Rayan Rayan
Balai Besar Penelitian Dipterokarpa Jl. A. Wahab Syahrani, Sempaja – Samarinda Telp. (0541) 206364 Fax. (0541) 742298

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBIAKAN VEGETATIF STEK JENIS Koompassia excelsa (Becc.) Taub. SISTEM KOFFCO Rayan Rayan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.141-146

Abstract

Koompassia excelsa (Becc.) Taub. adalah salah satu jenis tumbuhan inang penghasil madu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai penghasil anakan jenis Koompassia excelsa (Becc.) Taub. dengan pembiakan vegetatif stek dengan sistem KOFFCO. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balai Besar Penelitian Dipterokarpa Samarinda, dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 2 x 3 dan 3 kali ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 30 bahan stek. Faktor pertama 2 taraf  yaitu S0 = stek pucuk dan S1 = stek batang. Faktor yang kedua adalah zat perangsang akar yang terdiri dari 3 taraf yaitu P0 = tanpa zat perangsang akar (kontrol), P1 = pemolesan zat perangsang akar Rootone-F, dan P2 = perendaman bagian stek dengan zat perangsang akar atonik selama 1 jam dengan konsentrasi larutan 100 ml/1liter air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase stek menjadi anakan secara keseluruhan adalah sebesar 82,4% dari stek yang diakarkan. Perlakuan stek batang meghasilkan anakan sebanyak 76% dan stek pucuk 88,67% dan setelah dianalisis kedua perlakuan tersebut di atas berpengaruh sangat nyata. Sedangkan hasil yang diperoleh dari perlakuan pemberian zat perangsang akar  Rootone-F dengan cara dioles, perendaman bagian stek yang akan tumbuh akar pada larutan atonik dengan konsentrasi 100 mml/liter air selama 1 jam dan kontrol stek menjadi anakan berturut-turut sebanyak 80%, 84%, dan 83%, dan setelah dianalisis tidak berbeda nyata.
PENGUMPULAN BIJI DAN PERKECAMBAHANNYA SELAMA SATU PERIODE JATUHNYA BIJI DARI POHON INDUKNYA DAN PENUNDAAN PENGECAMBAHAN BIJI Aquilaria microcarpa Baill. DI PERSEMAIAN Rayan Rayan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.203-210

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kualitas perkecambahan biji jenis Aquilaria microcarpa Baill. berdasarkan periode jatuhnya biji. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial 2 x 7. Faktor pertama adalah media kecambah dengan  perlakuan media pasir tanpa endomikoriza (E0), media pasir dengan endomikoriza (E1). Faktor kedua interval waktu pengumpulan biji dengan  perlakuan P1 (pengumpulan biji hari ke-3), P2 (pengumpulan biji hari ke-5), P3 (pengumpulan biji hari ke-7), P4 (pengumpulan biji hari ke-10), P5 (pengumpulan biji hari ke-13), P6 (pengumpulan biji hari ke 17), dan P7 (pengumpulan biji hari ke-24); dan penundaan pengecambahan biji  menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan PW0 (biji yang langsung dikecambahkan), PW1 (pengecambahan biji tertunda 10 hari),  PW2   (pengecambahan  biji  tertunda  12  hari),  dan  PW3  (pengecambahan  biji  tertunda  17  hari). Pengumpulan  biji dilaksanakan pada  pohon  induk  yang  tumbuh  di Arboretum  Sempaja, sedangkan pengecambahan biji dilakukan di persemaian Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Hasil yang diperoleh secara keseluruhan   rata-rata  daya kecambah biji jenis  A.  microcarpa sebesar 74,76%. Perlakuan E0 menghasilkan rata-rata daya kecambah 75,55% sedangkan E1 73,79%, dan setelah diuji secara statistik  tidak berbeda nyata. Perlakuan interval waktu pengumpulan biji berbeda sangat nyata terhadap rata-rata daya kecambahnya. Setelah diuji lebih lanjut perlakuan P6, P7, P5, dan P1 dengan rata-rata daya kecambah berturut- turut 60,55%, 64,44%, 70%, dan 71,11%, tidak berbeda nyata. Perlakuan ini menghasilkan biji yang bermutu kurang baik, karena biji-biji tersebut rata-rata  daya kecambahnya lebih kecil dari rata-rata keseluruhan daya kecambah selama satu periode jatuhnya biji dari pohon induknya yaitu 74,76%. Biji-biji yang berkualitas lebih baik adalah biji yang rata-rata daya kecambahnya lebih besar dari 74,76 %, di antaranya  biji-biji yang diperoleh  dengan  perlakuan  P4  dengan  rata-rata  daya  kecambah yang  dihasilkan  sebesar  79,45%, P2 (87,78%), dan P3 (90%). Hasil perlakuan penundaan pengecambahan biji dari perlakuan PW0, disusul PW1, PW2, dan PW3 dicapai rata-rata daya kecambah berturut-turut 88,89%, 31,11%, 25,56%, 15,56%, dan setelah diuji dengan statistik menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan PW0  dibandingkan dengan PW1, PW2, dan PW3  berbeda sangat nyata tetapi perlakuan antara PW1, PW2, dan PW3  tidak berbeda nyata.