Yanto Rochmayanto
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI HUTAN RAKYAT KAYU PULP DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, RIAU Yanto Rochmayanto; Alfrida Limbong
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2013.10.2.73-83

Abstract

Hutan rakyat (HR) kayu pulp kurang diminati oleh masyarakat karena harga yang kayu di tingkat petani rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui harga pokok produksi HR kayu pulp. Penelitian dilakukan di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau pada HR Acacia mangium. Struktur biaya produksi dianalisis dengan metode analisis biaya dan harga pokok produksi dianalisis dengan metode full costing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi HR kayu pulp sebesar Rp 26,835,845,-/ha pada tingkat suku bunga 10%. Biaya produksi didominasi oleh biaya pemanenan (57.57%) dan biaya penanaman (19.66%). Harga pokok produksi HR kayu pulp bervariasi antara Rp 196.139,15/m - Rp. 240.051,92/m sesuai tingkat suku bunga (7.5-15%). Upaya untuk memperbaiki harga kayu pulp hutan rakyat diperlukan efisiensi, input teknologi, kebijakan stimulasi dan intervensi.
PERANAN GENDER DALAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM PADA EKOSISTEM PEGUNUNGAN DI KABUPATEN SOLOK, SUMATERA BARAT Yanto Rochmayanto; Pebriyanti Kurniasih
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2013.10.3.203-213

Abstract

Climate change causes abominable impact to woman, but the study of gender adaptation perpectives is still very limited. The objectives of the research were to know: (1) changes in gender roles that emerged as a response to climate change, and (2) impact of changes in gender roles on woman'sv ulnerability.The research was conducted at mountain ecosystem in Solok Regency, West Sumatera. The gender role in natural resources management is analyzed using descriptive analysis method which emphasizes gender relationship and gender roles that are formed in the house hold. The results showed that changes in temperature and rain fall patternsare slowly changing the productive role that woman participated in the agriculture production responsibility in a larger proportion. Changes in gender roles raises gender untillness in the farms of marginalization, stereotypes, subordination, and adouble burden for woman. To enhance the adaptive capacity for woman, it is required to develop the adaptation strategies covering:(1) to increase the political role of woman,(2) to increase the capacity of woman in formal and informal education, and (3) cultural reconstruction based on gendere quality
ANALISIS RESIKO KEGAGALAN IMPLEMENTASI REDD+ DI PROVINSI RIAU Yanto Rochmayanto
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2013.10.2.159-165

Abstract

Mekanisme REDD+ menghadapi ketidakpastian tinggi, sehingga sangat membutuhkan studi tentang resiko kegagalan implementasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui resiko kegagalan implementasi REDD+ di tingkat sub nasional Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode analisis resiko Enterprise Risk Management (ERM) dan analisis stakeholder . Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiko kegagalan implementasi REDD+ meliputi empat level, yaitu: paling utama, utama, sedang dan rendah. Pemerintah Provinsi Riau perlu memprioritaskan penanganan terhadap tingkat resiko paling utama, yaitu : (a) munculnya konflik baru dalam alokasi distribusi pembayaran, (b) REDD+ menjadi obyek baru korupsi, (c) kepastian hak penggunaan lahan tidak terjamin, (d) kesulitan menjaga kebocoran, dan (e) data tidak memenuhi standar MRV. Sejumlah tindakan diperlukan untuk mengatasi resiko tersebut, yaitu: pembentukan lembaga trust fund, auditor independen, penetapan tata ruang, perlindungan kawasan hutan, penciptaan lapangan kerja off-farm dan integrasi semua lembaga penyedia data aktivitas dan klimatis di tingkat provinsi.