Krisdianto Krisdianto
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610, Telp. 0251-8633378, Fax. 0251-8633413

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGUJIAN KETAHANAN BILAH BAMBU Petung (Dendrocalamus asper) (Schults f.) Backer ex Heyne) TERHADAP JAMUR DENGAN CARA HAMPARAN TANAH Krisdianto Krisdianto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3322.776 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2012.30.3.208-217

Abstract

Keawetan merupakan salah satu aspek penting dalam penelitian sifat dasar bambu. Sebagai bahanberlignoselulosa alami, bambu mudah diserang organisme perusak termasuk jamur. Pengujianketahanan bambu terhadap organisme perusak pada umumnya mengikuti metode laboratorium yangtelah diterapkan pada kayu, seperti penggunaan bacto agar. Pengujian dengan hamparan tanahmerupakan salah satu alternatif untuk menguji ketahanan bambu terhadap jamur, karena metode inimurah dan mudah dilakukan. Tulisan ini mempelajari cara pengujian keawetan bilah bambu denganmetode hamparan tanah. Contoh uji bilah bambu diambil dari bagian dalam (i), tengah (m) dan luar (o)dan bagian pangkal (B) , tengah (M) dan ujung (T). Hasilnya menunjukkan bilah bambu dari bagiandalam (i) lebihmudah diserang jamur dari bagian tengah (m) dan luar (o). Setelah enam bulan, contoh ujidari bagian dalam gagal dalam uji tusuk dan uji patah dengan tangan, sedangkan bilah dari bagian tengahgagal setelah delapan bulan pengujian. Contoh uji yang diuji dengan kemampuan tanah menahan air100% lebihmudah terserang jamur daripada contoh uji yang ditanam pada tanah yang mampu menahanair 80%. Bilah bambu dari bagian bawah (B) lebih tahan terhadap serangan jamur dari bagian tengah (M)dan atas (T), namun perbedaannya kurang nyata. Pada umumnya pengujian bilah bambu denganhamparan tanah dapat dijadikan metode pengujian alternatif untuk menentukan keawetan bilah bambuterhadap jamur.
PENGUJIAN KETAHANAN BILAH BAMBU Petung (Dendrocalamus asper) (Schults f.) Backer ex Heyne) TERHADAP JAMUR DENGAN CARA HAMPARAN TANAH Krisdianto Krisdianto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3322.776 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2012.30.3.208-217

Abstract

Keawetan merupakan salah satu aspek penting dalam penelitian sifat dasar bambu. Sebagai bahanberlignoselulosa alami, bambu mudah diserang organisme perusak termasuk jamur. Pengujianketahanan bambu terhadap organisme perusak pada umumnya mengikuti metode laboratorium yangtelah diterapkan pada kayu, seperti penggunaan bacto agar. Pengujian dengan hamparan tanahmerupakan salah satu alternatif untuk menguji ketahanan bambu terhadap jamur, karena metode inimurah dan mudah dilakukan. Tulisan ini mempelajari cara pengujian keawetan bilah bambu denganmetode hamparan tanah. Contoh uji bilah bambu diambil dari bagian dalam (i), tengah (m) dan luar (o)dan bagian pangkal (B) , tengah (M) dan ujung (T). Hasilnya menunjukkan bilah bambu dari bagiandalam (i) lebihmudah diserang jamur dari bagian tengah (m) dan luar (o). Setelah enam bulan, contoh ujidari bagian dalam gagal dalam uji tusuk dan uji patah dengan tangan, sedangkan bilah dari bagian tengahgagal setelah delapan bulan pengujian. Contoh uji yang diuji dengan kemampuan tanah menahan air100% lebihmudah terserang jamur daripada contoh uji yang ditanam pada tanah yang mampu menahanair 80%. Bilah bambu dari bagian bawah (B) lebih tahan terhadap serangan jamur dari bagian tengah (M)dan atas (T), namun perbedaannya kurang nyata. Pada umumnya pengujian bilah bambu denganhamparan tanah dapat dijadikan metode pengujian alternatif untuk menentukan keawetan bilah bambuterhadap jamur.