% sangat layak untuk digunakan, begitu juga hasil uji coba pemakaian menunjukkan bahwa modul pembelajaran 87,45% sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan data yang telah didapatkan tersebut dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran animasi 2D dan 3D bermuatan project-based learning sangat layak untuk dijadikan referensi dan digunakan didalam proses belajar Animasi 2D dan 3D.