Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENETAPAN ANGKA STANDARD FAKTOR EKSPLOITASI HUTAN ALAM DAN POTENSI LIMBAH PEMANENAN KAYU SUB REGION PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Soenarno Soenarno; Yuniawati Yuniawati; Dulsalam Dulsalam
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 39, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2021.39.3.155-169

Abstract

Saat ini, kegiatan pemanenan kayu di hutan alam lebih efisien dengan diterapkannya teknik pembalakan berdampak rendah (reduced impact logging, RIL). Pemanenan kayu yang lebih efisien akan mengurangi terjadinya limbah yang berakibat meningkatkan angka standar faktor eksploitasi (FE). Ironisnya hingga kini angka standar FE yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih didasarkan pada cara pemanenan kayu konvensional, yaitu sebesar 0,7. Sub region Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai peranan besar dalam menyumbang produksi kayu bulat hutan alam baik secara regional Pulau Kalimantan sebesar 61,5% dan secara Nasional sebesar 29,7%, namun belum diketahui banyaknya limbah pemanenan kayu dan besaran standar faktor eksploitasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui banyaknya limbah pemanenan kayu dan angka standard FE yang dilakukan oleh PBPH di sub region Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan di Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang bersertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) mandatory dan PBPH bersertifikat PHPL voluntary. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi limbah pemanenan kayu akibat pembagian batang di petak tebang rata-rata 0,919 m3/pohon dan besarnya limbah kayu akibat pengujian dan pengukuran di TPn berkisar rata-rata 0,093 m3/pohon. Angka FE berkisar antara 0,80-0,85 dengan rata-rata 0,82. Besar kecilnya angka FE lebih dipengaruhi oleh faktor ketrampilan penebang, kebijakan manajemen PBPH, dan diameter pohon ditebang.
UJI COBA REKAYASA ALAT UKUR DIAMETER POHON DI HUTAN ALAM Wesman Endom; Soenarno Soenarno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.019 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2018.36.2.101-112

Abstract

Uji coba alat ukur diameter pohon ‘wesyano’ telah dilakukan pada tahun 2016. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi lima komponen alat ukur, yaitu roda ukur dan dudukannya, tongkat ukur teleskopik, dudukan as, lempeng penutup skala, bilah skala ukur, dan pengunci dudukan bilah skala ukur. Hasil evaluasi    menunjukkan  nilai  bobot  akurasi  wesyano  berkisar  antara  0,98–0,99  dengan  nilai  bobot efisiensinya  antara  1–4  kali  lebih  cepat  dibandingkan  pengukuran  dengan  pita  ukur.  Hasil  validasi wesyano menunjukkan nilai keeratan hubungan tinggi terhadap pita ukur untuk satu kali pengukuran (r = 0,978) maupun untuk dua kali pengukuran (r = 0,982). Tidak ada perbedaan signifikan antara pengukuran wesyano dengan satu atau dua kali pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur wesyano dapat dipakai sebagai alternatif  pengganti pita ukur dan sangat berguna bagi kegiatan inventarisasi hutan yang masih memiliki pohon berdiameter cukup besar (≥ 50–100 cm) dan berbanir tinggi (≥ 1,8 m) dengan akurasi cukup tinggi, efisien, dan biaya murah.
PENETAPAN ANGKA STANDARD FAKTOR EKSPLOITASI HUTAN ALAM DAN POTENSI LIMBAH PEMANENAN KAYU SUB REGION PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Soenarno Soenarno; Yuniawati Yuniawati; Dulsalam Dulsalam
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 39, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2021.39.3.155-169

Abstract

Saat ini, kegiatan pemanenan kayu di hutan alam lebih efisien dengan diterapkannya teknik pembalakan berdampak rendah (reduced impact logging, RIL). Pemanenan kayu yang lebih efisien akan mengurangi terjadinya limbah yang berakibat meningkatkan angka standar faktor eksploitasi (FE). Ironisnya hingga kini angka standar FE yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih didasarkan pada cara pemanenan kayu konvensional, yaitu sebesar 0,7. Sub region Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai peranan besar dalam menyumbang produksi kayu bulat hutan alam baik secara regional Pulau Kalimantan sebesar 61,5% dan secara Nasional sebesar 29,7%, namun belum diketahui banyaknya limbah pemanenan kayu dan besaran standar faktor eksploitasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui banyaknya limbah pemanenan kayu dan angka standard FE yang dilakukan oleh PBPH di sub region Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan di Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang bersertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) mandatory dan PBPH bersertifikat PHPL voluntary. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi limbah pemanenan kayu akibat pembagian batang di petak tebang rata-rata 0,919 m3/pohon dan besarnya limbah kayu akibat pengujian dan pengukuran di TPn berkisar rata-rata 0,093 m3/pohon. Angka FE berkisar antara 0,80-0,85 dengan rata-rata 0,82. Besar kecilnya angka FE lebih dipengaruhi oleh faktor ketrampilan penebang, kebijakan manajemen PBPH, dan diameter pohon ditebang.
UJI COBA REKAYASA ALAT UKUR DIAMETER POHON DI HUTAN ALAM Wesman Endom; Soenarno Soenarno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.019 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2018.36.2.101-112

Abstract

Uji coba alat ukur diameter pohon ‘wesyano’ telah dilakukan pada tahun 2016. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi lima komponen alat ukur, yaitu roda ukur dan dudukannya, tongkat ukur teleskopik, dudukan as, lempeng penutup skala, bilah skala ukur, dan pengunci dudukan bilah skala ukur. Hasil evaluasi    menunjukkan  nilai  bobot  akurasi  wesyano  berkisar  antara  0,98–0,99  dengan  nilai  bobot efisiensinya  antara  1–4  kali  lebih  cepat  dibandingkan  pengukuran  dengan  pita  ukur.  Hasil  validasi wesyano menunjukkan nilai keeratan hubungan tinggi terhadap pita ukur untuk satu kali pengukuran (r = 0,978) maupun untuk dua kali pengukuran (r = 0,982). Tidak ada perbedaan signifikan antara pengukuran wesyano dengan satu atau dua kali pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur wesyano dapat dipakai sebagai alternatif  pengganti pita ukur dan sangat berguna bagi kegiatan inventarisasi hutan yang masih memiliki pohon berdiameter cukup besar (≥ 50–100 cm) dan berbanir tinggi (≥ 1,8 m) dengan akurasi cukup tinggi, efisien, dan biaya murah.