Reza Praditya Yudha
Gunadarma University

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sebuah Tantangan Literasi Era Media Digital Reza Praditya Yudha
Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5 No 2 (2017): Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 5 No 2 Desember 2017
Publisher : DIII Prodi Humas Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konten negatif menjadi hal umum yang ditemui di media sosial. Belum teratasi, justru media tersebut banyak menjadi rujukan sumber media massa. Padahal, literasi media sudah dipraktekkan dan mengutarakan bahaya konten negatif. Dua fenomena menarik adalah; pola kemunculan konten negatif yang diprediksi memuncak tiap pilkada ternyata tidak berakhir bahkan setelah pemimpin daerah terpilih. Fenomena kedua, masyarakat bukan hanya menjadi penikmat, justru makin berani eksis sebagai artis di media sosial. Penelitian bertujuan menganalisa penggunaan media serta implikasinya pada pranata bermedia. Penting untuk menentukan ketepatan strategi literasi media berdasarkan karakter publik Indonesia yang masif, reaktif, dan plural. Penelitian berada pada ranah kajian literatur, menganalisis strategi komunikasi massa, serta disajikan secara deskriptif kualitatif. Model Elaboration Likelihood yang menjelaskan rute sentral atau periferal atas pemrosesan dan pengatribusian pesan oleh publik digunakan sebagai landasan teori. Hasil penelitian, rute sentral publik dimotivasi alasan benefit ekonomi dan sosial. Sedangkan aspek ability rute tersebut tidak sinergi akibat rendahnya kompetensi dan kemampuan publik untuk bersikap kritis. Sedangkan rute periferal dibentuk oleh kemudahan, interaksi yang lebih luas dan real time dalam media sosial. Peneliti menyimpulkan, literasi memerlukan materi etika dan implikasinya dalam kehidupan sosial. Misalnya dengan menunjukkan dampak dan relevansi penggunaan media pada situasi sosial. Selain itu akses publik untuk mencari kebenaran, memberi umpan balik, dan berdiskusi perlu dibuka lebar sehingga publik bisa berfikir kritis tanpa intervensi dan doktrinasi.