Frets Keriapy
Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Kecerdasan Visual-Spasial Pada Anak Usia 5-6 Tahun Melalui Sentra Balok Sartika Pa’indu; Rida Sinaga; Frets Keriapy
SHAMAYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2020): Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Yerusalem Baru, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.462 KB) | DOI: 10.51615/sha.v1i1.6

Abstract

AbstractEarly Childhood Education (PAUD), can be used to explore children's intelligence. One of them is visual-spatial intelligence. Visual-spatial intelligence is important for children because visual-spatial intelligence enables children to learn visually and generate ideas. Children can think in concept (holistically) to understand something. To develop visual-spatial intelligence in children, the center block is one of the tools that can be used to develop it. Through the block center children can be taught to recognize the shape, color and size of the blocks. Block center was chosen because children love building designing games. Through designing and constructing a building such as a house, palace and other forms, it is hoped that the visual-spatial intelligence of children can develop. The method used in this research is the library research method, namely the form of research carried out through research report books, journals and other documents. In the beam center there are various geometric shapes in various sizes, some are colored and some are plain. In playing blocks, there are eleven stages, from simple to complex building. To be able to make children creative, teachers need to provide adequate support, opportunities, times, and facilities. The results of research on block center can be said to improve visual-spatial intelligence. Because the block center contributes to the improvement of visual-spatial intelligence. It can be seen from the conclusions of the research results that when children play in a block center with adequate support, opportunity, time, and facilities provided by the teacher to children, it can improve children's visual-spatial intelligence with the characteristics of a visually-spatial intelligent child having advantages. such as: children quickly understand the explanation from the teacher related to the building to be made, children can do more than the teacher's orders, children can mix colors well, children build beautifully, neatly and vary and children enjoy doing and enjoying playing blocks.Key words: Visual-Spatial Intelligence, Block Center, Teacher AbstrakPendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dapat digunakan untuk menggali kecerdasan yang dimiliki anak. Salah satunya adalah kecerdasan visual-spasial. Kecerdasan visual-spasial penting dimiliki anak karena kecerdasan visual- spasial membuat anak dapat belajar secara visual dan memunculkan ide-ide. Anak dapat berfikir secara konsep (holistik) untuk memahami sesuatu. Untuk mengembangkan kecerdasan visual-spasial pada anak, sentra balok merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mengembangkannya. Melalui sentra balok anak dapat diajarkan mengenal bentuk, warna serta ukuran dari balok tersebut. Sentra balok dipilih karena anak-anak menyukai permainan merancang bangunan. Melalui merancang dan membangun sebuah bangunan seperti rumah, istana dan bentuk lainnya diharapkan dapat mengembangkan kecerdasan visual-spasial pada anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan yaitu bentuk penelitian yang dilakukan melalui buku laporan penelitian, jurnal Di sentra balok terdapat berbagai bentuk geometri dalam berbagai ukuran ada yang berwarna dan ada yang polos. Dalam bermain balok ada sebelas tahapan, mulai dari sederhana sampai membangun secara komplek. Untuk dapat membuat anak menjadi kreatif maka guru perlu memberikan dukungan, kesempatan, waktu, serta sarana yang memadai. Hasil penelitian mengenai sentra balok dapat dikatakan meningkatkan kecerdasan visual-spasial. Karena sentra balok memberikan kontribusi terhadap peningkatan kecerdasan visual-spasial. Dapat dilihat dari kesimpulan hasil penelitian bahwa pada saat anak bermain di sentra balok dengan dukungan, kesempatan, waktu, serta sarana yang memadai yang diberikan guru kepada anak dapat meningkatkan kecerdasan visual-spasial anak dengan ciri-ciri anak yang cerdas secara visual-spasial  memiliki kelebihan seperti : anak cepat memahami penjelasan dari guru yang berhubungan dengan bangunan yang akan dibuat, anak dapat melakukan lebih dari perintah guru, anak dapat memadukan warna dengan baik, anak membangun dengan indah, rapi dan bervariasi dan anak senang melakukan serta menikmati bermain balok.Kata kunci: Kecerdasan Visual-Spasial, Sentra Balok, Guru 
Pendidikan Agama Kristen dalam Ruang Publik Virtual: Sebuah Analisis Pemikiran Jürgen Habermas Frets Keriapy
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2022): HaratiJPK: Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.979 KB) | DOI: 10.54170/harati.v2i2.109

Abstract

The digital era is an era where everything is done digitally, be it science or the journey of human spirituality. With the presence of digital space simultaneously there is also a public space in virtual form. In the past, humans were referred to as social creatures, in this digital era, humans are also referred to as digital creatures. So that the teaching of Christian religious education does not only stop in the private sphere, which is carried out in the church, but can also be done in a digital virtual sphere. By using a literature-based qualitative method, the author analyzes Habermas' thoughts on the public sphere. From the results of the analysis, it was found that in today's digital era, the public sphere in the digital realm is part of the virtual public sphere, in which the journey of human spirituality is carried out. Human interaction in the digital era does not only occur in physical public sphere, but also occurs in virtual public sphere. Therefore, this paper will examine Christian Religious Education in a virtual public space which of course starts from the analysis of the thoughts of Jürgen Habermas, a German philosopher and sociologist regarding the Public Sphere, then the author will discuss abaut Christian Religious Education in the public sphere a critical review. On Christian Religious Education in the private sphere, which then ends with the conclusion of this research Era digital menjadi era di mana segala sesuatu dilakukan secara digital baik itu ilmu pengetahuan maupun perjalanan spiritualitas manusia. Dengan hadirnya ruang digital, secara bersamaan hadir juga ruang publik dalam bentuk virtual. Yang dulu manusia disebut sebagai makhluk sosial, di era digital ini, manusia juga disebut sebagai makhluk digital. Sehingga pengajaran pendidikan agama Kristen pun tidak hanya berhenti pada ruang privat yakni dilakukan di dalam gereja, melainkan juga dapat dilakukan dalam ruang virtual digital. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis kepustakaan, penulis menganalisis pemikiran Habermas mengenai ruang publik. Dari hasil analisis, didapatkan bahwa di era digital sekarang ini, ruang publik dalam ranah digital merupakan bagian dari pada ruang publik virtual, yang di dalamnya perjalanan spiritualitas manusia dilakukan. Interaksi manusia di era digital tidak hanya pada ruang publik secara fisik, melainkan juga terjadi dalam ruang publik virtual. Dari sinilah penulis menggunakan ruang publik virtual atau virtual public sphere. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengkaji mengenai Pendidikan Agama Kristen dalam ruang publik virtual yang tentunya dimulai dari analisis pemikiran Jürgen Habermas seorang filsuf sekaligus sosiolog asal Jerman mengenai Ruang Publik (Public Sphere), kemudian penulis akan membahas mengenai PAK dalam ruang publik sebuah tinjauan kritis terhadap Pendidikan Agama Kristen dalam ruang privat, yang kemudian diakhiri dengan kesimpulan dari penelitian ini.
Penginjilan Sebagai Upaya Meneguhkan Keyakinan Keselamatan Anak Kristian Badai; Kaleb Djeremod; Frets Keriapy
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 5, No 2 (2020): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2020
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.622 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v5i2.42

Abstract

This objective is to describe how the process of affirming a child's faith to be more firm in Jesus Christ, even though there are other beliefs around the child, even the child's intellect is attacked by the internet, research at school or the environment. The assurance of salvation in Jesus needs to be strengthened, especially in Christian children. Confirming the safety of children in Jesus is done through evangelism. This study uses qualitative research methods and the informants in this study were nine children. Interview method. The results of the study found that three children who believed were saved in Jesus with an understanding because they believed Jesus had saved, while the other six believed they were saved because they did spiritual activities. This can provide evidence that most children have not seen clear reasons why believing in Jesus and Jesus guarantees salvation for every believer because the tutors have not maximized evangelism to children, so that it has not had an impact on confirming the belief in child safety.AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana proses meneguhkan iman anak agar semakin teguh dalam Yesus Kristus, walaupun sekeliling anak terdapat kepercayaan lain, bahkan diserangnya intelek anak oleh internet, pengajaran disekolah atau lingkungan. Keyakinan keselamatan pada Yesus perlu diteguhkan, khususnya pada anak-anak yang beragama Kristen. Meneguhkan keyakinan keselamatan anak pada Yesus dilakukan melalui penginjilan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan informan dalam penelitian ini adalah sembilan anak. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara. Hasil penelitian menemukan bahwa, tiga anak yang yakin diselamatkan dalam Yesus dengan pemahaman karena percaya Yesus telah menyelamatkan sedangkan enam lainnya yakin diselamatkan karena melakukan kegiatan kerohanian. Hal tersebut dapat memberi bukti bahwa sebagian besar anak-anak belum mengetahui alasan jelas mengenai kenapa harus percaya pada Yesus dan Yesus jaminan keselamatan bagi setiap orang percaya karena para tutor belum memaksimalkan penginjilan pada anak, sehingga belum memberi dampak untuk meneguhkan keyakinan keselamatan anak.