Pengendalian hama menggunakan insektisida hayati Bacilus thuringiensis dan cuka kayu pinus merupakan salah satu cara pengendalian hama yang rarnah lingkungan, karena sifatnya yang mudah terurai. Insektsidiajenis ini telah banyak dikembangkan di sektor pertaniandan perkebunan, sedangkan di sektor kehutanan belum banyak dilaksanakan. Untuk mengendalikan harna Shorea spp. dilakukan percobaan dengan menggunakan insektisida hayati yang berbahan aktif Bacilus thuringiensis yang memproduksizat-zat sangat beracun bagi larva serangga, di antara racun ini yang penting adalah delta• endotoksin yang berbentuk kristal dan cuka kayu pinus yang mengandung senyawa kirnia seperti pada umurnnya insektisida pembunuh hama. Percobaan pengendaliannya dilakukan di laboratorium dan lapangan dengan berbagai konsentrasi B. thuringiensis (1 gr/I, 2 gr/1, 3 gr/I, 4 gr/I, dan 5 gr/I) dan cuka kayu pinus (10 cell, 20 cell, 30 cc/I, 40 cell, dan 50 cc/I), dengan rancanganpercobaan RAL di laboratoriwn dan RCBD di Iapangan. Parameter yang diarnati adalah persentase kesembuhan tanaman dari serangan harna setelah perlakuan insektisida hayati Bacilus thuringiensis dan cuka kayu pinus dalam beberapa dosis. Harna yang menyerang tanaman Shorea leprosula di lapangan adalah kumbang Exopholis hypoleuca (Coleoptera, Melolonthidae). Hamayang menyerang anakan S. leprosula dan S. selanica di pesernaian adalah ulat Orgyia sp. (Lepidoptera, Lyrnantriidae). Pengendalian harna ulat Orgyia sp. di tingkat laboratorium dengan menggunakancuka kayu pinus dengan takaran 50 cc/1 dan B. thuringiensis dengan takaran 5 gr/I efektif. Pengendalian hama kwnbang E. hypoleuca yang menyerang S. leprosula di lapangan dengan menggunakan cuka kayu pinus dengan takaran 40 cc-50 cc/I efektif. Pengendalian harna ulat Orgyia sp. di pesernaian dengan menggunakan B. Thuringiensis dengan takaran 4-5 gr/I efektif.