Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Buletin Al-Turas

Mochammad Natsir dan Pemikiran Ekonomi Ummat 1950-1960 Emalia, Imas
Buletin Al-Turas Vol 19, No 2 (2013): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.406 KB) | DOI: 10.15408/bat.v19i2.3728

Abstract

Abstract This article is intended as an attempt to reconstruct the history of thought from a figure of the famous politician who is soft, firm, and islamic behave, Mochammad Natsir. His thoughts about the economy of the Muslims is as his fight in Indonesia people’s destinies take notice, especially Muslims. During his life in pursuit of economic Natsir Mochammad Muslims either when he politicking, of community, and preaching. Related to the economic development of this Ummah, Mochammad Natsir championed economic development via the Ummah Party Mayumi, the largest Islamic Ummah as the party at the time. In discussing character Mochammad Natsir, has always been in the political discussion, whether its action in politics or also his idea about politics that inevitably associated with Islam, very little discussion about his thinking in the field of Economics, but it turns out that economics is concerned Natsir Mochammad Ummah, generally the people of Indonesia. His thoughts on the economy is very inspiring and uplifting for the people of Indonesia to be able to maintain his life struggling to avoid poverty, squalor, misery, and suffering due to the behavior of those who blackmail her life wander the property. His idea about Islamic economic development Mochammad Natsir Ummah who looks at and strive to let the Muslims during the post-revolution until the 1960 's can live peaceful, prosperous, far from suffering, poverty, misery, and always pay attention to the messages from the teachings of Islam. Message from thinking this is about Mochammad Natsir human duty to care for and respect each other, because that is the nature of a human being as an independent creature who had to work hard in the face of the Earth to avoid poverty. This paper, entitled "the Economic Thinking and Natsir Mochammad Ummah 1950-1960".---AbstrakMakalah ini dimaksudkan sebagai usaha merekonstruksi sejarah pemikiran dari seorang sosok politikus terkenal yang lembut, tegas, dan islami, yakni Mochammad Natsir. Pemikirannya tentang ekonomi ummat adalah sebagai perjuangannya dalam memperhatikan nasib rakyat Indonesia, terutama ummat Islam. Selama hidupnya Mochammad Natsir memperjuangkan ekonomi ummat baik ketika ia berpolitik, bermasyarakat, dan berdakwah. Terkait dengan pembangunan ekonomi ummat ini, Mochammad Natsir memperjuangkan pembangunan ekonomi ummat melalui Partai Mayumi, sebagai partai ummat Islam terbesar saat itu. Dalam membahas tokoh Mochammad Natsir, selama ini selalu pada pembahasan politik, baik kiprahnya dalam berpolitik atau juga pemikiran-pemikirannya tentang politik yang pasti dikaitkan dengan Islam, sangat sedikit pembahasan tentang pemikirannya di bidang ekonomi, padahal ternyata Mochammad Natsir sangat memperhatikan ekonomi ummat Islam, umumnya rakyat Indonesia. Pemikirannya tentang ekonomi sangat memberikan inspirasi dan semangat bagi rakyat Indonesia untuk dapat berjuang mempertahankan hidupnya yang terhindar dari kemiskinan, kemelaratan, kesengsaraan, dan penderitaan akibat perilaku pemerasan dari mereka yang hidupnya bergelimang harta. Untuk itu makalah ini akan menyoroti Pemikiran Mochammad Natsir tentang pembangunan ekonomi ummat yang memandang dan mengusahakan agar umat Islam pada periode pasca revolusi sampai tahun 1960 dapat hidup damai, sejahtera, jauh dari penderitaan, kemiskinan, kesengsaraan, dan senantiasa memperhatikan pesan-pesan dari ajaran agama Islam. Pesan dari pemikiran Mochammad Natsir ini adalah tentang tugas manusia untuk menjaga dan menghormati sesamanya, karena itu  adalah fitrah seorang manusia sebagai makhluk yang merdeka yang harus bekerja keras di muka bumi untuk menghindari kemiskinan. Makalah ini berjudul “Mochammad Natsir dan Pemikiran Ekonomi Ummat 1950-1960”.
GELIAT EKONOMI KELAS MENENGAH MUSLIM DI CIREBON: DINAMIKA INDUSTRI BATIK TRUSMI 1900-1980 Emalia, Imas
Buletin Al-Turas Vol. 23 No. 2 (2017): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab and Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v23i2.6114

Abstract

AbstractTalking about the area of Cirebon is often the main attraction. Not only in geographical position as coastal area, also often referred to as old city of sultanate heritage and heritage of the guardian (wali songo). In this case almost all cultures present in Cirebon people always regarded as a legacy of the empire or the trustees. The assumption above a certain position is viewed objectively based on evidence and historical data can be proved. Other things, armed with the title 'city prawns', indicating Cirebon city people have an open nature receptive culture into the life environment. Habits of the people who live in coastal areas have the ability to pursue its economic life endures, even when in a state of crisis. Although the capacity is still far below the Chinese people as a class number two after Europeans, in the social stratification, in the colonial period. This is because the Chinese are always given a better chance by the Dutch Indies government than the indigenous people. However, indigenous communities in Cirebon suggest that the majority of Muslims living in the sultanate's heritage area are not always in a state of weakness and invincible with the atmosphere of such economic competition. In such conditions, this paper would like to explain about the twisted economy of Muslims in Cirebon on three times, from the colonial period, the Old Order and New Order. Especially the economics of the santri in Trusmi village, Weru sub-district, Cirebon regency. The location of this area about 5 km west of the town of Cirebon is geographically located at coordinates 06˚ 41 '59.8' 'LS and 108˚ 30' 48 '' BT.Keywords: Cirebon, Economic, Batik Trusmi, 1900-1980 ---------------------------------------------------------------------------------------- AbstrakBerbicara tentang daerah Cirebon seringkali menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya dalam posisi geografis sebagai daerah pesisir, juga seringkali disebut sebagai kota tua warisan kesultanan dan warisan para wali (wali songo). Dalam hal ini hampir semua budaya yang hadir pada masyarakat Cirebon selalu dianggap sebagai warisan kesultanan dan atau para wali. Anggapan di atas pada posisi tertentu dipandang objektif berdasarkan bukti-bukti dan data sejarah yang dapat dibuktikan. Hal lainnya, berbekal sebutan ‘kota udang’, kota Cirebon mengindikasikan masyarakatnya memiliki sifat terbuka yang mudah menerima budaya yang masuk ke dalam lingkungan kehidupannya. Kebiasaan masyarakat yang hidup di daerah pesisir memiliki kemampuan mengupayakan kehidupan perekonomiannya tetap bertahan sekalipun saat dalam keadaan krisis. Kendati kemampuannya masih jauh di bawah orang-orang Cina sebagai kelas nomor dua setelah bangsa Eropa, secara stratifikasi sosial, pada masa kolonial. Hal ini karena orang-orang Cina selalu diberi kesempatan yang lebih baik oleh pemerintah Hindia Belanda dibanding dengan masyarakat pribumi. Walau demikian, masyarakat pribumi di Cirebon mengisyaratkan bahwa mayoritas muslim yang tinggal di daerah warisan kesultanan ini tidak selalu dalam keadaan lemah dan terkalahkan dengan suasana persaingan perekonomian seperti itu. Pada kondisi yang demikian itu, tulisan ini ingin menjelaskan tentang geliat perekonomian umat Islam di Cirebon pada tiga zaman, dari masa kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru. Khususnya perekonomian kaum santri di desa Trusmi Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon. Lokasi daerah ini sekitar 5 km sebelah barat Kota Cirebon yang secara geografis terletak di koordinat 06˚ 41’ 59,8’’ LS dan 108˚ 30’ 48’’ BT.Kata Kunci: Cirebon, Ekonomi, Batik Trusmi, 1900-1980DOI : 10.15408/bat.v23i2.6114