Bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika sekolah. Umumnya orang lebih mengenalnya dengan istilah-istilah seperti penggencetan, pemalakan, pengucilan, intimidasi, dan lain-lain. Istilah bullying sendiri memiliki makna yang lebih luas, mencakup berbagai bentuk penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi guru dalam mengatasi bullying yang terjadi dilingkungan Jemaat Mizpa Tetebudale Kabupaten Kupang. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah teknik accidental sampling, sehingga diperoleh sampel guru PAR/pengajar katekisasi 1 orang, anggota katekisasi 5 orang dan pendeta 1 orang sebagai pelengkap informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk bullying yang terjadi yaitu yang merasa dirinya kuat, keren, ganteng atau cantik melakukan beberapa jenis bullying antara lain: pertama, secara fisik: memukul, mendorong korban, kedua bullying verbal: julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan dan gosip. ketiga: bullying relasional dilakukan dengan cara sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, senyum sinis atau tawaan mengejek. Dalam menanggapi tindakan ini, pengajar PAR tidak menggunakan metode khusus untuk mengatasi bullying di kelas katekisasi, pengajar hanya memberikan gambaran tentang saling menghargai sesama sebagai ciptaan Allah sehingga masalah bullying di kelas katekisasi belum dapat diselesaikan. Hasil penelitian ini menunjukan pentingnya peran seorang pengajar dalam mengatasi masalah bullying di kalangan remaja dalam hal ini anggota katekisasi. Banyak efek negatif yang dapat terjadi apabila bullying terus menerus dilakukan. Sehingga pelaku dan korban perlu mendapat perhatian khusus. Kata kunci: Bullying, Pengajar, Anggota Katekisasi dan Strategi.