Petrus Patandung
Baristand Industri Manado

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH JUMLAH TEPUNG KANJI PADA PEMBUATAN BRIKET ARANG TEMPURUNG PALA Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 6, No. 2 Desember Tahun 2014
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.386 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v6i2.3195

Abstract

Penelitian pembuatan briket arang tempurung pala telah dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah tepung kanji terhadap mutu briket yg dihasilkan, sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar. Briket dibuat menggunakan arang tempurung pala dengan perekat tepung kanji sebanyak 2; 2,5; 3; 3,5 dan 4%, dan tekanan 150 kg/cm2. Dari penelitian ini diperoleh bahwa arang tempurung pala dapat diolah menjadi briket. Briket yang dihasilkan mempunyai kisaran kadar air sebesar 6,11-6,50%, bagian yang hilang pada pemanasan suhu 950 °C sebesar 14,20-14,80%, kadar abu sebesar 5,45-5,94%, dan nilai kalori sebesar 5.047,27-5.219,00 kal/g.Kata kunci: briket, tempurung pala, kanji, nilai kalori.
PENGARUH AKTIVATOR TERHADAP ARANG AKTIF TEMPURUNG KEMIRI Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 9 No. 2 Desember 2017
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.239 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v9i2.3526

Abstract

Pengaruh aktivator arang tempurung terhadap arang aktif tempurung kemiri telah dilaksanakan. Tujuan penelitian  yaitu  untuk mengetahui pengaruh aktivator terhadap arang aktif tempurung kemiri dengan melalui aktivasi sehingga dapat diketahui pengaruh wilayah produksi kemiri. Metode penelitian dilakanakan dengan melaui  percobaan pembuatan arang aktif yang  yang menggunakan activator H3P04 dan NH4Cl dengan konsentrasi 9 % selama 24 jam, dicuci sampai bersih serta aktivasi pada suhu 750 °C selama1,5 jam,  data disusun dalam bentuk Gambar atau Grafik serta   dianalisa secara deskriptif  yang  menggunakan  wilayah pertanaman  atau daerah yang potensial menghasilkan kemiri: A= arang aktif tempurung kemiri dari Tomohon  dengan menggunakan aktivator H3P04,  B= arang aktif tempurung kemiri dari Tomohon dengan menggunakan aktivator NH4Cl, C= arang aktif tempurung kemiri  dari  Bolang mangondow dengan menggunakan aktivator H3P04,  dan D= arang aktif dari Bolaangmangondow dengan menggunakan aktivator NH4Cl. Penelitian diulang 3 (dua) Kali. Arang aktif yang diperoleh: kadar air 10,24-10,30 %, Kadar abu 6,22-7,20 %, bahan mudah menguap pada suhu 950 °C  20,22-21,17 % ;  Bagian yang tidak terarang tidak ternyata, daya serap terhadap I2 764,48-780,82 mg/g, karbon aktif murni 71,58- 73,57, daya serap terhadap biru metilena 118-130,75 mg/g  dan rendemen arang aktif 62,44-71,20 %.  Hasil yang terbaik diperoleh pada perlakuan dengan menggunakan bahan kimia sebagai aktivator H3P04 karena semua parameter memenuhi standar arang aktif SNI.06-3730-1995, sedangkan dengan menggunakan NH4Cl belum memenuhi syarat mutu arang aktif yaitu parameter daya serap terhadap biru metilena.Kata kunci: Arang aktif, Aktivator, Aktivasi, air,  daya serap 
PENGARUH SUHU PARAFIN CAIR TERHADAP WAKTU PENYIMPANAN RIMPANG JAHEPENGARUH SUHU PARAFIN CAIR TERHADAP WAKTU PENYIMPANAN RIMPANG JAHE Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 10 No. 2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.316 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v10i2.4650

Abstract

Telah dilakukan pencelupan rimpang jahe ke dalam parafin cair dengan beberapa kisaran suhu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui suhu parafin cair yang dapat memperpanjang masa penyimpanan rimpang jahe. Metode penelitian disusun dalam bentuk Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang menggunakan kombinasi faktorial dengan perlakuan suhu parafin cair (A) yang terdiri atas: A1=42-55°C, A2=55-65°C, A3=65-75°C dan A4=75-110°C dan perlakuan waktu penyimpanan (B) yang terdiri atas: B0=0 bulan, B1=1 bulan, B2=2 bulan, B3=3 bulan. Hasil analisis kadar air dan minyak serta pengukuran tekstur rimpang jahe dilakukan pada setiap selang waktu penyimpanan. Secara berturut-turut, kadar air dan minyak rimpang jahe yang dicelupkan dalam parafin cair berkisar antara 80,33-89,28%, dan 0,10-0,22%. Pencelupan rimpang jahe ke dalam parafin cair pada suhu antara 65-75°C dapat disimpan selama 3 bulan dengan kondisi tekstur yang tetap keras. Kata kunci:  Air, kekerasan, parafin, penyimpanan, suhu.
PENGARUH VARIASI SERAT SABUT KELAPA TERHADAP KUALITAS PLAFON Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Volume 7, No. 1 Juni, Tahun 2015
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.165 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v7i1.4678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi penambahan serat sabut kelapaterhadap kualitas produk plafon. Variasi penambahan serat sabut kelapa adalah 50, 75, 100, 125,dan 150 g, sedangkan penambahan abu sekam padi sebanyak 1000 g, semen 1000 g, dan gypsum 1500 g dalam jumlah konstan. Produk dicetak menggunakan alat cetak plafon Tipe Baristand dengan tekanan 500 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk memiliki kuat lentur yang berkisar antara 30,18100,38 kg/cm2.Kerapatan air pada umumnya memenuhi syarat mutu, kecuali pada perlakuan A1terjadi tetesan air. Tingkat penyerapan air sebesar 23,58-24,63%.Bobot isi sebesar 1,31-1,66 gr/cm3. Penyimpangan tebal sebesar 2,00-5,00%,penyimpangan panjang sebesar 0,00-0,48%, penyimpangan lebar sebesar 0,00-0,45%, dan penyimpangan tebal sebesar 4,80-5,00 mm.Produk memiliki tepi potong lurus, rata, tidak mengerut, dan ketebalan yang sama.Permukaan lembaran tidak retak-retak, tidak berlubang atau cacat lain. Produk memiliki bidang potong campuran yang merata tidak berlubang, tidak terbelah-belah, dan kemampuan digergaji baik, tetapi kemampuan dipaku kurang baik. Perlakuan dengan  nilai  yang tertingi adalah menggunakan semen 1000 g, gypsum 1500 g, abu sekam padi 1000g dan serat sabut kelapa 125 g dan perlakuan yang menggunakan semen 1000 g, gypsum 1500 g, abu sekam padi 1000 g dan serat sabut kelapa 150 gdengan kuat lentur sebesar berturut-turut 100,00 kg/cm2 dan 100,38 kg/cm2. Kata Kunci: serat sabut kelapa, abu sekam padi,plafon, gypsum, semen.
SIFAT-SIFAT PENYALAAN BRIKET DENGAN MENGGUNAKAN SERBUK GERGAJIAN KAYU DENGAN COCO DUST SEBAGAI PEMANTIK Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 8 No. 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.87 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v8i1.1325

Abstract

ABSTRACTThe properties of wood sawdust with coco dust for briquetting has been implemented. The purpose of this research product dinyalahkan briquettes obtained easily by using the "coco dust" as material lighter or startup. The research method uses a form of graphs and data were analyzed descriptively. The results of analysis of the experiments using charcoal briquettes burning waste wood sawdust. Results of experiments with burning briquettes parameters: Ignition long to ashes 98.63 to 100.65 minutes; old startup from 0.04 to 0.09 minutes until the resulting fire and smoke generated / smoke lost 10.15 to 18.13 minutes. For the boiling water using charcoal briquettes of wood sawdust using the time from 20.30 to 24.68 minutes and using charcoal briquettes as much as 101.68 to 102.90 g. Charcoal briquettes of wood sawdust parameters moisture content from 4.47 to 4.95%, from 5.14 to 7.03% ash; mengup combustible material at a temperature of 950 ° C 4.02 to 5.13% and a calorific value of 2220-3862 cal / g. Keywords: sawn briquettes, coco dust, ignition
PENGAWETAN KAYU AREN SEBAGAIBAHAN SEDIAAN MEUBEL Petrus Patandung; Doly P Silaban; Alexius Luther Ola
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 11 No. 1 Juni 2019
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.093 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v11i1.5298

Abstract

Pengawetan kayu aren sebagai bahan sediaan pembuatan meubel adalah suatu usaha untuk memanfaatkan pohon aren yang tidak produktif.Tujuan penelitian adalahmengolah batang aren yang tidak produktif menjadi bahan meubel dengan  melalui pengawetan   sehingga diperoleh  ketersediaan bahan baku  untuk  produk meubel  yang  tahan lama. Metode penelitian yaitu batang aren dipotong-potong dengan ukuran panjang 125 cm, lebar 10 cm dan tebal 5 cm.Hasil penelitian ternyata bahwa kayu aren dengan panjang dari dasar 6 meter dapat diolah menjadi meubel dengan melalui proses pengawetan dengan menggunakan bahan kimia tirmisida dengan produk meja 58 x 50 x 45 cm. Pengawetan menggunakan metode perendaman dingin kayu aren direndam selama 1, 2 dan 3 minggu. Hasil penetrasi  diperoleh sebesar 45,56-93,25 %, kadar air sebesar 12,60-14,75 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil yang terbaik diperoleh pada perlakuan dengan perendaman 3 minggu Karena produk kayu aren  tidak berjamur sampai dengan  penyimpanan 30 hari dengan kadar air 14,65 %. Hasil proses pembuatan meubel atau meja ternyata dapat menarik dari segi warna dan penampakan yaitu berwarna coklat. 
PENGARUH PENGAWETAN RENDAMAN DINGIN ASAM BORAT TERHADAP KUALITAS PAPAN DAN BINGKAI RENG KAYU AREN SEBAGAI BAHAN BANGUNAN Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 6, No. 1 Juni Tahun 2014
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.047 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v6i2.3188

Abstract

Pengaruh pengawetan rendaman dingin dengan menggunakan asam borat terhadap papan dan bingkai reng kayu dari pohon aren yang tidak produktif untuk bahan bangunan telah dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengawetkan papan dan bingkai reng menggunakan asam borat sehingga dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Penelitian dilakukan dengan membuat benda uji berbentuk papan dan bingkai reng dengan ukuran 2x15X15 cm dan 2,5x12x12 cm yang dibuat dari batang aren bagian keras dan bagian lunak yang diperoleh di kisaran: 0-1,5 ; 1,5-3,5; 3,5-6; dan 6-9 meter dari pangkal batang aren. Benda uji selanjutnya direndam secara dingin menggunakan asam borat 1, 2, 4, 6 dan 8% selama 3 (tiga) bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa bagian keras contoh uji rendaman dingin memiliki kisaran kadar air 14,17-19,91%, nilai berat jenis 0,46-0,66, kuat tekan sejajar serat 113-275 kg/cm2, kuat tekan tegak lurus serat 100-123 kg/cm2, retensi 0,66-6,65 kg/m3, dan penetrasi 76,85-81,68%; dan bagian lunak memiliki kadar air 16,30-21,48%, nilai berat jenis 0,24-0,38, kuat tekan sejajar serat 105-115 kg/cm2, kuat tekan tegak lurus serat 75-110 kg/cm2, retensi 0,29-3,53 kg/m3 dan penetrasi 67,88-71,93%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik diperoleh pada benda uji I 0-1,5 meter dari pangkal batang aren dengan menggunakan bahan pengawet asam borat 8% karena menghasilkan kuat tekan sejajar serat sebesar 275 kg/cm2 dan memenuhi standar mutu kayu bangunan SNI 03-3527-1994. Kata kunci: pengawetan, kayu aren, papan dan bingkai reng, retensi, penetrasi
PENGEMBANGAN PEMBUATAN PLAFON DARI ABU SEKAM PADI DENGAN MENGGUNAKAN SERAT SABUT KELAPA Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 8 No. 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.767 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v8i1.1304

Abstract

Pengembangan pembuatan plafon  dengan menggunakan abu sekam padi dan serat sabut kelapa sebagai bahan bangunan telah dilaksanakan. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan abu sekam padi dan serat sabut kelapa yang belum digunakan secara maksimal, dan belum diolah  atau  diproses menjadi produk industri seperti untuk pembuatan plafon dengan bahan tambahan gypsum, semen dan dipress dengan menggunakan tekanan 500 kg/cm², dengan berbagai  perlakuan:  A; B; C; D dan E dan tiap perlakuan menggunakan 1600 g  gypsum, semen 1000 g, abu sekam padi 1000 g dan serat sabut kelapa:  135; 155; 175; 195 dan 215 g. Penelitian ini menggunakan metode bentuk Tabelaris dan grafik serta  data dianalisis secara deskriptif. Penelitian diulang 3 (tiga) kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil bobot isi yaitu 1,48–1,82 gr/cm³, penyerapan air 16,15–26,28%, dan kuat lentur 61,06-105,80kg/cm², kemampuan digergaji dan  dipaku dalam keadaan baik, bidang potong yaitu campuran yang merata tidak berlubang dan tidak terbelah-belah, tepi potong yaitu lurus, rata, tidak mengerut, sama tebalnya, permukaan lembaran tidak retak-retak tidak berlubang atau cacat lain, kecuali perlakuan E permukaan lembaran tidak retak-retak tetapi agak berlubang atau cacat lain , tebal 4,8–4,93 mm, penyimpangan:  panjang  0,00–0,48%, lebar 0,00–0,46% serta tebal 0,00–8,12%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik diperoleh pada  parlakuan B, C dan D dengan menghasilkan kuat lentur 100,15–105,80 kg/cm²  dapat dipaku, digergaji dan tidak terjadi tetesan air.Kata Kunci: Abu sekam padi, serat sabut kelapa, plafon, kuat lentur 
PENGARUH KAPUR UNTUK PENINGKATAN KADAR ALKOHOL DARI CAP TIKUS Petrus Patandung
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 10 No. 1 Juni 2018
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.396 KB) | DOI: 10.33749/jpti.v10i1.3994

Abstract

Pengaruh kapur untuk peningkatan  kadar alkohol dari Cap tikus telah dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan kapur dan lama penyulingan, sehingga dapat meningkatkan kadar alkohol untuk  farmasi. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan desain percobaan factorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2(dua) Faktor yaitu Faktor A jumlah penambahan kapur:A1=50 g, A2=75 g, A3=100 g, A4=125 g dan A5=150 g, sedangkan Faktor B yaitu lama penyulingan: B1=2 jam, B2=3 jam dan B3=4 jam. Masing-masing perlakuan diulang  2 (dua) kali,Hasil yang terbaik dan tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan penambahan kapur sebanyak 150 g (A5) dan lama penyulingan 2 jam yang dapat menghasilkan kadar alkohol rata-rata 82,23 %.