Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Karawang Dutch Indies Waterworks in The Agriculture Context (BANGUNAN-BANGUNAN AIR MASA HINDIA BELANDA DI WILAYAH KARAWANG: DALAM KONTEKS PERTANIAN PADI) Libra Hari Inagurasi
Naditira Widya Vol 8 No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7138.469 KB) | DOI: 10.24832/nw.v8i1.255

Abstract

Indonesia is an agrarian country, and ricecultivation is an important sector. Agriculture has been the main subsistence of the Indonesian up until now. Karawang is one of the ricelog regions in this country. Karawang, which is a regency of Jawa Barat Province has been located at the lowland and bordered by thenorthern cost of Java. Most of the lands in Karawang are functioned as rice fields. The development shows that rice cultivation hasbeen practiced in Indonesia since early century AD. Along with the knowledge of rice cultivation, people created several types of buildings related to rice cultivation, including waterworks. The waterworks in Indonesia consisted of traditional buildings made by the local inhabitants and European-type waterworks made by the Dutch people. This article is aimed at describing the types of European waterworks as well as examining more thoroughly their function in relation to rice cultivation in Karawang. The data are obtained from a survey carried out in 2013 and from documents from the same period, which is Memorie Residen Karawang dan Batavia (Memory of the Regent of Karawang and Batavia). This article reveals various types and functions of European (Dutch) waterworks for irrigation of rice fields in Karawang, which are dams, sluicegates, and canals at Walahar and Dawuan.Indonesia merupakan negara agraris, oleh sebab itu  pertanian padi menjadi sektor penting. Hingga saat ini bercocok tanam padi menjadi matapencaharian penduduk di Indonesia. Karawang, merupakan salah satu contoh daerah penghasil padi. Karawang, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, posisi geografis berada di dataran rendah, berbatasan dengan pantai utara Jawa. Sebagian besar  lahan tanah di Karawang difungsikan sebagai persawahan padi.  Dilihat dari  perkembangannya, bercocok tanam padi telah dikenal di Indonesia sejak awal Masehi. Seiring dengan dikenalnya bercocok tanam padi maka manusia dengan kemampuannya menciptakan  jenis-jenis bangunan untuk pertanian padi. Dilihat dari perkembangannya, bangunan air di Indonesia terdiri atas bangunan tradisional yang dibangun oleh  penduduk  lokal dan bangunan air Eropa yang dibangun oleh orang-orang Belanda. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan jenis peninggalan bangunan air Eropa dan untuk mengetahui lebih jauh fungsi bangunan pada pertanian padi di Karawang. Data-data pada tulisan ini diperoleh melalui survei yang dilaksanakan pada tahun 2013. Penyajianpengetahuan tentang bangunan air Eropa dalam tulisan ini dilakukan pula dengan  penelusuran, pendeskripsian pada dokumen yang sezaman, yakni Memorie Residen Karawang dan Batavia. Di dalam tulisan ini telah berhasil diungkap beberapa macam dan kegunaan bangunan-bangunan air Eropa Belanda untuk irigasi dan pengairan sawah di Karawang, yakni kawasan bendung, pintu air, kanal di Walahar, dan di Dawuan.
POLA PEMUKIMAN KAWASAN PERKEBUNAN KARET MASA HINDIA BELANDA DI BOGOR Libra Hari Inagurasi
AMERTA Vol. 32 No. 1 (2014)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran, bahwa Bogor merupakan sebuah daerah yang kaya akan potensi perkebunan masa Hindia Belanda. Meskipun demikian belum ada tulisan yang membahas seperti apa dan bagaimanakah pemukiman di kawasan perkebunan karet masa Hindia Belanda di Bogor. Dilatarbelakangi oleh pemikiran tersebut maka tulisan ini bertujuan menampilkan kembali gambaran pola pemukiman di kawasan perkebunan karet melalui jejak-jejak yang ditinggalkan. Tulisan ini disusun melalui tahap penelusuran literatur, survei arkeologi dan lingkungan di lokasi penelitian, analisis, sintesa antara data arkeologi dan data sejarah. Gambaran pola pemukiman di kawasan perkebunan karet di Bogor dapat dibuktikan secara fisik melalui tinggalantinggalan arkeologi. Bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai rumah tempat tinggal pemilik kebun, bangunan kantor perkebunan, pengolahan getah karet, dan mausoleum, serta artefak genteng lama dan botol Eropa merupakan petunjuk keberadaan pemukiman di perkebunan karet Hindia Belanda di Bogor. Pola pemukiman perkebunan tersusun atas bangunan tempat tinggal pemilik kebun misalnya landhuis atau kantor perkebunan yang dikelilingi oleh tempat tinggal pegawai dan pekerjanya, tempat pengolahan karet. Adapun mausoleum ditempatkan berjauhan dari pusat pemukiman. Kata kunci: Bogor, Hindia Belanda, Pemukiman, Perkebunan Karet. Abstract. The Settlement Pattern of Rubber Plantation Areas from the Dutch-Indie’s Period in Bogor. This article is based on a notion that Bogor is an area rich in potency of plantations during the Dutch-Indie’s Period. However, there has not been an article that discusses what were the settlements in the rubber plantations in Bogor during the Dutch-Indie’s period like and how were life there at that time. Based on such thought, this article will reconstruct the settlement patterns in the rubber plantations through their remains, by conducting literature study, archaeological and environmental surveys in the research area, analyses, and synthesis between archaeological and historical data. The depiction of the settlement patterns in rubber plantations in Bogor can be physically proven through their archaeological remains. Buildings that were functioned as residences of plantation owners, administration building (plantation office), rubber-latex processing building, and mausoleum, as well as artefacts in forms of old roof tiles and European bottles are indications of the presence of settlements in Dutch Indie’s rubber plantations in Bogor. The settlement pattern consists of residence of plantation owner, known as landhuis, plantation office surrounded by residences of plantation workers, and rubber-latex processing building. Mausoleum is located far from the centre of settlement. Keywords: Bogor, The Dutch-Indie, Settlement, Rubber Plantation.