Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PRODUKTIVITAS ANGKUT TRUK DAN TRUK SEMI-TRAILER Apul Sianturi; Djaban Tinambunan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 1 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1985.2.1.1-3

Abstract

An investigation on log hauling by truck and semi-trailer truck has been carried out at 14 concession  areas in Sumatera and  5 concession  areas in South  Kalimantan in 1980  and  1981. The  investigation  comes to  the following conclussions :1.    Logging Companies in Riau, Jambi and South Sumatera  use poorly constructed forest roads without any graveling.2.    On the other  hand  those in South Kalimantan are relatively good  graveled  roads.3.    Effective  hauling  outputs of  trucks range from 91 to 361 m3km/round trip hour, with an average of 247 m3 km/round  trip hour, and those of semi-trailer  truck  from  265  to 841 m3 km/round  trip hour,  with an average of 494 m3 km/round  trip hour.There is pronounced linier relation  between hauling  distance and round trip time.
PENGARUH JUMLAH TENAGA PENDORONG TERHADAP KECEPATAN LORI PADA PENGANGKUTAN KAYU Apul Sianturi; Dulsalam Dulsalam
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 1 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1985.2.1.13-14

Abstract

This  investigation  was carried out  in the: Padangan Forest  District,  Perum Perhutani   Unit II, East Java, employing crews of  various sizes, i.e., 4, 5 and 6 men to push the loaded  lorries.Lorry  speed  is influenced   by several factor, e.g.,  slope, crew size, team-work among  crew members. The influence  of crew size  on  lorry speed  turned  out  to  be insignificant. The average  speed of lorries  are 3.3 km/hour, 4.7 km/hour,  and 4.3 km/hour with standard error of 0.7 km/hour, 0,8 km/hour and  0,9 km/hour  for  4, 5 and  6 man, crew, respectively.
HUTAN DAN PRODUKSI KAYU BULAT INDONESIA DARI TAHUN 1961 SAMPAI 2001 Apul Sianturi
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2004.1.1.45-54

Abstract

Hutan produksi merupakan bagian terbesar dari hutan Indonesia. Luas hutan produksi sebesar 58 juta hektar yang terdiri dari hutan produksi terbatas seluas 23 juta hektar dan hutan produksi seluas 35 juta hektar, dan berada di Pulau Jawa seluas 2 juta hektar, dan sisanya berada di luar Pulau Jawa. Hutan di luar Pulau Jawa tersebut didominasi olehjenis pohon yang sangat bemilai dari famili dipterocarp. Sebelum tahun 1967 produksi kayu bulat Indonesia didominasi dari produk hutan dari pulau Jawa yang telah lebih dahulu mendapat perhatian dan pengelolaan. Baru sesudah tahun 1968 produksi kayu bulat mulai beralih ke hutan-hutan di luar pulau Jawa, dan sejak itu produsi kayu bulat industri meningkat secara drastis, walaupun produksi keseluruhan kayu bulat menurun terutama produksi kayu bakar menurun secara terus menerus. Dengan luas hutan produksi yang 58 juta hektar serta asumsi riap satu m3 per hektar per tahun maka produksi yang terjadi sejak tahun 1961 sampai sekarang jauh melampaui batas maksimum produksi hutan. Jadi adalah tidak mengherankan kalau kondisi hutan Indonesia bertambah rusak karena tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas hutan. Untuk menjaga kelestarian hutan maka seyogyanya pengurangan tebangan dilakukan sesuai dengan kemampuan hutan dan dibarengi dengan peningkatan produktivitas hutan perlu mendapat prioritas, di samping pemeliharaan dan perlindungan hutan. Hal ini dilakukan secara terus menerus sampai pemanenan kayu dan produktivitas hutan dapat dipertahankan pada level yang lestari.
PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSIALAM LESTARI DENGAN SISTIM HPH Apul Sianturi
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2005.2.1.1-16

Abstract

Adanya isu sentral tentang pengelolaan hutan produksi alam yang lestari adalah bukti semakin tingginya tuntutan yang harus dipenuhi oleh Pemerintah untuk menyongsong era globalisasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan betapa tingginya tingkat pemborosan pemanfaatan hutan dan kerusakan tegakan tinggal yang terjadi sebagai akibat kegiatan pengelolaan hutan yang kurang memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Dalam pengelolaan hutan Jestari, praktek pemanenan hutan seharusnya dikendalikan dan dikaitkan dengan praktek silvikultur untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai tegakan secara berkelanjutan, tetapi kenyataan pemanenan hanya dikaitkan dengan target tebangan. Di samping itu, terdapat kesenjangan antara ketersediaan kayu dari hutan produksi alam dengan kebutuhan industri pengolahan yang menuntut pasokan kayu dari hutan alam. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan tentang pengelolaan hutan produksi alam. Untuk itu telah dikaji kebijakan-kebijakan mengenai pengelolaan hutan produksi alam. Kajian ini bertujuan mendapatkan informasi sebagai bahan untuk mengambil kebijakan dalam pengelolaan hutan produksi alam. Sedangkan sasarannya adalah bentuk pengelolaan hutan produksi alam guna mendukung perkembangan industri hasil hutan lestari. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan hutan yang selama ini dilakukan belum dapat memberikan kelestarian hutan. Oleh karena itu perlu adanya kepastian hukum dalam pengelolaan hutan agar pemanenan hasil hutan dapat berlangsung secara lestari. Untuk itu pengelolaan hutan yang dilakukan dengan sistim HPH harus dilaksanakan secara baik dan benar.Sistim HPH dari sudut pembiayaan negara adalah lebih menguntungkan. Pada sistim ini dapat digunakan sistim TPTI untuk hutan alam, dan sistim THPB untuk areal hutan yang sudah rusak atau lahan kosong. THPB atau hutan tanaman terdiri dari hutan tanaman penghasil pulp dan hutan tanaman penghasil kayu perkakas dengan perbandingan luas areal 2 banding 3. Dengan demikian dalam satu unit HPH akan ditemukan hutan produksi alam dan hutan produksi tanaman. Produksi kayu bu lat dari hutan produksi pada tahun 2005 sampai 2012 adalah sckitar 8,5 juta m3, I 0 juta m3, dan 11,4 juta m3 per tahun bila kebenaran data luas areal hutan produksi primer yang di laporkan diasumsikan sebesar 60%, 70%, dan 80% secara berurutan. Pada tahun 2013 sampai 2039 produksi kayu bu lat meningkat menjadi 53 juta m3, 61,8 juta rn3, dan 70 juta m3. Selanjutnya tahun 2040 dan seterusnya produksi kayu bu lat menjadi 93 juta m3, I 07 juta m3, dan 122 juta m3 per tahun bila riap hutan bekas tebangan I m3/ha/tahun dan menjadi 98 juta m3, I 12juta m3, dan 128 juta m3 per tahun bila riap.hutan bekas tebangan menjadi 1,5 m3/ha/tahun masing-masing untuk kebenaran data luas hutan produksi dari yang dilaporkan sebesar 60%, 70%, dan 80%.