Umi Laila
Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jalan Jogja-Wonosari km 31.5 Desa Gading, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta 55861, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENENTUAN TINGKAT KETENGIKAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI PADA PRODUK PANGAN BERWARNA MELALUI METODE EKSTRAKSI ASAM CAIR Umi Laila; Sri Indriani; Rifa Nurhayati
Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 12 No.1 Juni 2020
Publisher : Balai Riset Dan Standardisasi Industri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33749/jpti.v12i1.6259

Abstract

Bilangan TBA (2-thiobarbituric acid) merupakan salah satu parameter dalam penentuan tingkat ketengikan produk pangan. Prinsipnya adalah malonaldehid yang merupakan komponen penyebab ketengikan direaksikan dengan reagen 2-thiobarbituric acid sehingga dihasilkan kromogen yang akan terdeteksi secara spektrofometri. Salah satu aspek visual produk pangan adalah warna. Namun, warna produk pangan menjadi salah satu faktor penginterfensi (pengganggu) pada penentuan bilangan TBA. Sementara itu, metode preparasi sampel yang digunakan untuk mengekstrak malonaldehid dengan efektivitas waktu dan tenaga yang baik adalah metode ekstraksi asam cair. Namun metode ekstraksi asam cair tersebut belum teruji dalam mengkoreksi adanya penginterensi warna produk pangan.  Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan investigasi mengenai peluang penentuan bilangan TBA pada produk pangan berwarna dengan metode preparasi sampel berupa ekstraksi asam cair disertai dengan adopsi formula untuk mengkoreksi warna produk pangan. Sampel yang dianalisis bilangan TBAnya adalah tempe bacem dalam kaleng, empal gentong dalam kaleng, dan kacang oven. Hal yang dikaji dalam penentuan bilangan TBA menggunakan metode preparasi sampel berupa ekstraksi asam cair adalah akurasi metode yang meliputi reproduktifitas dan pengulangan. Pengkajian reproduktifitas metode preparasi sampel dilakukan melalui analisis bilangan TBA sampel kacang oven yang dilakukan sesegera setelah sampel terekstrak (intraday). Sementara itu, pengkajian pengulangan dilakukan melalui analisis bilangan TBA sampel empal gentong yang juga dilakukan sesegara setelah sampel terekstrak (intraday). Pengkajian beda waktu analisis terhadap angka TBA yang dihasilkan juga dilakukan pada sampel tempe bacem dalam kaleng dan empal gentong dalam kaleng yang meliputi analisis yang dilakukan sesegera setelah sampel terekstrak yaitu pada hari yang sama dengan ekstraksi (intraday) serta analisis yang dilakukan sehari setelah sampel terekstrak (interday). Bilangan TBA yang didapat melalui metode ekstraksi asam cair dievalusi dengan membandingkannya dengan bilangan TBA yang didapat melalui metode distilasi.  Dari hasil penelitian diperoleh metode ekstraksi asam cair memberikan parameter pengulangan dan reproduktifitas yang baik jika analisis bilangan TBA dilakukan langsung setelah sampel terekstrak malonaldehidnya (intraday). Akurasi metode ekstraksi asam cair yang dilanjutkan dengan analisis TBA secara intraday tersebut didukung oleh data nilai TBA yang dihasilkan dalam kisaran yang hampir sama dengan metode distilasi.Kata kunci: bilangan TBA, malonaldehid, ekstraksi, akurasi
Kontrol Konsistensi Mutu dan Kandungan Aflatoksin Produk Kacang Tanah Sangrai Melalui Standardisasi Proses Produksi Umi Laila; Yuniar Khasanah; Rifa Nurhayati; Dini Ariani; Lusty Istiqomah; Wiwin Widiastuti; Muhamad Kurniadi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.214 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5095

Abstract

Kacang tanah diolah oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) BIMARAM menjadi kacang tanah sangrai tanpa kulit. Proses produksi kacang sangrai belum merujuk pada suatu Prosedur Operasional Baku (POB). Hal tersebut sangat kontradiktif terhadap keinginan konsumen untuk mendapatkan produk yang konsisten dan stabil dari segi mutu dan keamanan produk. Melalui penelitian ini, disusun POB untuk produksi kacang sangrai. Karakteristik mutu yang meliputi kadar air dan sifat sensoris produk (rasa, aroma, kekerasan) serta titik kritis keamanan produk kacang yang berupa kandungan aflatoksin B1 dievaluasi. POB yang telah disusun diaplikasikan ke UKM BIMARAM, yang mencakup alur produksi beserta detail tiap titik prosesnya, spesifikasi bahan dan peralatan, serta sasaran hasil tiap titik proses. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa POB yang disusun tidak merubah prosedur produksi yang selama ini dilakukan oleh UKM, POB hanya mencatat prosedur produksi dan menyajikannya lebih sistematis dan terukur standar. Hal ini didukung oleh data kadar air yang didapat pada kacang sangrai sebelum dan setelah diterapkannya POB yang tidak berbeda nyata (p>0,05), berturut-turut sebesar 4,31% dan 4,58%. Penerapan POB meningkatkan karakteristik sensoris produk kacang sangrai untuk rasa dan kekerasan walaupun tidak signifikan (p>0,05), kecuali aroma yang peningkatannya signifikan (p<0,05). Uji korelasi yang menggambarkan hubungan kadar air dan sifat sensoris terhadap penerapan POB menunjukkan hasil yang serupa. Sementara itu, kandungan aflatoksin B1 pada komoditas kacang mentah, kacang setengah kering, dan kacang sangrai setelah penerapan POB berada di bawah ambang batas yang dipersyaratkan BPOM dan US Food and Drug Administration, yang masing-masing adalah 4,68 ; 2,78 ; 4,42 ppb. Kata kunci: kacang tanah sangrai, prosedur operasional baku, kadar air, sensoris, aflatoksin B1