Erwin Mulyana
National Laboratory for Weather Modification Technology, Agency for The Assessment and Application of Technology, BPPT

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENYEBARAN POLUTAN DALAM KASUS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SUMATERA SELATAN TAHUN 2015 Erwin Mulyana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol. 18 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v18i2.2611

Abstract

IntisariKebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan tahun 2015 menimbulkan bencana kabut asap yang sangat masif sehingga kualitas udara dalam beberapa hari mencapai kategori berbahaya. Dalam tulisan ini dibahas penyebaran polutan di wilayah Sumatera Selatan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hotspot dari satelit MODIS dengan tingkat kepercayaan 70 %, curah hujan TRMM serta curah hujan dari penakar yg ada di Sumatera Selatan,data kualitas udara (ISPU), data black carbon dari MERRA-2 Model M2T1NXAER v5.12.4. dengan resolusi 0.5o x 0.625o, serta arah dan kecepatan angin lapisan 925 mb. Analisis spasio temporal penyebaran black carbon yang dipadukan dengan arah dan kecepatan angin menggunakan perangkat lunak Grid Analysis and Display System (GrADS). Intensitas hujan dari 16 penakar hujan sejak minggu kedua bulan Agusus 2015 hingga akhir Oktober 2015 sebesar 36 mm. Selama bulan Juni-November 2015, Jumlah hotspot terbanyak terjadi pada bulan September (6.839 titik) dan Oktober (7.709 titik). Lokasi hotspot sebagian besar berada di Kabupaten OKI dengan jumlah mencapai 10.581 titik. Kualitas udara pada bulan September 2015 dominan masuk kategori tidak sehat sedangkan bulan Oktober 2015 dominan masuk kategori sangat tidak sehat – berbahaya. Angin pada lapisan 925 mb umumnya bertiup dari arah tenggara hingga timur sehingga black carbon dari kebakaran di daerah OKI menyebar ke arah wilayah Kabupaten Musi Banyuasin serta Kabupaten Banyuasin.  AbstractIn 2015, Forest and Land fires inflict serious and massive smoke disaster so that air quality in several days laid in dangerous category. This paper discussed pollutant dispersed in South Sumatera due to forest and land fire in this area. Data that used in this paper were MODIS satellite hotspot data with 70 % confidence level, rainfall from TRMM satellite and from ground observation at South Sumatera, Air quality data (ISPU), MERRA-2 Model M2T1NXAER v5.12.4 black carbon data, also wind direction and speed at 925 mb height. Spatio temporal analysis of black carbon dispersion combined with wind speed and direction using Grid Analysis and Display System (GrADS) software. Rain intensity from 16 rainfall gauge since week two of August 2015 until end of October 2015 was 36 mm. During June-November 2015, the number on highest hotspot observed was in September (6.839) and October (7.709). Hotspot location mainly in OKI district as much as 10.581. Air quality in September 2015 mainly laid in unhealthy category, meanwhile in October 2015 laid mainly stated as unhealthy to dangerous. Wind at 925 mb height generally came from South East and East so black carbon came from fires at OKI district dispersed to Musi Banyuasin and Banyuasin district. 
KONVERGENSI ATMOSFER LAPISAN BAWAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN HUJAN EKSTRIM (STUDI KASUS: BANJIR CIREBON 15 FEBRUARI 2017) Erwin Mulyana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol. 20 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jstmc.v20i1.3943

Abstract

IntisariTelah dilakukan analisis kondisi atmosfer di berbagai lapisan ketinggian untuk melihat keterkaitannya dengan kejadian hujan ekstrim di wilayah perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah pada tanggal 15 Februari 2017. Area penelitian difokuskan di area 108.00-109.50 BT dan 6.50-7.50 LS yang merupakan area hujan ekstrim (AHE). Analisis sebaran dan waktu kejadian hujan menggunakan data GSMaP dengan resolusi 0.10 x 0.10 dan periode setiap satu jam, data satelit MERRA2 dengan resolusi 0.6250 x 0.50 dengan periode setiap 3 jam, data Radiosonde stasiun Cengkareng jam 07.00 dan 19.00 WIB, serta citra satelit Himawari 8. Hujan di wilayah AHE berlangsung pada jam 13.00–23.00 WIB dengan puncak hujan terjadi pada jam 18.00 WIB. Saat terjadi hujan ekstrim, terdapat perlambatan angin baratan di wilayah AHE serta adanya pertemuan angin dari utara dan dari selatan di wilayah tersebut. Area AHE merupakan area dengan konvergensi kuat pada level ketinggian 925 mb dan 850 mb, sebaliknya terjadi divergensi pada level ketinggian 700 mb dan 500 mb. Data Radiosonde menunjukkan kelembapan udara dari permukaan hingga lapisan 400 mb umumnya lebih dari 80%. Freezing level pada jam 07.00 WIB terdapat di level 571 mb (4.622 m) dan pada jam 19.00 WIB terdapat di level 585 mb (4.820 m).  AbstractHave been analyzed of the atmospheric conditions at various altitudes in its relationship with extreme rainfall over West Java-Central Java border area on February 15th, 2017. The study area is focused on the 108.00-109.50 East and 6.50-7.50 South, which is the extreme rainfall area (AHE). The data used in this study are GSMaP hourly rainfall (0.10 x 0.10), MERRA2 satellite three-hourly data (0.6250 x 0.50), Cengkareng Radiosonde data at 07.00 LT and 19.00 LT, and Himawari 8 Satellite imagery. The rainfall in the AHE area occurred at 13.00–23.00 LT, with the peak rainfall, occurred at 18.00 LT. The lower atmospheric westerly wind became slower over the AHE area, while the northerly and southerly wind converged at this area. The AHE area has a strong convergence at level 925 mb, and 850 mb, conversely divergence occurred at level 700 mb and 500 mb. The Radiosonde data shows that the air humidity is generally more than 80% from the surface to 400 mb. The freezing level at 07.00 LT found at 571 mb (4,622 m) while at 19.00 LT found at 585 mb (4,820 m).