I Komang Surata
Balai Penelitian Kehutanan Kupang Jl. Untung Surapati No. 7 (Blk) Po Box 69, Telp. 0380-823357; Fax. 0380-831068

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMANFAATAN IRIGASI TETES UNTUK PENANAMAN CENDANA (Santalum album L.) DI LAHAN KRITIS BANAMBLAAT, PULAU TIMOR, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR I Komang Surata
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.2.129-138

Abstract

Dewasa ini keberhasilan tumbuh tanaman cendana (Santalum album L.) pada lahan kritis di daerah savana kering Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dirasakan masih rendah (kurang dari 20 %). Hal ini disebabkan tanaman cendana pada awal penanaman di lapangan belum beradaptasi dengan baik, karena masalah kondisi tanahnya marginal dan kekurangan air. Masalah kekurangan air akibat curah hujan yang rendah, waktunya yang pendek, dan turunnya tidak teratur adalah salah satu masalah krusial yang dihadapi setiap tahun. Untuk menangani masalah ini maka teknik pengairan secara konvensional dengan irigasi tetes perlu diterapkan agar tanaman cepat beradaptasi dengan lingkungan dan pertumbuhannya meningkat. Pemanfaatan irigasi tetes dengan menggunakan wadah yang murah dan mudah didapat di lokasi penanaman seperti bambu, bekas botol air mineral, dan pot tanah   perlu mendapatkan pertimbangan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pengaruh pengairan dengan teknik irigasi tetes terhadap pertumbuhan tanaman cendana di lapangan. Metode penelitian yaitu Rancangan Acak Kelompok, dengan perlakuan irigasi tetes sampai umur empat bulan, antara lain: kontrol (tanpa pengairan), pengairan dengan wadah pot tanah, botol plastik, pot bambu, serta tanpa wadah. Perlakuan terdiri dari tiga kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 25 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai umur satu tahun pertumbuhan tanaman cendana nyata lebih baik bilamana pada empat bulan pertama diairi. Pengairan meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, dan persen hidup tanaman. Urutan ranking pertumbuhan yang terbaik-terendah berturut-turut pada perlakuan pengairan dengan menggunakan pot tanah, botol plastik, pot bambu, tanpa wadah, dan terakhir kontrol (tanpa pengairan) dengan persen hidup tanaman masing-masing 89,4 %; 88,9 %; 73,9 %; 60,1 %; dan 15,5 %.
UJI COBA PENANAMAN DUABANGA (Duabanga moluccana Blume) DENGAN SISTEM TUMPANGSARI DI RARUNG, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT UJI COBA PENANAMAN DUABANGA (Duabanga moluccana Blume) DENGAN SISTEM TUMPANGSARI DI RARUNG, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT I Komang Surata
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.4.365-376

Abstract

Duabanga (Duabanga moluccana Blume) merupakan hasil hutan kayu yang sangat  penting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) karena mempunyai produksi dan nilai ekonomi yang cukup tinggi, jenis pohon cepat tumbuh, daur  pendek, dan  merupakan jenis endemik di  NTB. Dewasa ini  populasinya sudah semakin menurun karena eksploitasi yang dilakukan secara terus-menerus tanpa perhitungan, illegal logging, dan keberhasilan regenerasi yang masih rendah, baik melalui pengayaan di kawasan hutan bekas tebangan dan pembuatan  hutan  tanaman.  Oleh  karena  itu  untuk  pengembangan duabanga  perlu  dukungan  teknologi penanaman. Paket teknologi penanaman. yang telah dihasilkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bali dan Nusa Tenggara dalam skala kecil (riset) perlu diujicobakan dalam bentuk plot pengembangan yang lebih luas sebelum dipakai oleh pengguna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi hasil uji coba paket teknologi penanaman  duabanga  dalam skala yang lebih luas dengan sistem tumpangsari. Metode uji coba   menggunakan plot seluas lima ha. Penanaman duabanga dilakukan dengan menggunakan bibit umur enam bulan, jarak tanam 3 m x 3 m.   Penanaman dilakukan dalam  bentuk tiga plot model sistem tumpangsari antara lain  padi ladang (Oryza sativa L.), jagung (Zea mays L.) sampai umur dua tahun, dan talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) sampai umur lebih dari tiga tahun. Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan NPK 120 g/pohon yang dilakukan dua kali yaitu pada umur tiga bulan dan satu tahun.  Penjarangan dilakukan dengan metode  penjarangan bebas yaitu pada umur empat tahun (jarak tanam menjadi 6 m x 6 m) dan  pada umur tujuh tahun (jarak tanam  menjadi 6 m x 9 m). Hasil   uji coba menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman duabanga pada umur 10 tahun setelah tanam dinilai cukup baik, dengan pertumbuhan rata-rata tinggi 15,35 m, diameter 31,28 cm, dan produksi volume kayu 131,56 m3/ha. Pertumbuhan tegakan duabanga setelah penjarangan mengalami pertambahan riap tinggi, diameter, dan produksi kayu.   Produksi   kayu-kayu hasil penjarangan tahun ke-4 sebesar 3,47 m3/ha dan tahun ke-7 sebesar 48 m3/ha. Sedangkan hasil rata-rata produksi  tanaman  tumpang sari padi ladang 762,7 kg/ha, jagung 1.216,85 kg/ha, dan talas 752,25 kg/ha. Penanaman duabanga dengan sistem tumpangsari menurunkan kandungan C-organik, N, dan P sampai  tahun ketiga dan meningkat  pada tahun kelima  dan ketujuh.