Jumadi Jumadi
Sosiologi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Patron Klien pada Masyarakat Tani Marayoka di Jeneponto 1970-2018 Ramidha Ramidha M; Ahmadin Ahmadin; Jumadi Jumadi
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 3, Desember 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.609 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i3.12052

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan masyarakat tani sebelum adanya sistem pengupahan antara patron dan klien kemudian terjadi pengupahan hingga pergeseran atau peningkatan ekonomi seorang patron ataupun klien, dampak dari hubungan patron-klien bagi kehidupan masyarakat tani pada bidang sosial-budaya dan ekonomi di Marayoka (1970-2018). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebelum adanya sistem pengupahan antara patron dan klien di Desa Marayoka, pertanian masih bersifat subsisten, dimana masyarakat hanya bekerja seadanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan mereka masih sangat tunduk dan patuh kepada patron tanpa mendapatkan upah (sukarela), adanya sistem pengupahan masyarakat sudah mulai mencari kehidupan sendiri, kehidupan masyarakat tani di Desa Marayoka mulai mengalami peningkatan terutama dari segi ekonominya. Selain itu juga memberi dampak terhadap sistem mata pencaharian masyarakat setempat. Komoditi utama yang diusahakan jagung kuning, dan tanaman palawijaya, Namun belakangan ini usaha menjadi menurun. Bahkan sebagaian petani ada yang mengeluh karena kebun jagung dan padi produksinya menurun dan pendapatan rendah. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa sebelum adanya sistem pengupahan masyarakat marayoka masih terjaling erat kerjasama misalkan pengerjaan lahan milik yang secara bergilirang tanpa terimah upah kemudian membangun hubungan patron-client dengan buruh tani melalui penggunaan buruh langganan dan buruh tetap agar tidak terjadi kecurangan. Kata Kunci: Patron, Upah, Marayoka Abstract This study aims to determine the life of the farmer community before the wage system exists between patrons and clients and the occurrence of wages to shift or increase the economy of a patron or client, the impact of the patron-client relationship for the life of the farming community in the socio-cultural and economic fields in Marayoka (1970 -2018). The results of this study indicate that before the wage system exists between patrons and clients in Marayoka Village, agriculture is still subsistence, where people only work poorly to fulfill their daily lives and they are still very submissive and obedient to patrons without getting paid (voluntary), the community wage system has begun to look for its own life, the life of the farming community in Marayoka Village has begun to increase, especially in terms of its economy. It also has an impact on the local people's livelihood systems. From this study, it can be concluded that before the marayoka community wage system was still closely intertwined with the cooperation, for example, the work of land owned by the recipient without wages then built a patron-client relationship with farm laborers through the use of subscribed and permanent laborers to avoid fraud. Keywords: Patron, Wage, Marayoka 
Sekolah Rakyat di Enrekang, 1950-1959 Musdalifah Muchlis; Jumadi Jumadi
PATTINGALLOANG Vol. 6, No. 2, Agustus 2019
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v6i2.12144

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi pendidikan di Enrekang sebelum tahun 1950, sistem  pendidikan sekolah rakyat dan  perkembangan sekolah rakyat di Enrekang tahun 1950-1959. Sistem dan perkembangan sekolah rakyat dalam penelitian ini berfokus pada kebijakan pemerintah, partisipasi masyarakat, guru sekolah rakyat, minat murid, kondisi dan peralatan sekolah. Jenis penelitian ini adalah penelitian Kualitatif, dengan menggunakan metode sejarah melalui tahapan: heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah rakyat sudah ada pada masa pemerintahan Belanda tahun 1905 sedangkan di Enrekang tahun 1926 namun  nama Volkschool. Nama sekolah Rakyat dipakai setelah Indonesia merdeka. Kondisi Sekolah rakyat di Enrekang sebelum tahun 1950 masih dalam keadaan terbelakang namun setelah lima tahun merdeka keadaan sudah semakin membaik.  Sistem pendidikan sekolah rakyat setelah kemerdekaan terutama dalam kurikulum yang awalnya hanya belajar membaca, menulis dan berhitung kini semakin bertambah.seperti contohnya belajar sejarah. Sekolah rakyat di Enrekang mengalami perkembangan di lihat dari semakin banyaknya sekolah yang berubah dari SR 3 atau 4 menjadi 6 tahun karena jumlah siswa bertambah. Perkembangan tersebut karena adanya peran aktif masyarakat dan pemerintah yang turut andil dalam kemajuan pendidikan.Kata Kunci: Sekolah rakyat dan Enrekang.AbstractThis study aims to determine the condition of education in Enrekang before 1950, the education system of public schools and the development of community schools in Enrekang in 1950-1959. The system and development of community schools in this study focused on government policy, community participation, community school teachers, student interests, school conditions and equipment. This type of research is a qualitative study, using the historical method through stages: heuristics (source collection), source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the people's school had existed during the Dutch administration in 1905 while in Enrekang in 1926 the name was Volkschool. The name People's school was used after Indonesian independence. The condition of people's schools in Enrekang before 1950 was still underdeveloped, but after five years of independence the situation had improved. The education system of the people's schools after independence, especially in the curriculum which initially only learned to read, write and count is now increasing. For example studying history. Public schools in Enrekang are experiencing growth in view of the increasing number of schools that change from SR 3 or 4 to 6 years as the number of students increases. This development was due to the active role of the community and the government that contributed to the progress of education.Keywords: Community school and Enrekang