Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERILAKU HIDRAULIK PADA PENGEMBANGAN FUNGSI BENDUNG GERAK SERAYU SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR Isnugroho Isnugroho
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 6, No 1 (2015): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1984.811 KB) | DOI: 10.32679/jth.v6i1.510

Abstract

Bendung adalah bangunan persungaian yang berfungsi untuk menaikkan elevasi muka air sungai agar dapat dialirkan ke saluran irigasi menuju ke sawah. Akibat dari peninggian muka air sungai tersebut akan didapat suatu terjunan. Pada musim hujan, debit aliran sungai jauh di atas kebutuhan irigasi. Kelebihan air tersebut dilimpaskan ke hilir, sedangkan pada musim kemarau, tidak semua debit aliran sungai dialihkan ke saluran irigasi, namun demikian harus disisakan suatu debit aliran tertentu dan dialirkan ke hilir bendung guna pemeliharaan alur sungai. Dengan demikian, hampir selalu ada debit aliran melewati bendung dan pada bendung terdapat perbedaan ketinggian antara hulu dan hilir. Fenomena ini dapat menghasilkan suatu tenaga yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air. Pengembangan fungsi ini akan menyebabkan perubahan perilaku hidraulik aliran sungai yang dapat mempengaruhi morfologi sungai maupun pelayanan irigasi, sehingga perlu dilakukan penelitian. Studi kasus dilakukan pada pemanfaatan bendung gerak Serayu di Jawa Tengah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air dengan 4 unit turbin yang dipasang di sebelah kanan bendung. Penelitian yang didukung dengan uji model hidraulik fisik ini bertujuan untuk mengetahui aspek pemanfaatan limpasan air sungai dan perilaku hidrolika, agar pengembangan fungsi ini tidak mengganggu fungsi utama bendung serta tidak membahayakan morfologi sungai.
KAJIAN BERBAGAI TIPE PENGELOLAAN WILAYAH SUNGAI DI ASIA SEBAGAI ACUAN DALAM PENENTUAN SISTEM PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR Isnugroho Isnugroho
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.7 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v10i1.141

Abstract

Pengelolaan sumber daya air terpadu merupakan kegiatan yang sangat penting guna mendapatkan jaminan ketersediaan air yang mencakup perspektif antarsektor, kesenjangan kebutuhan mendatang, dan ketersediaan saat ini serta berorientasi pada tiga pertimbangan utama, yaitu: sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam dekade terakhir banyak negara di Asia telah menerapkan kebijakan nasional dalam pengelolaan air dengan sistem pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai walaupun penerapannya masih dalam tahap permulaan. Pengelolaan sumber daya air terpadu di wilayah sungai dilaksanakan dengan baik oleh organisasi pengelola sungai dengan memfasilitasi dan/atau melaksanakan berbagai proses pembangunan dan pengelolaan. Di Asia berbagai pengelola sungai, baik kecil maupun besar membantu pemerintah dan pemilik kepentingan dalam merealisasikan pengelolaan sumber daya air terpadu. Beberapa pengelola sungai merupakan organisasi pemerintah. Namun, dalam beberapa kasus, untuk memberikan keleluasaan serta otonomi, baik dalam pengelolaan, pengembangan, maupun keuangan digunakan sistem perusahaan atau semi-perusahaan. Tulisan ini mengkaji perbedaan di antara tiga tipe sistem pengelolaan wilayah sungai, yaitu: komite, publik/pemerintah, dan korporasi. Dengan demikian, dapat ditentukan tipe/jenis pengelolaan yang paling sesuai untuk diterapkan di suatu wilayah sungai.
Pengukuran Kinerja Organisasi Pengelola Wilayah Sungai Dengan Menggunakan Balanced Scorecard Isnugroho Isnugroho
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1266.193 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i2.155

Abstract

Menurut UU No. 7 tahun 2004, Pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan pada Wilayah Sungai, oleh karena itu dibentuklah Organisasi Pengelola Wilayah Sungai. Paradigma pengeloaan sungai tidak lagi melakukan pekerjaan pembangunan pada sungai, melainkan suatu Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (Integrated Water Resources ManagementIWRM). Keterpaduan yang dimaksud adalah usaha mengakomodasikan semua yang berkepentingan terhadap Sumber Daya Air di Wilayah Sungai tersebut dengan mengeleminasi konflik kepentingan yang kemungkinan akan terjadi. Kinerja Organisasi Pengelola Sungai dicerminkan dengan keberhasilannya dalam menciptakan keterpaduan tersebut. Mengingat sedemikian beragamnya masalah yang ada dalam pengelolaan itu, maka pengukuran kinerja Organisasi Pengelola Wilayah Sungai dicoba dilakukan dengan menggunakan sistem Balance Scorecard. Sistem ini dapat digunakan oleh manajemen untuk menuju keseimbangan dalam: pelayanan pelanggan, pengaturan keuangan, proses bisnis internal dan pembelajaran pertumbuhan. Sistem balanced scored yang diterapkan berdasarkan 14 indikator yang ditetapkan oleh Network of Asia for River Basin Organization (NARBO), suatu jejaring diantara organisasi pengelola Wilayah Sungai di Asia.