Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH CARA PENYULINGAN TERHADAP SIFAT MINYAK POHON WANGI Zulnely Zulnely
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.1.95-104

Abstract

Pohon wangi (Melaleuca bracteata F. Muell.) termasuk famili Myrtaceae banyak tumbuh di negara bagian Queensland (Australia), merupakan salah satu pohon penghasil minyak atsiri. Di Indonesia jenis ini dikenal dengan nama “daun wangi” tetapi masyarakat belum banyak mengenal baik bentuk pohon maupun manfaatnya, sehingga potensi dan manfaatnya belum tergali secara optimal. Di Australia jenis ini terkenal dengan nama Black Ti-tree, River Ti-tree, atau Black Tea-tree. Minyak ini dapat digunakan sebagai campuran dalam industri wangi-wangian dan atraktan karena mengandung methyl eugenol lebih dari 70%, sehingga mempunyai bau yang lebih menyengat dibanding methyl eugenol yang dijual di pasar. Terkait dengan hal tersebut, tulisan ini menyajikan hasil pencermatan pendahuluan cara penyulingan daun pohon wangi serta sifat minyaknya. Penyulingan daun tersebut menggunakan dengan dua cara yaitu sistem rebus dan sistem kukus. Minyak atsiri hasil penyulingan dianalisa rendemen dan sifat fisiko kimianya. rendemen minyak berkisar 2,02 - 2,12%; bobot jenis 1,0271 - 1,0361; indeks bias 1,5196 - 1,5216; bilangan asam 0,57 - 0,92; bilangan ester 17,77 - 15,72 dan methyl eugenol merupakan komponen utama minyak. Perbedaan cara penyulingan (rebus dan kukus) tidak mempengaruhi rendemen dan sifat fisiko kimia minyak. Cara rebus menghasilkan minyak atsiri dengan kandungan methyl eugenol (78%) lebih tinggi daripada cara kukus (50%).
SIFAT FISIKO KIMIA MINYAK KILEMO (Litsea cubeba) ASAL KUNINGAN, JAWA BARAT Zulnely Zulnely; Umi Kulsum; Ahmad Junaedi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1580.731 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2007.25.1.84-92

Abstract

Hutan di Indonesia kaya dengan jenis tumbuhan penghasil minyak atsiri, salah satunya adalah tumbuhan kilemo (Litsea cubeba). Hampir semua bagian tumbuhan kilemo bisa menghasilkan minyak atsiri.Pada penelitian ini dilakukan penyulingan terhadap bagian daun dan kulit batang tumbuhan kilemo yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Penyulingan dilakukan dengan metode kukus dan rebus, serta waktu penyulingan 6 dan 8 jam.Hasil penyulingan menunjukkan bahwa rendemen minyak tertinggi dihasilkan dari penyulingan daun yang disuling dengan metode kukus selama 8 jam. Rendemen minyak dari daun secara visual lebih tinggi bila dibandingkan dengan rendemen minyak dari kulit batang. Dari analisis minyak diperoleh sifat berat jenis, putaran optik, bilangan asam, bilangan ester dan komponen kimia secara visual berbeda antara minyak dari daun dan minyak dari kulit batang. Sedangkan indeks bias dan kelarutan dalam alkohol kedua minyak dari daun maupun dari kulit batang memiliki sifat yang sama.
PENGARUH CARA PENYULINGAN TERHADAP SIFAT MINYAK POHON WANGI Zulnely Zulnely
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.1.95-104

Abstract

Pohon wangi (Melaleuca bracteata F. Muell.) termasuk famili Myrtaceae banyak tumbuh di negara bagian Queensland (Australia), merupakan salah satu pohon penghasil minyak atsiri. Di Indonesia jenis ini dikenal dengan nama “daun wangi” tetapi masyarakat belum banyak mengenal baik bentuk pohon maupun manfaatnya, sehingga potensi dan manfaatnya belum tergali secara optimal. Di Australia jenis ini terkenal dengan nama Black Ti-tree, River Ti-tree, atau Black Tea-tree. Minyak ini dapat digunakan sebagai campuran dalam industri wangi-wangian dan atraktan karena mengandung methyl eugenol lebih dari 70%, sehingga mempunyai bau yang lebih menyengat dibanding methyl eugenol yang dijual di pasar. Terkait dengan hal tersebut, tulisan ini menyajikan hasil pencermatan pendahuluan cara penyulingan daun pohon wangi serta sifat minyaknya. Penyulingan daun tersebut menggunakan dengan dua cara yaitu sistem rebus dan sistem kukus. Minyak atsiri hasil penyulingan dianalisa rendemen dan sifat fisiko kimianya. rendemen minyak berkisar 2,02 - 2,12%; bobot jenis 1,0271 - 1,0361; indeks bias 1,5196 - 1,5216; bilangan asam 0,57 - 0,92; bilangan ester 17,77 - 15,72 dan methyl eugenol merupakan komponen utama minyak. Perbedaan cara penyulingan (rebus dan kukus) tidak mempengaruhi rendemen dan sifat fisiko kimia minyak. Cara rebus menghasilkan minyak atsiri dengan kandungan methyl eugenol (78%) lebih tinggi daripada cara kukus (50%).
SIFAT FISIKO KIMIA MINYAK KILEMO (Litsea cubeba) ASAL KUNINGAN, JAWA BARAT Zulnely Zulnely; Umi Kulsum; Ahmad Junaedi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2007.25.1.84-92

Abstract

Hutan di Indonesia kaya dengan jenis tumbuhan penghasil minyak atsiri, salah satunya adalah tumbuhan kilemo (Litsea cubeba). Hampir semua bagian tumbuhan kilemo bisa menghasilkan minyak atsiri.Pada penelitian ini dilakukan penyulingan terhadap bagian daun dan kulit batang tumbuhan kilemo yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Penyulingan dilakukan dengan metode kukus dan rebus, serta waktu penyulingan 6 dan 8 jam.Hasil penyulingan menunjukkan bahwa rendemen minyak tertinggi dihasilkan dari penyulingan daun yang disuling dengan metode kukus selama 8 jam. Rendemen minyak dari daun secara visual lebih tinggi bila dibandingkan dengan rendemen minyak dari kulit batang. Dari analisis minyak diperoleh sifat berat jenis, putaran optik, bilangan asam, bilangan ester dan komponen kimia secara visual berbeda antara minyak dari daun dan minyak dari kulit batang. Sedangkan indeks bias dan kelarutan dalam alkohol kedua minyak dari daun maupun dari kulit batang memiliki sifat yang sama.