N. M. Heriyanto
Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GANGGUAN SATWALIAR DI LAHAN PERTANIAN SEKITAR TAMAN NASIONAL MERU BETIRI, JAWA TIMUR N. M. Heriyanto; Abdullah Syarief Mukhtar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.1.55-63

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2007 di sekitar perkebunan Bandealit, Jember, Jawa Timur bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang besarnya nilai kerugian masyarakat akibat gangguan dari satwaliar yang keluar dari taman nasional. Hasil penelitian menunjukkan, jenis satwaliar yang keluar dari kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dan paling merusak tanaman masyarakat, yaitu banteng (Bos javanicus d’Alton, 1832), babi hutan (Sus scrofa Linnaeus, 1758) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Linnaeus, 1821). Secara umum kerugian masyarakat akibat dari gangguan satwaliar berkisar antara 34% sampai 50% dari produksi tanaman pertanian, jenis komoditi padi ladang (Oryza sativa L.) dan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) paling banyak mengalami kerugian, yaitu sebesar Rp. 1.372.500,- dan Rp. 1.065.000,. Masyarakat yang menjadi responden (60 kepala keluarga dari 190 kepala keluarga petani penggarap) merasa takut dan khawatir bila tanaman mereka diganggu satwaliar sebanyak 90% dari gangguan banteng, 40% dari gangguan babi hutan dan 20% dari gangguan monyet ekor panjang. Salah satu cara penanggulangan dari gangguan satwaliar yang dilakukan oleh masyarakat sekitar taman nasional, yaitu : melakukan pengamanan dan penjagaan, baik siang maupun malam, menanami di batas taman nasional dengan tanaman berduri dari jenis lokal dan pemagaran dengan bambu/kayu bernilai konservasi yang dapat tumbuh di kebunnya masing-masing. 
KEMAMPUAN Avicennia marina (Forsk.) Vierh. DAN Rhizophora apiculata Bl. DALAM PENYERAPAN POLUTAN LOGAM BERAT Endro Subiandono; M. Bismark; N. M. Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.1.93-102

Abstract

Penelitian kemampuan tegakan mangrove dalam menyerap polutan logam berat Mn, Zn, Cr, dan Cd dilakukan terhadap Avicennia marina (Forsk.) Vierh. dan Rhizophora apiculata Bl. hasil rehabilitasi di kawasan tambak di Demak, Jawa Tengah dan kawasan pantai di Suwung, Bali. Bahan penelitian berupa air terpolusi, tanah, bagian tumbuhan mangrove, dan fauna air yang diambil dalam plot yang berjarak 0-500 m, 500-1.000 m, dan > 1.000 m dari sumber pencemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air sungai untuk tambak dan air laut yang diteliti mempunyai kadar logam berat masih di bawah ambang batas, namun logam berat tersebut terakumulasi dalam tanah sedimen substrat tempat tumbuh A. marina dan R. apiculata. Perbandingan konsentrasi Mn, Zn, Cr, dan Cd dalam tanah tambak adalah 78 : 13 : 0,2 : 1, sedangkan di pantai 127 : 52 : 2,2 : 1. Penurunan konsentrasi rata-rata logam berat pada jarak 1.000 m dari sumber pencemar relatif kecil di kawasan tambak (12%) dan di pantai rata-rata mencapai 55%. Akumulasi Mn dan Zn tertinggi pada daun dan akar A. marina, Cr dan Cd tersebar merata pada bagian tumbuhan. Mn lebih terakumulasi pada bagian batang dan daun R. apiculata, sedangkan Zn tersebar merata di akar, batang, dan daun. Kemampuan menyerap keempat logam berat lebih baik pada R. apiculata. Selain itu diketahui bahwa parameter penentuan kemampuan penyerapan logam berat lebih baik berdasarkan kadar yang ada dalam daun. Rendahnya kadar logam berat dalam air sebagai hábitat fauna air mengakibatkan konsentrasi pada jaringan ikan bandeng (Chanos chanos (Forssk, 1775)), udang (Penaeus monodon Fabricius, 1798), dan kepiting (Uca pugnax (S.I. Smith, 1870) masih di bawah ambang batas.
KANDUNGAN LOGAM BERAT DAN PLANKTON PADA EKOSISTEM TAMBAK BERMANGROVE DAN TAMBAK TANPA MANGROVE (Kasus di Tegal Tangkil, Cikiong, Poponcol, dan Kedung Peluk) N. M. Heriyanto; Sri Suharti
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.2.121-133

Abstract

Penelitian kualitas lingkungan tambak bermangrove dan tanpa mangrove serta kemampuannya menyerap polutan telah dilakukan dari bulan Juli-Desember 2011, bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kandungan logam berat pada mangrove, air, tanah, dan ikan/udang. Lokasi penelitian ada empat, tiga di KPH Purwakarta Jawa Barat, yaitu Tegal Tangkil, Cikiong, Poponcol dan satu di Sidoarjo, Jawa Timur yaitu Kedung Peluk.Hasil penelitian menunjukkan akumulasi Pb (timah), Cu (tembaga), dan As (arsen) pada jenis Avicenia marina (Forsk.) Vierh. terbesar di bagian daun, Zn (seng) dan Hg (merkuri) pada bagian akar. Akumulasi kelima zat pencemar (Cu, Hg, Pb, Zn, dan As) terbesar pada substrat tambak yang tidak bermangrove, Cu dan Zn tertinggi sebesar 650,31 ppm di Tegal Tangkil dan 845,24 ppm di Poponcol. Umumnya kualitas perairan tambak bermangrove lebih baik bila dibandingkan dengan tambak tanpa mangrove, hal ini ditunjukkan oleh sifat kimia dan fisika air tersebut. Kandungan deterjen (MBAS) di Kedung Peluk dan Poponcol pada tambak tidak bermangrove di atas baku mutu yang diperbolehkan untuk budidaya ikan.  Kandungan zat pencemar Pb pada ikan bandeng (Chanos chanos (Forsskl, 1775) 6,60 ppm lebih besar tiga kali di atas ambang batas (2 ppm), pada udang sebesar 3,88 ppm di lokasi tambak Tegal Tangkil tanpa mangrove. Akumulasi Zn pada ikan bandeng dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus (w.Peters) 1852, baik di tambak bermangrove maupun tidak bermangrove di Tegal Tangkil, Kedung Peluk, dan Poponcol melebihi ambang batas yang diperkenankan. Keragaman jenis plankton di lokasi penelitian bermangrove dan tidak bermangrove termasuk kategori miskin karena nilai indeks keragaman (H’) kurang dari dua. Indeks keseragaman (E) perairan mangrove Tegal Tangkil memiliki nilai yang relatif sama dengan perairan mangrove Kedung Peluk  (0,175 dan 0,172). Indeks dominansi plankton tertinggi  0,368 di Tegal Tangkil.