Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

POTRET PEREMPUAN DAYAK IBAN, KAYAN, DESA, DAN SUNGKUNG DI KALIMANTAN BARAT Rizqi -; Mahendradewa Suminto; Pitri Ermawati
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.495 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1897

Abstract

Penciptaan karya fotografi ini bermaksud merekam identitas kebudayaan subsuku Dayak yaitu Dayak Iban, Kayan, Desa, dan Sungkung khususnya pada perempuan-perempuan Dayak yang masih memiliki dan menjalankan tradisi leluhur. Tradisi-tradisi leluhur yang dijalankan para perempuan Dayak yaitu memanjangkan daun telinga, bertato, memakai gelang besi, menenun, membuat kerajinan manik-manik, dan menganyam. Foto potret ini memunculkan masing-masing karakter subsuku Dayak dengan aspek-aspek fotografi potret meliputi penataan pose, ekspresi, porsi subjek, komposisi, cahaya, properti pendukung, latar belakang, lokasi pemotretan, dan kostum yang digunakan. Karya fotografi yang dihasilkan berupa foto potret dalam ranah dokumenter yang dapat menyampaikan realita sosial. Karya foto potret ini, diharapkan menjadi suatu peninggalan yang berharga untuk bangsa yang dapat digunakan untuk kembali mengingat dan melihat awal dari keberadaan sekarang.Kata-kata kunci: potret, Dayak, Iban, Kayan, Desa, Sungkung, fotografi
Media Fotografi Abad ke-19: Daguerreotype, Calotype, dan Collodion Ermawati, Pitri
Rekam Vol 13, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1939

Abstract

Artikel ini bermaksud menjelaskan tiga medium fotografi yang lazim digunakan pada abad-19 yaitu daguerreotype, calotype, dan collodion. Pembahasan ketiga medium tersebut dititikberatkan pada sejarah kemunculan, teknik pembuatan, dan karakteristik imaji. Baik daguerreotype, calotype, maupun collodion memiliki sejumlah karakteristiknya yang khas; juga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Daguerreotype yang ketajaman imajinya sangat memukau itu memiliki kekurangan pada cetakannya yang tidak dapat diperbanyak. Kekurangan tersebut dapat teratasi oleh calotype yang dapat diperbanyak sampai dengan tidak terhingga. Adapun kekurangan calotype yang berdetail tidak tajam, teratasi oleh collodion yang berdetail tajam sekaligus dapat diperbanyak. Lambat laun setelah dipraktikkan oleh masyarakat, disimpulkan bahwa kekurangsempurnaan medium yang muncul lebih awal akhirnya menjadi penyebab berakhirnya masa kejayaan medium tersebut, karena telah hadir medium baru yang bisa mengompensasi kekurangan yang ada. This article explains three kinds of main stream medias in 19th century; they are daguerreotype, calotype, and collodion. The explanation of the three medias is focused on the origin of the medias, the techniques of the medias, and the characteristics of the image made by each medias. There are some characteristics in daguerreotype, calotype, and collodion, each by its own way. There are pros and cons about each process also. Daguerreotype is amazing in sharpness but lack of reproduction ability. Calotype which came later on public could overcome that lackness because of one calotype negative is able to produce unlimited positive images. On the other side, colotype has not enough good detail due to the grain of the paper which is used as the film. Then these kind of problems could be solved by the characteristic of the latest medium called collodion which has sharp details and also could be reproduced. Thus, time by time, one medium superseded one after enother.
Pengaplikasian Fotografi dan Bahasa Inggris Praktis untuk Warga “Kampung Cyber”, RT 36, Taman, Yogyakarta Ermawati, Pitri; Arsita, Adya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4710

Abstract

RT 036, Taman  merupakan sebuah kampoung yang letaknya bersebelahan dengan objek wisata Taman Sari Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Warga kampung ini banyak yang memiliki usaha dagang produk yang bersinergi dengan pariwisata lokal. Mereka menjual barang dagangan tersebut di ruang pajang rumah masing-masing atau melalui media jualan online. Penyuluhan ini bermaksud memberikan pengetahuan fotografi praktis, khususnya pemotretan foto produk tanpa perlu menggunakan piranti fotografi yang canggih dan lengkap, guna meningkatkan kualitas foto produk yang mereka jual di media jualan online. Selain itu, penyuluhan ini juga bermaksud memberikan pengetahuan bahasa Inggris praktis, khususnya yang berkenaan dengan komunikasi warga selaku tour guide dan deskripsi profil usaha serta produk jualan online yang singkat, padat, jelas, dan efektif agar calon konsumen mancanegara mendapatkan panduan informasi tentang produk yang ditawarkan. Penyuluhan dilakukan di kantor Sekretariat RT 036 Taman melalui tatap muka pada 7 April 2017 sampai dengan 6 Mei 2017, yang dimulai dengan pengantar, dilanjutkan dengan presentasi teori, pelaksanaan praktik, dan diakhiri dengan pembahasan hasil. Setelah diberi penyuluhan, peserta memahami bahwa kamera handphone memiliki kemampuan lebih yang dapat menghasilkan foto dengan kualitas lebih baik. Dipadukan dengan peralatan studio mini sederhana, foto produk mereka pun menjadi lebih layak untuk ditampilkan. Selain itu, peserta pun mulai mengerti bahwa untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris, kosa kata-lah yang memegang peranan lebih penting. Dengan demikian, peserta kemudian merasa lebih percaya diri dalam berlatih bahasa Inggris, karena bagi mereka lebih mudah untuk mempelajari dan menghafalkan kosa kata, dibandingkan harus mempelajari grammar. AbstractRT 036, Taman is a kampong located directly aside from Taman Sari Yogyakarta, an international tourist spot. The kampong residents trade in products correlates with local tourism. They sell their merchandises in their own display houses or through online shops. This workshop is meant to give a practical photography knowledge, specializing in product photo without the need to use high tech and complex photography equipment, to improve the quality of the photo products they displayed in online shops. On the other hand, this workshop also aims to give practical English education, more importantly with things related for tour guide conversation needs and to give concise yet clear and effective product description at online shops so that prospective international buyers get the neccessary information from the offered products. This workshop is done on site in RT 036 Secretary office at April 7 to May 6, 2017, that began with an introduction, theory presentation, practice, and ended with results discussion. After workshop, participants understand that phone camera is sufficient to generate a good quality photo. Combined with simple mini studio equipment, their photo product looks more professional to be presented. Not only that, participants are also able to communicate in simple English, with the vocabularies playing the biggest factor. Thus, participants are more confident in practicing their English skill as it is easier for them to memorize vocabulary than to study grammar.
Pengaplikasian Fotografi dan Bahasa Inggris Praktis untuk Warga “Kampung Cyber”, RT 36, Taman, Yogyakarta Ermawati, Pitri; Arsita, Adya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4710

Abstract

RT 036, Taman  merupakan sebuah kampoung yang letaknya bersebelahan dengan objek wisata Taman Sari Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Warga kampung ini banyak yang memiliki usaha dagang produk yang bersinergi dengan pariwisata lokal. Mereka menjual barang dagangan tersebut di ruang pajang rumah masing-masing atau melalui media jualan online. Penyuluhan ini bermaksud memberikan pengetahuan fotografi praktis, khususnya pemotretan foto produk tanpa perlu menggunakan piranti fotografi yang canggih dan lengkap, guna meningkatkan kualitas foto produk yang mereka jual di media jualan online. Selain itu, penyuluhan ini juga bermaksud memberikan pengetahuan bahasa Inggris praktis, khususnya yang berkenaan dengan komunikasi warga selaku tour guide dan deskripsi profil usaha serta produk jualan online yang singkat, padat, jelas, dan efektif agar calon konsumen mancanegara mendapatkan panduan informasi tentang produk yang ditawarkan. Penyuluhan dilakukan di kantor Sekretariat RT 036 Taman melalui tatap muka pada 7 April 2017 sampai dengan 6 Mei 2017, yang dimulai dengan pengantar, dilanjutkan dengan presentasi teori, pelaksanaan praktik, dan diakhiri dengan pembahasan hasil. Setelah diberi penyuluhan, peserta memahami bahwa kamera handphone memiliki kemampuan lebih yang dapat menghasilkan foto dengan kualitas lebih baik. Dipadukan dengan peralatan studio mini sederhana, foto produk mereka pun menjadi lebih layak untuk ditampilkan. Selain itu, peserta pun mulai mengerti bahwa untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris, kosa kata-lah yang memegang peranan lebih penting. Dengan demikian, peserta kemudian merasa lebih percaya diri dalam berlatih bahasa Inggris, karena bagi mereka lebih mudah untuk mempelajari dan menghafalkan kosa kata, dibandingkan harus mempelajari grammar. AbstractRT 036, Taman is a kampong located directly aside from Taman Sari Yogyakarta, an international tourist spot. The kampong residents trade in products correlates with local tourism. They sell their merchandises in their own display houses or through online shops. This workshop is meant to give a practical photography knowledge, specializing in product photo without the need to use high tech and complex photography equipment, to improve the quality of the photo products they displayed in online shops. On the other hand, this workshop also aims to give practical English education, more importantly with things related for tour guide conversation needs and to give concise yet clear and effective product description at online shops so that prospective international buyers get the neccessary information from the offered products. This workshop is done on site in RT 036 Secretary office at April 7 to May 6, 2017, that began with an introduction, theory presentation, practice, and ended with results discussion. After workshop, participants understand that phone camera is sufficient to generate a good quality photo. Combined with simple mini studio equipment, their photo product looks more professional to be presented. Not only that, participants are also able to communicate in simple English, with the vocabularies playing the biggest factor. Thus, participants are more confident in practicing their English skill as it is easier for them to memorize vocabulary than to study grammar.
DESKRIPSI ETNOGRAFIS KEBIASAAN MENGINANG DI GUNUNGKIDUL DALAM FOTO DOKUMENTER Yahya, Anisa Suryani; Ermawati, Pitri
specta Vol 8, No 1 (2024): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v8i1.12188

Abstract

Deskripsi etnografis mengenai kebiasaan menginang di Dusun Surulanang, Karangduwet, Paliyan, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta bertujuan untuk mendapatkan hasil visual yang sesuai dengan realitas dalam foto dokumenter. Metode etnografi dilakukan secara bertahap dari studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara, dan pembuatan catatan lapangan etnografi. Etnografi dipilih untuk melihat cara hidup masyarakat secara lebih akurat dan lebih sesuai dengan realitas yang ada. Realitas yang dimaksud adalah kebiasaan menginang. Menginang di sini dimaknai sebagai kegiatan mengunyah daun sirih, injet, gambir, serta tembakau sebagai pelengkap untuk menyusur. Mbah Mudi (84 Tahun) dan Mbah Mi (66 Tahun) dipilih untuk mewakili para penginang yang ada, dengan kesenjangan usia yang cukup jauh bisa menjadi pembanding dalam melihat kebiasaan menginang yang tidak berubah dari waktu ke waktu. Pembahasan karya foto dengan deskripsi etnografis menelaah lebih dalam mengenai kebiasaan ini dilihat dari alat dan bahan, penggunaan dalam kehidupan, serta dampak bagi penginang. Ethnography Description of Betel Quid Chewing Habit in Gunungkidul in Documentary Photography. Etnography description about the habit of the betel quid chewing in Surulanang, Karangduwet, Paliyan, Gunungkidul, Special Region of Yogyakarta, aims to obtain visual results that align with reality in documentary photography. The ethnographic methods were carried out in stages, starting with literature review, participatory observation, interviews, and ethnographic field notes. Ethnography was chosen to accurately observe the way of life of the community and to reflect the reality more closely.  Reality is understood as the betel-chewing habit.  This activity is defined as the activity of chewing betel, limestone, gambir, and tobacco as complements for oral cleaning. Mbah Mudi (84 years old) and Mbah Mi (66 years old) were selected to represent the chewers, with significant age gap serving comparison in observing the unchanged habit of betel quid chewing over time. The ethnographic descriptions used to examine further information for the photo reviews, including tools and materials that are used in daily life, and also the impact for the chewers.