Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS KOMPONEN KIMIA EMPAT JENIS KAYU ASAL SUMATERA UTARA Gunawan Pasaribu; Bonifasius Sipayung
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2007.25.4.327-333

Abstract

Tulisan ini menyajikan informasi ilmiah sifat kimia empat jenis kayu yaitu salagundi (Rhoudolia teysmanii Hook.f.), raru (Cotylelobium melanoxylon Pierre), mobe (Arthocarpus dadah Miq.), dan medang landit (Persea rimosa). Analisis kimia yang dilakukan meliputi penetapan kadar holoselulosa, alfa selulosa, hemiselulosa, kadar lignin, kadar pentosan, kadar abu, kadar silika, kadar air, kelarutan dalam air dingin, kelarutan dalam air panas, kelarutan dalam NaOH 1% dan kelarutan dalam alkohol benzene. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2005 di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Kayu diambil dari Kabupaten Simalungun dan Tapanuli Tengah Propinsi Sumatera Utara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 66,61%-75,99%, hemiselulosa berkisar antara 29,26%-34,26%, alphaselulosa berkisar antara 37,35%-42,22%, lignin berk:isar antara 22,26%-30,28%, pentosan berk:isar antara 15,40%-17,41%,  kadar abu kayu berk:isar antara 0,91%-2,67% dan kadar silikat antara 0,29%-1,97%. Kemudian, kelarutan dalam air dingin, air panas dan alkohol benzene masing-masing berkisar antara 3,19%-5,80%, 6,74%-9,08% dan 1,76%-5.00%.Berdasarkan hasil analisis komponen kimia kayu terutama dari kadar holoselulosa, lignin dan pentosan, keempat jenis kayuyang diteliti cukup baik digunakan sebagai bahan baku pulpdan kertas.
KAJIAN TATA NIAGA DAN PEMANFAATAN KULIT MEDANG LANDIT DI SUMATERA UTARA Gunawan Pasaribu
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5718.944 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2007.25.2.158-165

Abstract

Tulisan ini menyajikan hasil kajian tata niaga dan pemanfaatan kulit medang landit di Propinsi Sumatera Utara.   Penelitian dilaksanakan  pada bulan Juni  sampai Desember  2005  di Kabupaten Tapanuli Utara  dan Tapanuli Selatan. Data primer dan informasi  diperoleh  melalui survey dan wawancara langsung terhadap beberapa responden  yang terlibat dalam pemanfaatan dan rantai tata niaga kulit medang landit. Responden yang diminta untuk berpartisipasi adalah mereka yang berperan sebagai petani atau pengumpul medang landit, pedagang pengumpul dan industri pengolah menjadi produk akhir. Data sekunder diperoleh juga melalui survey, wawancara, penyebaran kuisioner dan mengakses kelembagaan yang berhubungan. Data dan informasi  dianalisis  secara deskriptif  dan melalui tabulasi.Hasil penelitian menunjukkan  bahwa rantai tata niaga pemasaran kulit medang landit masih cukup sederhana.  Hanya ada 4 pelaku tata niaga mulai dari petani/pengumpul,  pedagang pengumpul, pengolah dan pabrik sebagai pengguna akhir. Margin tata niaga yang diperoleh pedagang pengumpul adalah sebesar Rp 200-500 /kg sedangkan pengusaha (pengolah) memperoleh margin tata niaga sebesar Rp 1.500-2.400/kg.  Kulit medang landit dimanfaatkan sebagai bahan baku obat nyamuk bakar oleh pabrik pengolah di Medan.
ANALISIS KOMPONEN KIMIA EMPAT JENIS KAYU ASAL SUMATERA UTARA Gunawan Pasaribu; Bonifasius Sipayung
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2007.25.4.327-333

Abstract

Tulisan ini menyajikan informasi ilmiah sifat kimia empat jenis kayu yaitu salagundi (Rhoudolia teysmanii Hook.f.), raru (Cotylelobium melanoxylon Pierre), mobe (Arthocarpus dadah Miq.), dan medang landit (Persea rimosa). Analisis kimia yang dilakukan meliputi penetapan kadar holoselulosa, alfa selulosa, hemiselulosa, kadar lignin, kadar pentosan, kadar abu, kadar silika, kadar air, kelarutan dalam air dingin, kelarutan dalam air panas, kelarutan dalam NaOH 1% dan kelarutan dalam alkohol benzene. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2005 di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Kayu diambil dari Kabupaten Simalungun dan Tapanuli Tengah Propinsi Sumatera Utara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar holoselulosa berkisar antara 66,61%-75,99%, hemiselulosa berkisar antara 29,26%-34,26%, alphaselulosa berkisar antara 37,35%-42,22%, lignin berk:isar antara 22,26%-30,28%, pentosan berk:isar antara 15,40%-17,41%,  kadar abu kayu berk:isar antara 0,91%-2,67% dan kadar silikat antara 0,29%-1,97%. Kemudian, kelarutan dalam air dingin, air panas dan alkohol benzene masing-masing berkisar antara 3,19%-5,80%, 6,74%-9,08% dan 1,76%-5.00%.Berdasarkan hasil analisis komponen kimia kayu terutama dari kadar holoselulosa, lignin dan pentosan, keempat jenis kayuyang diteliti cukup baik digunakan sebagai bahan baku pulpdan kertas.
KAJIAN TATA NIAGA DAN PEMANFAATAN KULIT MEDANG LANDIT DI SUMATERA UTARA Gunawan Pasaribu
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2007.25.2.158-165

Abstract

Tulisan ini menyajikan hasil kajian tata niaga dan pemanfaatan kulit medang landit di Propinsi Sumatera Utara.   Penelitian dilaksanakan  pada bulan Juni  sampai Desember  2005  di Kabupaten Tapanuli Utara  dan Tapanuli Selatan. Data primer dan informasi  diperoleh  melalui survey dan wawancara langsung terhadap beberapa responden  yang terlibat dalam pemanfaatan dan rantai tata niaga kulit medang landit. Responden yang diminta untuk berpartisipasi adalah mereka yang berperan sebagai petani atau pengumpul medang landit, pedagang pengumpul dan industri pengolah menjadi produk akhir. Data sekunder diperoleh juga melalui survey, wawancara, penyebaran kuisioner dan mengakses kelembagaan yang berhubungan. Data dan informasi  dianalisis  secara deskriptif  dan melalui tabulasi.Hasil penelitian menunjukkan  bahwa rantai tata niaga pemasaran kulit medang landit masih cukup sederhana.  Hanya ada 4 pelaku tata niaga mulai dari petani/pengumpul,  pedagang pengumpul, pengolah dan pabrik sebagai pengguna akhir. Margin tata niaga yang diperoleh pedagang pengumpul adalah sebesar Rp 200-500 /kg sedangkan pengusaha (pengolah) memperoleh margin tata niaga sebesar Rp 1.500-2.400/kg.  Kulit medang landit dimanfaatkan sebagai bahan baku obat nyamuk bakar oleh pabrik pengolah di Medan.