Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENGGUGAT PERCERAIAN: KEKERASAN GENDER DALAM PRAKTEK PAULAKHON PADA MASYARAKAT BATAK TOBA Donny Siburian
SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya Vol 23 No 2 (2021): SOSIOLOGI: Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya
Publisher : Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sosiologi.v23i2.111

Abstract

Dalam budaya Batak yang patrilineal laki-laki memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Kepemilikian anak laki merupakan salah satu hal yang amat penting untuk melangsungkan kelanjutan eksistensi marga. Perempuan dalam sebuah pernikahan tidak dapat dilepaskan dari peran reproduksi untuk menjamin ketersediaan laki-laki dalam garis keturunan masyarakat Batak, itu menjadikan perempuan sering berada dalam ketegangan pada sebuah ikatan pernikahan dan menjadi beban tersendiri. Fenomena paulakhon menjadi salah satu praktek perceraian yang terdapat pada masyarakat Batak manakala perempuan dinilai gagal melakukan perannya dalam reproduksi anak laki-laki. In the patrilineal Batak culture, men have a higher status than women. The ownership of a son is one of the most important things for the continuation of the clan existence. Women in a marriage cannot be separated from their reproductive roles to ensure the availability of men in the lineage of Batak society, this makes women often under tension in a marriage bond and become a burden in themselves. The paulakhon phenomenon is one of the divorce practices found in Batak society when women are considered to have failed to carry out their role in the reproduction of a son.
TINGKAT STRESS DALAM MASA PANDEMI COVID-19 Donny Siburian
Jurnal Abdi Ilmu Vol 15 No 2 (2022): Jurnal Abdi Ilmu
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pandemi Covid 19 telah menjadikan banyak aspek kehidupan manusia berubah menyesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi. Pendidikan jarak jauh melalui jaringan (PJJ) sebagai cara yang dianggap paling relvan oleh pemerintah nyatanya memberikan sebuah fenomena baru ditengah-tengah pelajar. Mulai dari berdampak pada tingkat stress yang tinggi hingga berujung pada tindakan bunuh diri. Analisis sosiologis dalam tulisan ini berupaya mengeksplorasi secara kualitatif dan memberikan penjelasan terhadap fenomena bunuh diri di kalangan pelajar pada masa pandemic Covid 19 dengan menggunakan studi kasus dan teori bunuh diri oleh Emile Durkheim. Temuan memperlihatkan bahwa bunuh diri terjadi karena adanya gejala sosial yang terjadi dimana apabila seseorang tidak mampu mengikuti arus sosial atau perubahan. The COVID-19 pandemic has changed many aspects of human life according to the current situation. Long Distance education through the online network (PJJ) has been considered as the most relevant by the government to the education system in fact it provides a new phenomenon among students. Starting from the impact on high stress levels that lead to suicide. The sociological analysis in this paper is trying to explore by qualitative approach and provide an explanation of the phenomenon of suicide among students during the Covid 19 pandemic by using the case studies and the theory of suicide by Emile Durkheim. The result shows that suicide occurs as social symptoms that occur when a person is not able to follow social currents or changes.