Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KARAKTERISTIK KAYU MUDA PADA MANGIUM (Acacia mangium Willd.) DAN KUALITAS PENGERINGANNYA Sri Rulliaty
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.2.117-128

Abstract

Jenis kayu yang berasal dari hutan alam saat ini semakin berkurang, sebagai gantinya untuk mernenuhi kebutuhan kayu masyarakat, sebagian kayu dipenuhi dari hutan tanaman. Masalahnya, kayu yang berasal dari hutan tanaman relatif mempunyai umur atau berdaur tebang lebih muda dari hutan alam sehingga kandungan kayu muda (juvenilewood)nya relatif tinggi. Dalam pengolahan kayu, adanya kayu muda dalam balok sering menimbulkan masalah diantaranya timbul cacat dalam proses pengeringan sehingga kualitas kayu menurun. Oleh karena itu dalam penelitian ini diteliti karakteristik kayu muda yang meliputi sifat anatomi, dan kualitas pengeringan. Kayu yangdigunakan adalah mangium yang berumur 22 tahun, Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kandungan kayu muda pada mangium yang diduga melalui persamaan regresi sekitar 50% (R.2= 70%) dengan karakteristik serat yang pendek, cacat permukaan, pecah dalam (honrycomb) dan perubahan bentuk (collapse) setelah proses pengeringan. Disarankan dalam proses pengolahan clan penggunaannya dilakukan secara hati-hati terutama pada waktu pengeringan sebaiknya mengikuti prosedur teknik pengeringan temperatur bertahap (bagan lunak).
PENGARUH SIFAT FISIK DAN ANATOMI TERHADAP SIFAT PENGERINGAN ENAM JENIS KAYU Efrida Basri; Sri Rulliaty
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.253-262

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh sifat fisik dan anatorni terhadap sifat pengeringan enam jenis kayu, yaitu tisuk (Hibisms 111acropf?yllus), gading (Koilodepas sp), mahang (Macarangaf?ypoleuca), telisai (Planchoniagrandis), sibau (Bl11meodendronkurzi1), clankenari (Santiria laevigata). Sifat fisik meliputi berat jenis dan penyusutan; sedangkan sifat anatomi kayu adalah lebar jari-jari. Sedangkan sifat pengeringan yang diuji meliputi cacat pecah ujung dan permukaan serta pecah di bagian dalam kayu, menggunakan metode pengeringan suhu tinggi (100°C). Berdasarkan kelas kerusakan/cacat yang terjadi dari hasil pengeringan suhu tinggi, kemudian ditetapkan sifat pengeringan untuk masing-masing jenis kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan regresi geometrik antara BJ dengan penyusutan tangensial (R' = 0,78), dan regresi linier antara lebar jari-jari dengan sifat pengeringan kayu (R' = 0,60). Kayu tisuk dan sibau termasuk kayu yang sangat mudah dikeringkan karena memiliki berat jenis rendah sampai sedang, dan diameter pembuluh yang cukup besar. Kayu mahang, gading dan telisai sangat sulit dikeringkan. Faktor penyebab, di antaranya adalah berat jenis kayu yang terlalu tinggi (gading dan telisai) dan terlalu rendah (mahang), serta struktur anatomi yang tidak mendukung yaitu dinding serat yang tebal (kayu gading), diameter pembuluh kecil (mahang dan gading), dan berisi tilosis (gading dan telisai).
KARAKTERISTIK KAYU MUDA PADA MANGIUM (Acacia mangium Willd.) DAN KUALITAS PENGERINGANNYA Sri Rulliaty
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.2.117-128

Abstract

Jenis kayu yang berasal dari hutan alam saat ini semakin berkurang, sebagai gantinya untuk mernenuhi kebutuhan kayu masyarakat, sebagian kayu dipenuhi dari hutan tanaman. Masalahnya, kayu yang berasal dari hutan tanaman relatif mempunyai umur atau berdaur tebang lebih muda dari hutan alam sehingga kandungan kayu muda (juvenilewood)nya relatif tinggi. Dalam pengolahan kayu, adanya kayu muda dalam balok sering menimbulkan masalah diantaranya timbul cacat dalam proses pengeringan sehingga kualitas kayu menurun. Oleh karena itu dalam penelitian ini diteliti karakteristik kayu muda yang meliputi sifat anatomi, dan kualitas pengeringan. Kayu yangdigunakan adalah mangium yang berumur 22 tahun, Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kandungan kayu muda pada mangium yang diduga melalui persamaan regresi sekitar 50% (R.2= 70%) dengan karakteristik serat yang pendek, cacat permukaan, pecah dalam (honrycomb) dan perubahan bentuk (collapse) setelah proses pengeringan. Disarankan dalam proses pengolahan clan penggunaannya dilakukan secara hati-hati terutama pada waktu pengeringan sebaiknya mengikuti prosedur teknik pengeringan temperatur bertahap (bagan lunak).
PENGARUH SIFAT FISIK DAN ANATOMI TERHADAP SIFAT PENGERINGAN ENAM JENIS KAYU Efrida Basri; Sri Rulliaty
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.253-262

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh sifat fisik dan anatorni terhadap sifat pengeringan enam jenis kayu, yaitu tisuk (Hibisms 111acropf?yllus), gading (Koilodepas sp), mahang (Macarangaf?ypoleuca), telisai (Planchoniagrandis), sibau (Bl11meodendronkurzi1), clankenari (Santiria laevigata). Sifat fisik meliputi berat jenis dan penyusutan; sedangkan sifat anatomi kayu adalah lebar jari-jari. Sedangkan sifat pengeringan yang diuji meliputi cacat pecah ujung dan permukaan serta pecah di bagian dalam kayu, menggunakan metode pengeringan suhu tinggi (100°C). Berdasarkan kelas kerusakan/cacat yang terjadi dari hasil pengeringan suhu tinggi, kemudian ditetapkan sifat pengeringan untuk masing-masing jenis kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan regresi geometrik antara BJ dengan penyusutan tangensial (R' = 0,78), dan regresi linier antara lebar jari-jari dengan sifat pengeringan kayu (R' = 0,60). Kayu tisuk dan sibau termasuk kayu yang sangat mudah dikeringkan karena memiliki berat jenis rendah sampai sedang, dan diameter pembuluh yang cukup besar. Kayu mahang, gading dan telisai sangat sulit dikeringkan. Faktor penyebab, di antaranya adalah berat jenis kayu yang terlalu tinggi (gading dan telisai) dan terlalu rendah (mahang), serta struktur anatomi yang tidak mendukung yaitu dinding serat yang tebal (kayu gading), diameter pembuluh kecil (mahang dan gading), dan berisi tilosis (gading dan telisai).