Agus Darmawan
Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengkritisi Orientalis yang Meragukan Otentisitas Qur’an Agus Darmawan
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2016): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.48 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2016.6.1.102-110

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad sebagai petunjuk dalam segala hal, baik masalah duniawi maupun ukhrawi. Sebagai kitab suci, umat Islam tidak pernah mempertanyakan otentisitasnya sejak dahulu. Namun sakralitas al Qur’an tersebut terus-menerus digerogoti oleh kaum yang sering disebut kaum beserta para pengikutnya. Mereka berusaha keras menghancurkan sakralitas al Qur’an dengan berbagai cara. Di antaranya dengan cara menggugat otentisitas dan otoritas al Qur’an. Gugatan otentisitas al Qur’an pada gilirannya jelas akan mengguncang otoritas (kehujjahan) al Qur’an, atau mengancam kedudukan al-Qur’an sebagai hujjah atau dalil syariat pertama bagi segala ajaran Islam. Jika otoritas al Qur’an ini sudah bisa dihancurkan, kaum orientalis tentu berharap akan dapat pula meruntuhkan seluruh sumber ajaran Islam lainnya seperti as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Itulah tujuan akhir mereka yang sangat keji.
Trilogi Masyarakat, Agama dan Ilmu sebagai Bangunan Pendidikan dalam Islam Agus Darmawan
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.72 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.66-81

Abstract

Sebagai pemeran utama dalam perubahan, perkembangan dan kemejuan, masyarakat, agama dan ilmu pengetahuan harus mampu bertahan dari segala hal yang membingungkan. Hal-hal yang mencampuradukkan antara kebenaran dan kepalsuan, kenyataan dan ilusi serta tawaran-tawaran cara pandang ambigu, yang akhirnya akan menyandera diri mereka dalam batasan wilayah tertentu. Batasan-batasan ini akan mampu dirobohkan jika memiliki cara pandang yang baik, benar dan tepat, yaitu cara pandang yang berlandas pada agama dengan diperuncing oleh tingkat keilmuan yang mumpuni serta ditopang oleh sebuah sistem organisasi yang tertata rapi. Dengan pemimpinnya sebagai public figure yang kompeten. Seorang figur yang dapat menunjukkan pilihan yang terbaik, relevan serta sesuai kebutuhan dengan cara yang sangat hati-hati, namun tetap berada dalam koridor normative yang baik, yaitu agama.