Swandito Wicaksono
Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu, Bengkulu, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK) PADA PASIEN RAWAT INAP DI INTENSIVE CARDIOVASCULAR CARE UNIT (ICCU) RSUD DR M YUNUS BENGKULU Swandito Wicaksono
Kesmas Indonesia Vol 12 No 1 (2020): Jurnal Kesmas Indonesia
Publisher : Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.087 KB) | DOI: 10.20884/1.ki.2020.12.1.1662

Abstract

ABSTRAK Di Indonesia penyakit jantung cenderung meningkat sebagai penyebab kematian. Data yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu pada tahun 2012 tercatat angka kejadian penyakit jantung koroner di Provinsi Bengkulu mencapai angka 283 kasus. Oleh karena itu upaya pencegahan PJK sangat bermanfaat karena sudah pasti lebih murah dan lebih efektif. Dengan demikian mengetahui faktor-faktor risiko penyebab PJK menjadi penting sehingga dapat dilakukan diagnosis dengan baik disertai pencegahan penyakit tersebut ke depannya. Sampel pada penelitian ini adalah semua penderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang menjalani rawat inap di Intensive Cardiovascular Care Unit (ICCU) yang tercatat di rekam medik RSUD M Yunus, Bengkulu periode Oktober - November 2015. Rancangan penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan melakukan pengamatan langsung, wawancara dan dokumentasi.
PENGARUH PEMBERIAN SPIRULINA PERORAL YANG DIBERI CCL4 TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ DARAH TIKUS PUTIH Swandito Wicaksono
Jurnal Kesehatan Vol 12 No 2 (2019): JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/kesehatan.v12i2.9829

Abstract

Free radical is Carbon Tetra Chloride, which is organic toxic solution through liver, heart, and kidneys. Spirulina is green-blue algae which photosynthetic microalgae, spiral-shape, multicelullar and chemic-riched and able to correct body’s damage by free radicals, for instance Beta Carotene, amino acids, Gamma Linolenic Acid (GLA). The aims of this research is to discover whether Spirulina can correct kidneys function from CCl4-induction on white rats (Rattus norvegicus) with weight ±300 gram. Decreasing kidneys fungtion was evaluated by increasing blood ureum and creatinine levels. ANOVA analysis performed that CCl4 effect blood ureum and creatinin (p<0,05). Spirulina at dose 3,471 ml/300gr body weight was the most effective through correction kidneys function.ABSTRAKRadikal bebas Carbon Tetra Chloride merupakan pelarut organik yang bersifat toksik terhadap hati, jantung, dan ginjal. Spirulina adalah alga hijau-biru yang merupakan mikroalga fotosintetik, berbentuk spiral, multiseluler dan kaya senyawa kimia yang dapat memperbaiki berbagai kerusakan di dalam tubuh yang disebabkan karena radikal bebas, seperti Beta Carotene, Asam Amino, Gamma Linolenic Acid (GLA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari Spirulina yang dapat memperbaiki kerusakan fungsi ginjal akibat induksi CCl4 pada tikus putih dilihat dari kadar ureum dan kreatinin darah. Penurunan fungsi ginjal terjadi pada hari pertama setelah aklimatisasi. Penurunan fungsi ginjal dapat dilihat dari kenaikan kadar ureum dan kreatinin darah. Hasil uji ANOVA pemberian CCl4 berpengaruh terhadap kenaikan ureum dan kreatinin darah (p<0,05). Spirulina 3,471 ml /300grBB merupakan dosis paling efektif dalam memperbaiki fungsi ginjal.
Pengaruh Latihan Fisik terhadap Penyakit Diabetes Melitus Tipe II: Fokus pada Telomer Thressia Hendrawan; Swandito Wicaksono
UMI Medical Journal Vol 5 No 2 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i2.95

Abstract

Telomer merupakan bagian penting dalam penyimpanan informasi dalam kromosom kita. Setiap pembelahan sel, telomer akan mengalami pemendekkan dan akan memberikan suatu signal bahaya pada saat mencapai batas tertentu. Selain dari pemendekkan sel, ada berbagai macam hal yang bisa menyebabkan pemendekan telomer. Gaya hidup sedenter, kebiasaan merokok, indeks masa tubuh yang tinggi, dan penyakit-penyakit kronis lain sering memberikan efek pada panjang telomer. Banyak penelitian yang menyatakan Latihan fisik dapat berpotensi untuk menahan proses pemendekkan telomer. Ada berbagai mekanisme molekuler yang terkait dengan permasalahan maupun solusi yang ada dalam latihan fisik tersebut. Pencegahan penyakit metabolik telah banyak dikaitkan dengan latihan fisik. Penuaan sel yang dapat ditahan oleh aktivitas fisik maupun latihan fisik dapat menjadi salah satu jalur yang dapat dipikirkan mengenai mekanisme molekuler tersebut.
ANGKA KEJADIAN PENINGKATAN TEKANAN DARAH (HIPERTENSI) PADA LANSIA DI DUSUN 1 DESA KEMBANGSERI KECAMATAN TALANG EMPAT BENGKULU TENGAH TAHUN 2015 Swandito Wicaksono
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Kedokteran Raflesia
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v5i1.8765

Abstract

Peningkatan usia merupakan salah satu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi untuk kejadian hipertensi. Di Bengkulu belum ada data mengenai berapa jumlah lansia yang menderita hipertensi. Peneliti ingin memulai dengan menganalisis angka kejadian hipertensi pada lansia di Kecamatan Talang Empat Bengkulu Tengah. Dari hasil analisis didapatkan jumlah lansia sebanyak 32 orang. Usia lansia terbanyak adalah usia pertengahan sebanyak 18 orang. Proporsi prevalensi kejadian hipertensi 68,75%. Proporsi lansia yang mengalami hipertensi tertinggi pada usia 60-74 tahun (75%) dan laki-laki (81,81%). Hasil analisis bivariat didapatkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur (p=0,0944) dan jenis kelamin (p=0,2483) dengan kejadian hipertensi.
HUBUNGAN DURASI PENGGUNAAN KOMPUTER DAN JARAK MATA DENGAN MONITOR KOMPUTER TERHADAP KEJADIAN COMPUTER VISION SYNDROME (CVS) PADA KARYAWAN DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS BENGKULU TAHUN 2020 Maria Yolanda; Reyno Satria Ali; Swandito Wicaksono
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30118

Abstract

Latar Belakang: Computer Vision Syndrome (CVS) didefinisikan sebagai kumpulan gejala okuler yang beragam seperti kelelahan pada mata, nyeri kepala, penglihatan kabur, mata kering serta gejala lainnya seperti nyeri pada leher dan punggung yang berhubungan dengan penggunaan komputer dalam waktu yang cukup lama. Penggunaan komputer secara terus-menerus dan jarak mata dengan monitor komputer yang tidak ideal dapat menyebabkan CVS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi penggunaan komputer dan jarak mata dengan monitor komputer terhadap kejadian CVS. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Subjek terdiri dari 69 karyawan pada delapan fakultas di Universitas Bengkulu yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Data gejala CVS dan durasi penggunaan komputer diperoleh dari Computer Vision Questionnaire serta pengukuran jarak mata dengan monitor komputer secara langsung terhadap subjek. Selanjutnya data penelitian dianalisis menggunakan uji chi square, fisher's exact test dan uji regresi logistik. Hasil: Prevalensi kejadian CVS pada subjek sebanyak 49 karyawan (71%). Uji statistik antara variabel terhadap kejadian CVS didapatkan hasil, yaitu durasi penggunaan komputer > 2 jam (p=0,048; OR=3,977) dan jarak mata dengan monitor komputer < 50 cm (p=0,013; OR=7,787) Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan komputer terhadap kejadian CVS dan terdapat hubungan yang signifikan antara jarak mata dengan monitor komputer terhadap kejadian CVS. Dengan durasi penggunaan komputer > 2 jam berisiko 3,977 kali lipat daripada pengguna komputer ≤ 2 jam. Jarak mata dengan monitor komputer < 50 cm berisiko 7,787 daripada jarak mata dengan monitor komputer ≥ 50 cm. Kata Kunci: CVS, durasi penggunaan komputer, jarak mata dengan monitor komputer.