Pratiwi Pratiwi
Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENENTUAN DOSIS BAHAN PEMBENAH (AMELIORANT) UNTUK PERBAIKAN TANAH DARI TAILING PASIR KUARSA SEBAGAI MEDIA TUMBUH TANAMAN HUTAN Pratiwi Pratiwi; Erdy Santoso; Maman Turjaman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.2.163-174

Abstract

Sistem pertambangan di Indonesia menerapkan  teknik penambangan permukaan (surface mining), sehingga akibat yang ditimbulkan adalah perubahan lansekap, permukaan tanah, hilangnya lapisan atas tanah serta berubahnya habitat flora dan fauna. Perubahan ini menyebabkan sistem hidrologi dan kestabilan lansekap berubah. Apabila lahan bekas tambang ini tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan permasalahan lingkungan, baik di dalam areal pertambangan (on site) maupun di luar areal penambangan (off site). Hal ini dapat diamati pada kegiatan pertambangan timah di Bangka. Bekas penambangan ini meninggalkan lahan-lahan berupa hamparan tailing pasir kuarsa dan campuran bahan-bahan overburden. Secara umum tingkat kesuburan hamparan tailing bekas tambang timah sangat rendah. Tailing bekas tambang timah umumnya mengandung pasir dan kuarsa yang cukup tinggi sehingga  kapasitas sangga (buffer capacity) terhadap unsur-unsur hara sangat rendah. Dengan demikian diperlukan bahan pembenah (ameliorant) untuk memperbaiki kondisi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan dosis bahan ameliorant untuk perbaikan tanah tailing pasir kuarsa, sehingga dapat digunakan untuk mendukung tanaman hutan. Tanaman indikator yang diperlukan adalah ekaliptus  (Eucalyptus urophylla) dan jabon (Anthocephalus cadamba). Penelitian ini dilakukan di persemaian dengan menggunakan beragam dosis bahan organik, bahan top soil, bahan kapur dan pupuk NPK. Hasil penelitian menunjukkan media tanaman dengan perbandingan 20% bahan organik : 20% top soil : 5% kapur, 1% NPK dan 54% tailing bekas tambang timah (pasir kuarsa) memberikan pertumbuhan cukup bagus terhadap tanaman yang diujicobakan.
APLIKASI TEKNIK KONSERVASI TANAH DENGAN SISTEM RORAK Pratiwi Pratiwi; Andi Gustiani Salim
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.3.273-282

Abstract

Curah hujan yang tinggi dan pengolahan lahan tanpa menerapkan teknik-teknik konservasi tanah menyebabkan tingginya aliran permukaan dan erosi yang menghanyutkan top soil yang kaya unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh aplikasi teknik konservasi tanah dan air (rorak) terhadap pertumbuhan tanaman Gmelina arborea Roxb. Lokasi penelitian adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita.  Rancangan yang digunakan adalah  Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan, yaitu P5 = G. arborea + rorak jarak 5 m; P10 = G. arborea + rorak jarak 10 m; dan P0 = G. arborea + tanpa rorak (kontrol). Analisis data tinggi dan diameter tanaman menggunakan ANOVA, dan untuk parameter lain dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan terbaik tanaman G. arborea dicapai pada P5 dengan rata-rata tinggi dan diameter masing-masing 10,07 m dan 13,21 cm. Pada saat tanaman mencapai umur 3 tahun, pada perlakuan P5 dan P10 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman sedangkan pertumbuhan diameter hanya dipengaruhi oleh P5. Perlakuan P5 juga mampu menekan aliran permukaan dan erosi sebesar 2,07% dan 13,56% dari plot kontrol. Kehilangan unsur hara melalui erosi lebih besar jika dibandingkan melalui aliran permukaan, dan P5 mengalami kehilangan unsur hara paling kecil jika dibandingkan P10 dan P0.
PENGARUH PENERAPAN TEKNIK KONSERVASI TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN PERTANAMAN MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI HUTAN PENELITIAN CARITA, JAWA BARAT Pratiwi Pratiwi; Budi Hadi Narendra
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.2.139-150

Abstract

Mahoni merupakan jenis potensial yang banyak dibudidayakan masyarakat di Jawa Barat. Masyarakat mengusahakan tanaman ini dalam suatu sistem pertanaman dengan kombinasi tanaman pertanian. Kondisi topografi, iklim, dan pengolahan tanah yang intensif menyebabkan kerentanan terhadap penurunan produktivitas lahan akibat aliran permukaan dan erosi yang tak terkendali yang akhirnya berdampak pada pertumbuhan dan produksi tanaman. Kondisi ini dapat dikendalikan dengan menerapkan teknik konservasi tanah seperti penggunaan mulsa vertikal yang mampu mengendalikan aliran permukaan dan erosi serta menjaga kesuburan tanah. Jarak antar saluran mulsa vertikal yang efisien diperlukan guna menekan biaya akibat adanya tambahan sumberdaya yang diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pengaruh penerapan mulsa vertikal dengan jarak antar saluran yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman mahoni (Swietenia macrophylla King) dan produksi jagung (Zea mays L.) serta keefektifannya dalam mengendalikan aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara. Penelitian ini dilaksanakan di Hutan Penelitian Carita pada tahun 2005-2008 dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan yang diterapkan adalah penggunaan mulsa vertikal berinterval enam dan 12 meter pada plot sistem pertanaman mahoni dan jagung. Pengamatan meliputi pertumbuhan tinggi dan diameter mahoni, erosi dan limpasan permukaan, kehilangan unsur hara, dan biaya yang diperlukan untuk tiap luasan satu hektar. Hasil penelitian menunjukkan mulsa vertikal berinterval enam meter mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman mahoni masing-masing sebesar 25% dan 66% terhadap kontrol. Pada perlakuan tersebut, limpasan permukaan dan erosi dapat ditekan hingga setengahnya, dan kehilangan unsur hara akibat limpasan permukaan dan erosi menjadi berkurang masing-masing hingga tiga dan lima kali lipat. Pola tersebut menghasilkan produksi jagung terbesar yaitu 581 kg/ha/th atau 47% lebih tinggi bila tanpa mulsa vertikal dan biaya yang dibutuhkan dalam satu hektar adalah Rp 3.250.000,- atau lebih mahal Rp 250.000,- jika tidak menggunakan mulsa vertikal.