Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rumah Inti untuk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana bagi Masyarakat Pedesaan Agam Marsoyo
Unisia No. 63: Tahun XXX Triwulan I 2007
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/unisia.vol30.iss63.art2

Abstract

The core house as instead of the tent in rehabilitation and reconstruction process for villagers who have undergone natural disasters is needs so that they can return to normal life and they have a good future. The recovery process of the core house after disaster actually is not easy inparticular because of the limited fund resources. Thus, it needs to be capitalized by the other capital resources in that process, for instance social capital. The core house building and trnsforming in the villagers area needs community who have social capital to accelerate its existence.
EVALUASI PASCA HUNI RUSUNAWA BAGI MASARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KABUPATEN MAGELANG shafira fira; Agam Marsoyo
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 7 No. 1 (2026): VOLUME 7 NOMOR 1 MARET 2026
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v7i1.13956

Abstract

Rusunawa di Kabupaten Magelang dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat berpenghasilan rendah, namun belum diserahterimakan secara penuh kepada pemerintah daerah karena status tanah yang masih dimiliki pemerintah desa. Kondisi ini menyebabkan pengelolaan rusunawa dilakukan secara mandiri oleh pemerintah desa dengan keterbatasan kapasitas, sehingga menimbulkan perbedaan kualitas pengelolaan yang berdampak pada kinerja rusunawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja rusunawa di Kabupaten Magelang. Metode yang digunakan adalah pendekatan deduktif kuantitatif melalui evaluasi pasca huni dengan teknik observasi, kuesioner penghuni, dan wawancara pengelola, yang dianalisis berdasarkan aspek makro, meso, dan mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rusunawa Gulon memiliki kinerja paling baik dengan skor 92% ditunjukkan dengan kondisi fisik bangunan yang baik, fasilitas hunian yang lengkap, serta pengelolaan yang aktif oleh pemerintah desa. Rusunawa Gunungpring memiliki kinerja sedang dengan skor 86%, dengan kelemahan pada aspek pengelolaan karena peran pemerintah daerah tidak aktif. Sementara itu, Rusunawa Tamanagung menunjukkan kinerja paling buruk dengan skor 55% akibat kondisi fisik bangunan dan fasilitas dasar yang kurang memadai serta lemahnya sistem pengelolaan karena belum adanya dukungan pendanaan. Temuan ini menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kinerja rusunawa.