Murni Hermawaty Sitanggang
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Pendidikan Iman Anak Menurut Ulangan 6:1-9 di GPdI Alfa Omega Bangsalsari Murni Hermawaty Sitanggang; Inche Foeh
Pengarah: Jurnal Teologi Kristen Vol 3 No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36270/pengarah.v3i2.72

Abstract

Orang tua memiliki tanggung jawab bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak-anak mereka melainkan juga mendidik mereka di dalam iman. Akan tetapi, masih banyak orang tua yang kurang memahami apa dan bagaimana pendidikan iman tersebut seharusnya dilakukan. Itu sebabnya di dalam tulisan ini penulis mengeksplorasi pendidikan iman anak di dalam keluarga dengan orang tua sebagai pendidik menurut Ulangan 6:1-9. Penulisan dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif di GPdI Alfa Omega Bangsalsari. Penulis memilih delapan orang tua dari antara jemaat di sana sebagai partisipan dalam penulisan ini. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa semua partisipan menyadari tanggung jawab mereka dalam mendidik anak. Namun pengetahuan tersebut masih bersifat mendasar dan perlu adanya pembekalan lebih lanjut.
TELAAH TERHADAP BINDING AND LOOSING PRAYER: SEJAUH MANA OTORITAS ORANG PERCAYA DALAM PEPERANGAN ROHANI? A STUDY OF AGAINST BINDING AND LOOSING PRAYER: AS FAR AS THE AUTHORITY OF BELIEVERS IN SPIRITUAL WARNING? Murni Hermawaty Sitanggang
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 1 No. 1 (2017): Pentacostalism & Demonology
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1138.537 KB) | DOI: 10.54345/jta.v1i1.4

Abstract

ABSTRACT This article discusses the problem about binding and loosing prayer or deliverance prayer in its popular term. For the proponent, this concept, binding and loosing prayer is considered the important part in spiritual warfare that had to be practiced every day. Whereas the group who refuse assume this kind of prayer is arisen more from experience than the thorough biblical exegesis. This article will discuss the controversy about this binding and loose prayer and then examine the biblical verses that use to be basic for this prayer for answer the main question, to what extent the authority that believer has in spiritual warfare. Abstrak Tulisan ini membahas problematika seputar doa mengikat dan melepaskan (binding and loosing prayer) atau yang juga populer dengan sebutan doa pelepasan. Bagi kalangan yang menganjurkannya, doa ini dianggap merupakan bagian penting dalam peperangan rohani yang harus dilakukan orang percaya setiap hari. Sedangkan bagi mereka yang menolaknya, doa ini lebih didasarkan pada pengalaman daripada penafsiran yang benar terhadap Alkitab. Tulisan ini akan membahas pro dan kontra tersebut kemudian menelaah ayat-ayat Alkitab yang biasanya dipakai untuk membenarkan praktik ini untuk kemudian menjawab pertanyaan utama: sejauh mana otoritas orang percaya dalam peperangan rohani.
BERADAPTASI DENGAN PANDEMI: MENELISIK ARAH PELAYANAN GEREJA KE DEPAN Murni Hermawaty Sitanggang
Diegesis : Jurnal Teologi Vol 6 No 1 (2021): DIEGESIS: JURNAL TEOLOGI
Publisher : Bethel Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46933/DGS.vol6i11-19

Abstract

Covid-19 pandemic's occurrence has wholly changed humankind in all aspects of life, including worship and ministry. Virtual worship has now become a part of the spiritual life of the church as God's people. Through this paper, the author wants to review the pros and cons of implementing virtual worship and then suggest how the church should improve its ministry. This research was conducted using qualitative methods of literature study by collecting various references that discuss virtual worship implementation during the pandemic. Given the pandemic has been going on for months, churches need to project digital ministry as the primary ministry program (no longer as a temporary alternative or just a complement) and be ready to engage in social services as a form of love for God and others.