Erdy Santoso
Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Jl. Gunung Batu No. 5 Po Box 165; Telp. 0251-633234, 7520067; Fax 0251-638111 Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBENTUKAN GAHARU DAN KOMPOSISI SENYAWA RESIN GAHARU PADA Aquilaria spp. Erdy Santoso; Luciasih Agustini; Irnayuli R. Sitepu; Maman Turjaman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.6.543-551

Abstract

Gaharu terjadi melalui proses patologis yang unik akibat respon terhadap infeksi jamur pada pohon pembentuk gaharu, seperti Aquilaria spp.   Pembentukan gaharu ditandai oleh proses pencoklatan jaringan batang pada area terinfeksi akibat akumulasi resin, yaitu metabolit sekunder yang merupakan senyawa penentu kualitas gaharu. Standar untuk menentukan kualitas resin gaharu masih sulit ditemukan. Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang efektivitas 14  jamur pembentuk gaharu dalam membentuk gejala kecoklatan pada gaharu dari jenis Aquilaria spp. dan komposisi resin pada gaharu alami dan buatan. Fusarium solani Ga-7a adalah jamur yang paling efektif dalam menginduksi gejala kecoklatan secara vertikal, yaitu 12,7 cm, tetapi dua jamur: F. solani Ga-4a dan Cylindrocarpon sp. Ga-8b menghasilkan jarak kecoklatan terpendek, yaitu 2,23 dan 2,13 cm. Jarak horizontal terlebar didapat pada batang yang diinduksi oleh F. solani  Ga-4b and F. triticum Ga-3, yaitu 3,27 dan 3,03 cm. Cylindrocarpon sp. Ga-8b menghasilkan jarak yang paling sempit, yaitu 1,50 cm. Analisis dengan gas chromatography mass spectrophotometry mengindikasikan bahwa kelas kamedangan alami terdiri dari 120 senyawa resin dan umumnya  tergolong  sesquiterpenoid (C 15 ) atau senyawa turunannya. Enam dari isolat yang diujikan berpotensi menginduksi senyawa methyl-hexadecanoate dan/atau palmitic acid; hexadeconoic acid, yang memiliki kemiripan yang rendah dengan senyawa dari kelas kamedangan. Penelitian selanjutnya pengaruh faktor biotik dan abiotik dalam pembentukan gaharu artifisial seyogyanya segera dilakukan.
KOLONISASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA BIBIT TANAMAN PENGHASIL GAHARU Erdy Santoso; A.W. Gunawan; Maman Turjaman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.5.499-509

Abstract

Tanaman penghasil gaharu termasuk jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan keberadaannya sangat penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, tetapi beberapa jenis tanaman penghasil gaharu telah mengalami kepunahan disebabkan pemanenan di alam yang berlebihan.  Ada usaha  peningkatan  dalam  penyediaan  bibit  Aquilaria  microcarpa  Baill  tetapi  tidak  cukup   dalam meningkatkan jenis HHBK tersebut dan dalam meningkatkan promosi  konservasi hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang pengaruh lima jenis cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam meningkatkan pertumbuhan awal Aquilaria microcarpa Baill.   Bibit Aquilaria microcarpa Baill diinokulasi oleh Entrophospora sp. Ames & Scheneider, Glomus sp. ACA Tulasne & Tulasne,  Glomus sp. ZEA Tulasne & Tulasne,  Glomus clarum Nicholson & Schenk, Gigaspora decipiens Hall & Abbott, dan kontrol (tidak diinokulasi) pada kondisi di persemaian. Paramater yang diukur adalah kolonisasi CMA, pertumbuhan tanaman, kandungan dan serapan N atau P pada jaringan tanaman sampai tanaman berumur 25 minggu.  Kolonisasi CMA pada akar Aquilaria microcarpa  Baill adalah 71-93 %.  Kolonisasi CMA  telah meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan berat kering.  Serapan N dan P jaringan tanaman juga meningkat pada tanaman yang dikolonisasi oleh CMA.    Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa CMA dapat membantu dalam penyediaan bibit Aquilaria microcarpa   Baill yang vigor dan selanjutnya berimplikasi dalam upaya konservasi dan meningkatkan penyediaan produk hasil hutan bukan kayu secara ekonomi dan lestari.