Zaitur Rahem
Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Aktivasi Akhlak Uswatun Hasanah Nabi Menjawab Patologi–Moral-Sosial Di Indonesia Zaitur Rahem
Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jdk.v2i1.276

Abstract

Public confidence in the figures in this negei continues to shrink. People began to turn to a number of figures which are initially considered competent-charismatic. The reason, because practices that are very human behavior. Some unscrupulous public figure to do one action out of the bounds of morality and culture there. Studies in this paper tries to pick a phenomenological facts universally immoral behavior. Through qualitative methods, and data collection techniques snawball sampling, data sources can be tracked easily. Hasilya, portrait decrease civilized behavior is caused by a sense of optimism and spirit tegerusnya elements of the nation (especially Muslims) in addressing the noble values taught by the Prophet in the texts of Islam (Quran and Hadith)
Telaah Islamic Studies atas Tradisi Pelet Bettheng Masyarakat Desa Pajudan Daleman dan Rombasan Sumenep Madura Zaitur Rahem
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.493 KB)

Abstract

Strong building a community is cultural. Humans can not be separated from the culture created. Every generation has its cultural achievements of each. The cultural movement gradually transformed mindset, character and ideology. Lumbung culture itself has been represented by rural areas. The village with all the trappings of his life, was able to survive and meruwat kebudyaannya, despite continued menggempurnya times with a number of technological progress and civilization. Derap culture in rural areas also ignited masarakat confidence in Indonesia to build a distinctive civilization nusantaranya. All local wisdom in the area of   the archipelago is an insight into life. One of the cultural appearance of the wise is in the village of pellets bettheng Pajudan Daleman and Village Rombasan. These two villages representing the portrait of a civilized life in the island of Madura.[Bangunan kuat suatu komunitas adalah kebudayaan.Manusia tak bisa lepas dari kebudayaan yang diciptakan.Setiap generasi memiliki prestasi kebudayaan masing-masing.Pergerakan kebudayaan tersebut lambat laun menjelma mindset, karakter, dan ideologi.Lumbung kebudayaan sendiri selama ini terwakili oleh kawasan pedesaan.Desa dengan segenap ornamen kehidupannya, masih mampu bertahan dan meruwat kebudyaannya, meski zaman terus menggempurnya dengan sejumlah kemajuan dan peradaban tekhnologi. Derap kebudayaan di kawasan pedesaan juga memantik rasa percaya diri masarakat di Indonesia untuk membangun peradaban khas nusantaranya. Semua kearifan budaya lokal di kawasan nusantara adalah wawasan kehidupan.Salah satu perwajahan kebudayaan arif itu adalah pelet bettheng di desa Pajudan Daleman dan Desa Rombasan.Dua desa ini mewakili potret kehidupan beradab di kawasan pulau Madura.]
GERAKAN PROGRESSIF MUHAMMADIYAH DAN NAHDLATUL ULAMA MENJAGA MARWAH PENDIDIKAN KEISLAMAN DI NUSANTARA Zaitur Rahem
Al Hikmah: Jurnal Studi Keislaman Vol. 7 No. 1 (2017): AL HIKMAH
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Al-Hikmah Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.797 KB) | DOI: 10.36835/hjsk.v7i1.3089

Abstract

The Organization of religious and kemasyarkatan in Indnesia very much. Among them is the Muhammadiyah (MD) and Nahdlatul Ulama (NU). Two organization become ordinary broad manevest of religious expressions of Muslims homeland. That's because there has been an assumption, Muhammadiyah and NU has typology amaliyah movement ubudiyah (ritual practices-spriritualis) different. Differences are also evident from the style of movement and organizationally arable land. Muhammadiyah dominate the metropolis, while NU in rural or suburban base. However, despite their ideological and geoorganisatoris typological differences, the two Islamic organizations are able to provide the dedication and outstanding contribution to the civilization of Indonesia. Both were able to stand up and maintain Islamic values ​​typical of the archipelago. In fact, the cadres of both these religious organizations esksist until rentag a very long time. The existence of this organization can be seen from its role in developing the education sector. Key Word: Gerakan Progressif, Muhammadiyah, NU Daftar Rujukan Asy’ari, Suaidi, Nalar Politik NU & Muhammadiyah, (Yogyakarta: LkiS, 2010). John P Miller, Seller Wayne, Curicullum Perpsektif and Praktice, (London: Longman, 1985). Hitty, Philip, History of the Arab, (Jakarta: Serambi, 2016) Kamali, Mohammad Hashim, 2015. Membumikan Syariah, (Jakarta: Mizan, 2015) Lings, Martin, Muhammad, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2002) Muzadi, KH. Abdul Muchith, NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran, (Surabaya: Khalista, 2006). Muhammad Hasyim dan Ahmad Athoillah, Khazanah Katulistiwa: Potret Kehidupan dan Pemikiran Kiai-kiai Nusantara, (Tuban: Kakilangit Book, 2009). Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo. 2010). Mun’im Al-Hafni, Abdul, Ensiklopedia Muhammad SAW (Buku Tiga), (Jakarta Selatan: Noura Books, 2014). Muhammad Naquib Al- Attas, Syed, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1990). Nasih Ulwan, Abdullah, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007). Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011. Rois, Moh. Fathur, Menyimak Kisah dan Hikmah Kehidupan Nabi Khidir, (Jakarta: Zaman, 2015). Shodiqin, Mochammad Ali, Muhammadiyah Itu NU!, Jakarta: Noura Books, 2013). Smith, Huston. 2016, Agama-agama Manusia, Jakarta: Serambi Soerjabrata, Soemadi, Ichtisar Sejarah Ilmu Jiwa, Yogyakarta: Usma, 1964. Shihab, Quraisy, Membumikan Al-Quran, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2006). Tidjani Djauhari, Mohammad, Pendidikan Untuk Kebangkitan Islam, (Jakarta: TAJ Publishing, 2008). Yatim, Badri , Pengantar Sejarah Indonesia Baru; 1500-1900, Jilid I, (Jakarta: PT. Gramedia, 1987).
Wajah Agama dalam Tradisi Pelet Bettheng Masyarakat Madura Zaitur Rahem
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars No Seri 1 (2017): AnCoMS 2017: Buku Seri 1
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.218 KB) | DOI: 10.36835/ancoms.v0iSeri 1.41

Abstract

Strong building a community is cultural. Humans can not be separated from the culture created. Every generation has its cultural achievements of each. The cultural movement gradually transformed mindset, character and ideology. Centrals culture itself has been represented by rural areas. The village with all the trappings of his life, was able to survive and meruwat kebudyaannya, despite continued menggempurnya times with a number of technological progress and civilization. Derap culture in rural areas also ignited masarakat confidence in Indonesia to build a distinctive civilization nusantaranya. All local wisdom in the area of the archipelago is an insight into life. One of the cultural appearance of the wise is in the village of pellets bettheng Pajudan Daleman and Village Rombasan. These two villages representing the portrait of a civilized life in the island of Madura.Keywords: Pelet Bettheng, Tradisi.
Telaah Islamic Studies atas Tradisi Pelet Bettheng Masyarakat Desa Pajudan Daleman dan Rombasan Sumenep Madura Zaitur Rahem
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2017): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Juni 2017
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56633/jkp.v13i1.18

Abstract

Strong building a community is cultural. Humans can not be separated from the culture created. Every generation has its cultural achievements of each. The cultural movement gradually transformed mindset, character and ideology. Lumbung culture itself has been represented by rural areas. The village with all the trappings of his life, was able to survive and meruwat kebudyaannya, despite continued menggempurnya times with a number of technological progress and civilization. Derap culture in rural areas also ignited masarakat confidence in Indonesia to build a distinctive civilization nusantaranya. All local wisdom in the area of   the archipelago is an insight into life. One of the cultural appearance of the wise is in the village of pellets bettheng Pajudan Daleman and Village Rombasan. These two villages representing the portrait of a civilized life in the island of Madura.[Bangunan kuat suatu komunitas adalah kebudayaan.Manusia tak bisa lepas dari kebudayaan yang diciptakan.Setiap generasi memiliki prestasi kebudayaan masing-masing.Pergerakan kebudayaan tersebut lambat laun menjelma mindset, karakter, dan ideologi.Lumbung kebudayaan sendiri selama ini terwakili oleh kawasan pedesaan.Desa dengan segenap ornamen kehidupannya, masih mampu bertahan dan meruwat kebudyaannya, meski zaman terus menggempurnya dengan sejumlah kemajuan dan peradaban tekhnologi. Derap kebudayaan di kawasan pedesaan juga memantik rasa percaya diri masarakat di Indonesia untuk membangun peradaban khas nusantaranya. Semua kearifan budaya lokal di kawasan nusantara adalah wawasan kehidupan.Salah satu perwajahan kebudayaan arif itu adalah pelet bettheng di desa Pajudan Daleman dan Desa Rombasan.Dua desa ini mewakili potret kehidupan beradab di kawasan pulau Madura.]