Fredrik Y. A. Doeka
Universitas Kristen Artha Wacana Kupang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

READINGS OF INDONESIAN CHRISTIANS ON MOSES AND SOME SIGNIFICANT NOTES ON POLITICS OF IMAGERY IN INDONESIAN Fredrik Y. A. Doeka
Millah: Journal of Religious Studies Vol. XIII, No. 1, Agustus 2013 Politik dan Agama dalam Bingkai Multikulturalisme
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol12.iss3.art5

Abstract

Kristen memandang Musa sebagai salah satu pendahulu terbesar dari tokoh sentral dari agama mereka, di samping Yesus. Musa tidak hanya nenek moyang dan pendahulu, tetapi sebagai bagian model dalam kehidupan Isa. Injil Matius memiliki banyak referensi yang menunjukkan Musa sebagai model untuk Jesus. Musa tidak menjadi isu utama dalam perdebatan modern, oleh karena itu sulit untuk memilih satu atau beberapa ide sentral yang berhubungan dengan Musa. Meskipun demikian, artikel ini mencoba untuk menguraikan posisi Musa sebagai pemimpin yang disajikan oleh para teolog kontemporer di Indonesia. Bagaimana mereka mendiskusikan tentang Musa sebagai pihak yang relevan terkait dengan perjuangan politik di Israel. Untuk kepentingan artikel ini, saya fokus pada pada pandangan Emmanuel Gerrit Singgih, Sri Wismoady Wahono, Eben Nuban Timo, Thomas Aquino Deshi Ramadhani, Martin Harun Olsthoorn, dan YM Seto Marsunu. Berdasarkan bacaan mereka, saya akan memberikan beberapa catatan penting dalam kaitannya dengan politik pencitraan di Indonesia.
THE PIOUS PEOPLE GIVEN THE RIGHT TO THE PROMISED LAND IN INDONESIAN COMMENTARY Fredrik Y. A. Doeka
Millah: Journal of Religious Studies Vol. XII, No. 1, Agustus 2012 Islam dan Hak Asasi Manusia
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol12.iss1.art11

Abstract

Para teolog Indonesia menyatakan bahwa negara Israel tidak memiliki hak untuk mengklaim secara politik bahwa Tanah Perjanjian adalah milik mereka yang didasarkan pada apa yang tertulis di dalam Torah. Bagi tafsir Islam dan Kristen Indonesia, seluruh bumi adalah milik Allah. Karena itu Allah dapat memberikan tanah ini kepada siapa saja yang berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati dan yang berserah diri kepada Allah.
Merajut Ke-Indonesia-an yang Multikultural dalam Pandangan Gereja Fredrik Y. A. Doeka
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss1.art2

Abstract

Ada sejumlah nas Perjanjian Lama (PL) yang mengindikasikan sikap dan relasi terhadap yang lain (the others). Hubungan TUHAN (Yahweh) dengan allah-allah, yang dianut oleh bangsa- bangsa lain, Nabi Musa menyatakan dalam Ulangan 6:4, ‘Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!’ Sikap dan relasi terhadap TUHAN ini terjadi dalam jangka waktu dan proses yang cukup lama. Bahwa Allah Israel adalah Allah bagi bangsa-bangsa, bukan allah suku. Keluaran 20:3, ‘Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.’ Pada awal pengenalan terhadap Allah ini, bangsa Israel cukup sukar untuk mengakui Allah mereka sebagai Allah yang esa. Hal ini karena Israel mensejajarkan posisi TUHAN (Yahweh) dengan ilah-ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa lain. Nehemia mencatat pergumulan iman Israel atas Yahweh dalam pasal 9:17-18,