Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PROSES ACID WASH UNTUK MENURUNKAN KADAR PENGOTOR PADA CAKE HASIL MERRIL CROWE Tri Wahyuningsih; Wahyu Pamungkas
Journal of Metallurgical Engineering and Processing Technology Vol 2, No 2 (February 2022)
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmept.v2i2.6524

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi tambang emas terbesar di dunia. Saat ini, sudah mulai banyak perusahaan tambang dalam negeri melakukan proses pengolahan bijih hasil tambang, hal ini didasari oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara. Hidrometalurgi merupakan teknik pemisahan yang menggunakan larutan atau reagen kimia untuk menangkap atau melarutkan logamnya. Salah satu bentuk proses hidrometalurgi adalah proses sianidasi. Proses sianidasi mengasilkan emas dalam bentuk cairan, yang kemudian harus diendapkan kembali (recovery). Proses merril crowe merupakan proses pemisahan padatcair dan recovery melalui mekanisme pengendapan dan presipitasi menggunakan serbuk seng. Proses merril crowe ini memiliki beberapa kekurangan yang menyebabkan perolehan emas dari proses ini tergolong rendah dan memungkinkan adanya deposit pengotor tambahan seperti tembaga melalui serbuk seng yang digunakan. Maka dari itu, dibutuhkan perlakuan khusus untuk bijih hasil proses merril crowe ini, salah satunya adalah proses acid wash menggunakan asam sulfat H2SO4. Proses acid wash dapat menurunkan kadar Cu dan Zn dalam cake hasil merril crowe hingga 53,31% dan 68,84%.
Indonesia Jason Sutanto; Tanjaya Jason Winata; Olivia Clarabella Khotiera; Wahyu Pamungkas
Jurnal Ilmu Komputer dan Sistem Informasi Vol. 14 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Komputer dan Sistem Informasi
Publisher : Fakultas Teknologi Informasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/rdp93s54

Abstract

Dogecoin merupakan salah satu aset cryptocurrency yang awalnya dibuat sebagai parodi namun berkembang menjadi aset digital dengan kapitalisasi pasar yang besar. Transaksi dan investasi menggunakan Dogecoin memiliki tingkat volatilitas yang tinggi sehingga harga sering berubah secara signifikan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, diperlukan prediksi harga yang akurat untuk membantu pengambilan keputusan investasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tiga algoritma machine learning linear, yaitu Support Vector Regression (SVR) dengan Kernel Linear, Regresi Linear, dan AdaBoost dalam memprediksi harga Dogecoin untuk satu hari ke depan. Dataset yang digunakan merupakan data historis harga harian Dogecoin dari tahun 2019 hingga 2025 yang diperoleh dari Investing.com, meliputi harga Open, High, Low, dan Close. Proses prapemrosesan data dilakukan menggunakan Z-Score Normalization, sedangkan pembagian data dilakukan dalam dua skenario, yaitu 80% pelatihan 20% pengujian dan 60% pelatihan 40% pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model SVR Kernel Linear memiliki performa terbaik dengan MAE 0.00471 USD, RMSE 0.01355 USD, dan R² 0.98032, mengungguli Regresi Linear dan jauh lebih baik dibandingkan AdaBoost. Berdasarkan hasil evaluasi, SVR Kernel Linear terbukti sebagai model paling akurat dan stabil dalam memprediksi harga Dogecoin karena mampu menangkap pola hubungan linear antar variabel secara efektif.
Pengembangan Fukien Ikan Kembung Banjar dengan Substitusi Tepung Talas Belitung (Xanthosoma sagittifolium): Analisis Sensori, Preferensi Konsumen, dan Rintisan Usaha Wahyu Pamungkas; Handoko Handoko; Mutia Vanessia; Annis Kandriasari; Efrina Efrina
JURNAL PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN Vol 13 No 1 (2025)
Publisher : STKIP PGRI SITUBONDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/pkwu.v13i1.1940

Abstract

This study aims to evaluate the sensory quality, consumer acceptability, and business feasibility of a novel fukien product made from Banjar mackerel and partially substituted with Belitung taro flour (Xanthosoma sagittifolium), named "Fukimpul." Sensory quality tests were conducted using organoleptic and hedonic assessments on three substitution levels (20%, 30%, and 40%) for parameters such as internal color, mackerel taste, taro taste, umami flavor, fresh mackerel aroma, taro aroma, and texture. The 20% substitution level yielded the highest overall scores in sensory evaluation and consumer preference tests involving 100 panelists. Based on these findings, a start-up business model was developed using a pre-order production system and social media-based distribution. A qualitative descriptive approach was applied to analyze market potential, production design, organizational structure, and financial viability. The results demonstrate that Fukimpul has strong market competitiveness, favorable consumer responses (with a Customer Satisfaction Index of 97.1%), and a break-even point projected at 10.7 months. The study concludes that a 20% substitution of Belitung taro flour provides the best sensory and acceptability outcomes and recommends Fukimpul as a practical, nutritious, and scalable ready-to-cook product for sustainable local entrepreneurship.