Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengembangan Model Banjir Jakarta William M Putuhena; Segel Ginting
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 4, No 1 (2013): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3018.725 KB) | DOI: 10.32679/jth.v4i1.277

Abstract

THE EFFECTIVITY OF INTEGRATED UNDERGROUND INFRASTRUCTURE FOR JAKARTA FLOOD CONTROL Segel Ginting; William M Putuhena
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 7, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.958 KB) | DOI: 10.32679/jth.v7i2.562

Abstract

Jakarta has very complex problems from flood to traffic jams. One solution that has been considered is the utilization of underground space called as Infrastruktur Terpadu Bawah Tanah abbreviated as ITBT (Jakarta Integrated Tunnel) which is used for flood control and toll road. ITBT proposed as flood control consists of two traces, namely ITBT-1 from Balekambang to Manggarai and ITBT-2 from Ulujami to Tanah Abang. The performance effectiveness of ITBT-1 and ITBT-2 as flood controls assessed based on mathematical model approach that simulates the characteristics of floods in Jakarta. is the performance is done by predicting how much ITBT can reduce flood inundation (flood risk). The results indicate insignificant reductions since floodwaters diversion carried out by both ITBT only reduce the puddle within the controlled area, and create another in other areas. Flood inundation reduction is still more effective if done by river improvement. ITBT-1 would be more effective if the trace is transferred into east flood canal (BKT) or sea through alignment under BKT, moreover if there is an inlet regulation to ITBT-1.
PERINGATAN DINI BANJIR BERBASIS DATA HIDROLOGI TELEMETRI DI DAS CITARUM HULU Petrus Syariman; Segel Ginting
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 2, No 2 (2011): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.609 KB) | DOI: 10.32679/jth.v2i2.254

Abstract

Kejadian banjir yang sering melanda Dayeuhkolot sudah sangat memprihatinkan, dan berbagai upayapenanggulangan telah dilakukan melalui pendekatan struktural dengan normalisasi sungai, pembuatantanggul, dan lainlain.Namun upaya tersebut belum memberikan hasil yang maksimal. Pendekatan lainnyayang diusulkan adalah melalui upaya nonstruktural dengan membuat peringatan dini banjir berbasis datahujan telemetri. Diharapkan dengan upaya tersebut dapat meminimalisasi risiko yang dihadapi olehmasyarakat. Dalam pendekatan dengan peringatan dini banjir berbasis data hujan telemetri tersebut,terlebih dahulu dilakukan analisis untuk mengetahui jeda waktu yang diperlukan oleh awal mulainya hujansampai ke puncak banjir. Dari hasil analisis yang digunakan diperoleh lamanya waktu jeda antara awalmulai hujan sampai dengan puncak banjir di Nanjung sekitar 11 jam untuk pos hujan Dampit, Ciparay, danCipadung dan sekitar 12 jam untuk pos hujan Bandung. Namun untuk daerah Dayeuhkolot diperlukan waktusekitar 6 jam untuk mencapai waktu puncak banjir dengan menggunakan data hujan Dampit, Ciparay, danCipadung, sementara untuk data dari pos hujan Bandung diperlukan waktu sekitar 7 jam. Dengandiketahuinya waktu jeda yang cukup lama tersebut, diharapkan masih memiliki waktu untuk dapatmemberikan peringatan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran banjir Dayeuhkolot untukmengevakuasi semua harta bendanya.
Penentuan Laju Sedimen Pada Rencana Waduk Jatibarang Segel Ginting
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 6, No 1 (2010)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1195.639 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v6i1.382

Abstract

Rencana Waduk Jatibarang yang berada di Sungai Kreo digunakan untuk tujuan pembangkit listrik, pengendalian banjir dan penyediaan air domestik. Dengan tujuan yang multiguna tersebut, maka perlu dilakukan desain secara seksama supaya waduk bisa bekerja dengan baik sesuai dengan perencanaan. Umumnya waduk sering mengalami masalah sedimentasi sehingga berdampak pada nilai ekonomis waduk bersangkutan. Untuk itu, maka pada rencana Waduk Jatibarang perlu melakukan suatu perencaan awal untuk menentukan besarnya jumlah sedimen yang masuk. Berbagai metode pendekatan untuk menentukan jumlah sedimen yang masuk pada rencana Waduk Jatibarang digunakan, baik secara pengukuran langsung maupun secara tidak langsung. Ada lima metode yang digunakan untuk menentukan laju sedimen yang masuk ke waduk yaitu berdasarkan erosi lahan, empiris pengukuran sedimen, model statistik data pengukuran sedimen, aplikasi persamaan sedimen dan model matematis. Hasil dari berbagai pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sedimen yang masuk ke rencana Waduk Jatibarang bervariasi tergantung dari setiap metode, namun secara kuantitas menunjukkan nilaisedimen berkisar antara 20.051 sampai 80.440 ton/tahun, namun laju sedimen yang dihasilkan berdasarkan konsep model statistik data pengukuran sebesar 39.754,9 ton/tahun atau 0,76 mm/tahunlebih dapat dipercaya dibandingkan dengan konsep yang lainnya.
Pemodelan Air Tanah Di Cekungan Air Tanah Umbulan Dengan Visual MODFLOW Premium 4.3 Segel Ginting
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1690.985 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v6i2.414

Abstract

Umbulan wellspring is a water primary source for Surabaya region. It’s importance for people in Surabaya, so this wellspring flowing awakes continuously every years. To see behavior to change of water table happened in Umbulan Groundwater Basin has been done by groundwater modelling with Visual MODFLOW Premium 4.3 programs. These Programs has calibrated before used to groundwater modeling. Groundwater modelling analysis has done up to 2006 year and obtained water table condition result. Based on water table result in the year 2006, so it’s done scenario by increasing pumpings number for whole location either in quantity and also in region. This Scenario resulted drowdown larger ones at scenario I up to scenario III is compared with drowdown happened at scenario IV up to scenario VI.
SISTEM PERINGATAN DINI BANJIR JAKARTA Segel Ginting
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2162.719 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v10i1.143

Abstract

Indonesia seringkali mengalami bencana alam, pada tahun 2008 Indonesia termasuk dalam 10 besar negara di dunia yang selalu mengalami bencana. Bencana terbesar yang terjadi adalah bencana hidrologi yang berhubungan dengan banjir, yaitu sekitar 34 %. Ini mengindikasikan bahwa kejadian banjir perlu ditangani secara saksama oleh berbagai pihak. Pendekatan yang digunakan adalah secara nonstruktur dengan mengembangkan sistem peringatan dini banjir, menggunakan pendekatan pemodelan hidrologi dan hidraulik untuk menentukan karakteristik aliran banjir. Input yang dipakai dalam model menggunakan beberapa sumber data, seperti data pengamatan lapangan dengan sistem pengiriman data secara telemetri, data radar, satelit, dan data prakiraan hujan dari berbagai Numerical Weather Prediction (NWP), serta prakiraan muka air laut dengan menggunakan Astronomical Tide dan South China Sea Model. Penggunaan beberapa sumber data dimaksudkan untuk memperpanjang lead time yang dihasilkan oleh model. Sistem peringatan dini banjir Jakarta (J-FEWS) telah dioperasikan secara perdana untuk kejadian banjir pada akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sistem telah berjalan dengan baik meskipun hasil prakiraan masih memerlukan perbaikan, terutama data curah hujan yang digunakan (baik data pengamatan maupun data prakiraan). Penggunaan hujan prakiraan dapat menghasilkan lead time yang lebih panjang, tetapi akurasi prakiraan model menjadi berkurang.
SISTEM PERINGATAN DINI BANJIR JAKARTA Segel Ginting
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2162.719 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v10i1.144

Abstract

Indonesia seringkali mengalami bencana alam, pada tahun 2008 Indonesia termasuk dalam 10 besar negara di dunia yang selalu mengalami bencana. Bencana terbesar yang terjadi adalah bencana hidrologi yang berhubungan dengan banjir, yaitu sekitar 34 %. Ini mengindikasikan bahwa kejadian banjir perlu ditangani secara saksama oleh berbagai pihak. Pendekatan yang digunakan adalah secara nonstruktur dengan mengembangkan sistem peringatan dini banjir, menggunakan pendekatan pemodelan hidrologi dan hidraulik untuk menentukan karakteristik aliran banjir. Input yang dipakai dalam model menggunakan beberapa sumber data, seperti data pengamatan lapangan dengan sistem pengiriman data secara telemetri, data radar, satelit, dan data prakiraan hujan dari berbagai Numerical Weather Prediction (NWP), serta prakiraan muka air laut dengan menggunakan Astronomical Tide dan South China Sea Model. Penggunaan beberapa sumber data dimaksudkan untuk memperpanjang lead time yang dihasilkan oleh model. Sistem peringatan dini banjir Jakarta (J-FEWS) telah dioperasikan secara perdana untuk kejadian banjir pada akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sistem telah berjalan dengan baik meskipun hasil prakiraan masih memerlukan perbaikan, terutama data curah hujan yang digunakan (baik data pengamatan maupun data prakiraan). Penggunaan hujan prakiraan dapat menghasilkan lead time yang lebih panjang, tetapi akurasi prakiraan model menjadi berkurang.
Pengembangan Model Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) DPMA-IOH dan Penerapannya pada Daerah Aliran Sungai Segel Ginting; Widya Utaminingsih
Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.1.9

Abstract

AbstrakDesain hidrograf banjir diperlukan untuk merencanakan infrastruktur sumber daya air seperti waduk atau bendungan. Umumnya lokasi rencana infrastruktur sumber daya air belum tersedia data hidrologi untuk mendapatkan hidrograf banjir. Model hidrograf satuan sintetis (HSS) digunakan untuk memperoleh hidrograf banjir pada lokasi yang belum tersedia data hidrologi (ungauged). Model hidrograf satuan sintetis sangat populer digunakan di Indonesia karena keterbatasan data yang tersedia dan penggunaannya yang sederhana yaitu berdasarkan karakteristik DAS. Namun untuk mendapatkan hasil hidrograf banjir yang sesuai dengan data pengamatan memerlukan kalibrasi paramater model hidrograf satuan sintetis. Model HSS DPMA-IOH merupakan salah satu model yang dikembangkan berdasarkan modifikasi metode DPMA-IOH (menghitung rata rata debit puncak banjir) yang dikembangkan oleh DPMA (Direktorat Penyelidikan Masalah Air) dan IOH (Institute of Hydrology). Metode DPMA-IOH merupakan metode empiris yang dikembangkan di Indonesia khususnya di Pulau Jawa dan Sumatera. Model HSS DPMA-IOH mengembangkan persamaan untuk menghitung debit puncak hidrograf satuan, waktu ke puncak dan waktu dasar berdasarkan karaktersitik DAS serta bentuk hidrografnya. Prediksi debit puncak hidrograf satuan ditentukan berdasarkan nilai rata-rata debit banjir tahunan yang dihitung dengan metode DPMA-IOH. Parameter waktu ke puncak dan waktu dasar ditentukan berdasarkan karakteristik DAS. Bentuk kurva hidrograf satuan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan model distribusi probabilitas gamma dan berdasarkan fungsi persamaan kurva naik dan kurva turun. Model HSS DPMA-IOH yang telah dihasilkan, diterapkan pada beberapa DAS di Indonesia yaitu DAS Ciliwung-Katulampa (Pulau Jawa), DAS Palung-Surodadi (Pulau Lombok), DAS Tukad Bandung-Denpasar (Pulau Bali), DAS Tukad Nyuling-Tiyingtali (Pulau Bali), DAS Kendilo (Pulau Kalimantan) dan DAS Singkoyo (Pulau Sulawesi). Hasil ujicoba pada beberapa DAS tersebut menunjukkan bahwa model HSS DPMA-IOH memiliki koefisien Nash-Sutcliffe di atas 83 % untuk menghasilkan hidrograf banjir, sehingga dapat membantu para perencana sumber daya air dalam menjalankan tugasnya. AbstractWater resources infrastructure planning such as reservoirs or dams require the design of a flood hydrograph. Hydrological data are generally not available at the location of the water resources infrastructure plan. Flood hydrograph design uses hydrological data. Design of flood hydrographs at locations without hydrological data (ungauged catchment) can use synthetic unit hydrographs. The synthetic unit hydrograph model is a popular application in Indonesia because of the limited data, and its simple use which is based on the characteristics of the watershed. However, to get flood hydrograph results that are in accordance with observational data requires calibration of parameters of synthetic unit hydrograph models. The DPMA-IOH's synthetic unit hydrographs model is one of the models developed based on the modification of the DPMA-IOH method (calculating the mean annual flood discharge) developed by the DPMA (Direktorat Penyelidikan Masalah Air) and the IOH (Institute of Hydrology). This empirical method was developed in Indonesia, especially in Java and Sumatera to calculate the mean annual flood discharge. DPMA-IOH's synthetic unit hydrographs was developed based on mean annual flood discharge and watershed characteristics to predict the unit hydrograph peak flow, time to peak and base time of ungauged catchment. Prediction of unit hydrograph peak flow is determined based on mean annual flood discharge calculated by the DPMA-IOH method. The time to peak and base time parameters are determined based on the characteristics of the watershed. The unit hydrograph shape using two approaches. There are using the gamma probability distribution and a rising and limb recession curve function. The DPMA-IOH's synthetic unit hydrograph model is applied to several watersheds in Indonesia, namely the Ciliwung-Katulampa watershed (Java Island), Palung-Surodadi watershed (Lombok Island), Tukad Badung-Denpasar watershed (Bali Island), Tukad Nyuling-Tiyingtali watershed (Bali Island), Kendilo Watershed (Kalimantan Island) and Singkoyo Watershed (Sulawesi Island). The results of application in several watersheds have shown that the DPMA-IOH's synthetic unit hydrographs model has above 83 percent Nash-Sutcliffe coefficient for obtaining flood hydrographs. The DPMA-IOH's synthetic unit hydrograph model can help planners to design flood hydrographs.
EVALUASI PENENTUAN DURASI HUJAN EFEKTIF (Tr) PADA HIDROGRAF SATUAN SINTETIS NAKAYASU Segel Ginting
Akselerasi : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2022): Februari
Publisher : Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/aks.v3i2.4592

Abstract

Durasi hujan efektif (Tr) secara historis belum dapat ditentukan melalui catatan pengamatan di lapangan, namun dapat diprediksi berdasarkan catatan hidrograf banjir yang terjadi. Dalam beberapa literatur nilai durasi hujan efektif (Tr) ditentukan berkisar 0.5 sampai dengan 1 kali dari nilai time lag (Tg) atau kadang ditetapkan nilai rata-ratanya sekitar 0,75 kali nilai time lag (Tg).  Untuk memastikan nilai durasi hujan efektif pada metode hidrograf satuan sintetis Nakayasu yang dikaitkan dengan parameter time lag (Tg), maka dilakukan kajian untuk diterapkan dalam rangka untuk penggunaan HSS Nakayasu dalam menghitung debit banjir. Berdasarkan hasil kajian diperoleh nilai durasi hujan efektif berkisar antara 30 menit sampai dengan 7 jam, dan perbadingannya dengan nilai time lag seperti yang digunakan dalam HSS Nakayasu berkisar antara 0.13 sampai dengan 2,67 kali Tg. Namum untuk memastikan nilainya tersebut dapat diperkirakan berdasarkan karakteristik DAS dengan menggunakan persamaan . Kata kunci: durasi hujan efektif, hidrograf sintetis Nakayasu, hidrograf banjir, time lag 
FORMULASI LENGKUNG INTENSITAS HUJAN (INTENSITY–DURATION-FREQUENCY) BERDASARKAN DATA HUJAN DURASI PENDEK DI KOTA BEKASI Segel Ginting
Akselerasi : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2022): Februari
Publisher : Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/aks.v3i2.4593

Abstract

Sistem drainase perkotaan bertujuan untuk mengolah air limbah maupun air hujan. Proses representasi dan peramalan curah hujan sangat menentukan dalam desain, analisis, dan pengoperasian sistem drainase. Salah satu kriteria desain yang dibutuhkan dalam desain drainase adalah menentukan lengkung intensitas hujan. Lengkung intensitas hujan (IDF) ditentukan berdasarkan data hujan durasi pendek. Data yang digunakan mulai dari pencatatan 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit, 75 menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit, dan 180 menit yang diperoleh dari pos hujan di Kantor Balai Teknik Irigasi. Intensitas hujan rencana dilakukan dengan menggunakan distribusi Gumbel, Pearson, Log Pearson dan GEV, sementara formulasi lengkung intensitas hujan dilakukan dengan metode Talbot, Sherman, Ishiguro dan Kimijima. Berdasasrkan hasil analisis, maka telah diperoleh intensitas hujan rencana di Kota Bekasi untuk durasi 5 menit sampai dengan 180 menit dengan menggunakan distribusi Perason, dan formulasi lengkung intensitas hujan dihasilkan dengan menggunakan metode Talbot. Lengkung intensitas hujan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk desain kriteria dalam perencanaan sistem pengelolaan air limpasan permukaan di Kota Bekasi. Kata Kunci: Lengkung intensitas hujan (IDF), hujan durasi pendek, hidrologi perkotaan, drainase perkotaan