Aneng Kiswantoro
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perancangan Bioskop Wayang Lakon Jabang Tetuka (The Design of Shadow Puppet Movie Theater of Jabang Tetuka Play) Aneng Kiswantoro
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 4, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v4i1.3836

Abstract

AbstractThe Design of Shadow Puppet Movie Theater of Jabang Tetuka Play. This paper aimed to discuss the design of Puppet Cinema with the Jabang Tetuka play. It was assumed that by utilizing digital and audio-visual technology, puppet shows are able to compete with other performances. Puppet Cinema Pakeliran with the Jabang Tetuka play was designed based on the concept of presenting a cinema film. This concept prioritizes two things, namely audio and visual. Jabang Tetuka play was taken from the Javanese shadow puppet story. Alma M. Hawkins design method used as the design method of this work. The Hawkins method includes three stages in the design, namely exploration, experimentation, and formation. The result obtained is a puppet show (pakeliran) of puppet cinema with the Jabang Tetuka play. AbstrakTulisan ini membahas perancangan Bioskop Wayang dengan lakon Jabang Tetuka. Diasumsikan dengan memanfaatkan teknologi digital dan audio-visual, pertunjukan wayang mampu bersaing dengan pertunjukan yang lain. Pakeliran Bioskop Wayang dengan lakon Jabang Tetuka dirancang berdasarkan konsep penyajian film bioskop. Konsep ini mengutamakan dua hal yaitu audio dan visual. Lakon Jabang Tetuka diambil dari cerita wayang kulit purwa. Metode perancangan Alma M. Hawkins dipakai sebagai metode perancangan karya ini. Dalam metode Hawkins tercakup tiga tahapan dalam perancangan ialah eksplorasi, eksperimentasi, dan pembentukan. Hasil yang didapat ialah pertunjukan wayang (pakeliran) bioskop wayang dengan lakon Jabang Tetuka.
Perancangan Wacinwa: Sang Manggalayudha Aneng Kiswantoro
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 3, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v3i1.3055

Abstract

The purpose of this design work is to make Wacinwa dolls that are tailored to the interests and needs of the designer in the show. The making of puppets is motivated by the constraints in the availability of puppets for staging. Meanwhile, Wacinca is only owned by Yogyakarta’s Sonobudoyo Museum. Besides the Wacinwa doll, the collection of Sonobudoyo Museum is too small, its head is detached from the body, and it is difficult to move. The characters made are figures in working on the Wacinwa story entitled Sang Manggalayuda. The Hawkins (1991) method of designing stages is used in this work. The stages are the first stage of exploration, namely setting themes, ideas, and titles of works and thinking, imagining, feeling, and searching in order to interpret ideas and ideas. The second stage is the experimentation stage, which is trying to choose, differentiate, consider in order to find harmony and find integrity and unity in various experiments. The last stage is the formation stage, which is to determine the form of design by combining the symbols of the results of the trials conducted. After the figures of the figures are made, the designer tries to pour into the skin media, sculpted, and given coloring just like the process of making shadow puppets (purwa). The Wacinwa replica made includes puppets from Sie Jin Kwie and Khai Sou Bun. These puppets are the result of the interpretation of the designer based on the shape of the puppet collection of Sonobudoyo Museum and images in Sie Djin Koei Tjeng Tang’s comic works by Siaw Tik Kwie (Oto Suastika).Tujuan karya perancangan ini adalah membuat boneka Wacinwa yang disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan si perancang dalam pertunjukan. Pembuatan wayang dilatarbelakangi oleh adanya kendala dalam hal ketersediaan wayang untuk pementasan. Sementara ini Wacinca hanya dimiliki oleh Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Selain itu boneka Wacinwa koleksi Museum Sonobudoyo ukurannya terlalu kecil, kepalanya terlepas dari badan, dan sulit digerakkan. Tokoh-tokoh yangdibuat adalah tokoh dalam garap cerita Wacinwa berjudul Sang  Manggalayuda. Metode Hawkins (1991) tentang tahap-tahap merancang digunakan dalam karya ini. Adapun tahapan tersebut adalah pertama tahap eksplorasi, yaitu menetapkan tema, ide, dan judul karya serta berpikir, berimajinasi, merasakan, dan mencari dalam rangka menafsirkan ide dan gagasan. Tahap kedua adalah tahap eksperimentasi, yaitu mencoba untuk memilih, membedakan, mempertimbangkan dalam rangka mencari keharmonisan dan menemukan integritas serta kesatuan dalam berbagai percobaan. Tahap terakhir adalah tahap pembentukan, yaitu menentukan bentuk perancangan dengan menggabungkan simbol-simbol hasil dari uji coba yang dilakukan. Setelah gambar tokoh-tokoh tersebut jadi, perancang mencoba untuk menuangkan ke dalam media kulit, dipahat, dan diberi pewarnaan seperti halnya proses pembuatan wayang kulit (purwa). Replika Wacinwa yang dibuat antara lain wayang tokoh Sie Jin Kwie dan Khai Sou Bun. Wayang-wayang ini merupakan hasil interpretasi perancang berdasarkan bentuk wayang koleksi Museum Sonobudoyo dan gambar dalam komik Sie Djin Koei Tjeng Tang karya Siaw Tik Kwie (Oto Suastika).
Lakon Brajadenta Brajamusthi: Sebuah Respon terhadap Lakon Brajadenta Mbalela Saputra, Sumantri Adi; Kiswantoro, Aneng
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i1.10798

Abstract

AbstrackThis research aims to portray the origins of Raden Brajadenta and Raden Brajamusthi, as well as their death by Raden Gathutkaca. For the purpose, initial observations were made by watching shadow puppet performances and studying its literature. In addition, interviews with notable masters of Yogyakarta-style puppetry were conducted for more story references. The asma kinarya japa approach was used as a concept for compiling a new story adaptation. Asma kinarya japa is an approach used to track down the etymology of characters’ names in a shadow puppet performances. Microcosmical and macrocosmical context-based interpretation of meanings were derived. Afterwads, the Brajadenta Brajamusthi puppet performance with story adaptation was composed. The puppet master’s ideas were expressed in themes, main ideas, characterizations, settings, and plots of the story. The results indicate that the Braja sometimes originate from the magical power of Aji Gandawastra belonged to Prabu Pandhu which was given to Prabu Tremboko. The theme conveyed in the Brajadenta Brajamusthi performance is life perfection. This work conveys the idea that Brajadenta and Brajamusti originating from Aji Gandawastra with the wind aspect in themselves, ultimately, achieve life perfection by uniting with the ruler of the wind in Raden Gathutkaca.AbstrakTujuan penciptaan karya ini untuk memaparkan asal-usul Raden Brajadenta dan Raden Brajamusthi, serta peristiwa kematian mereka oleh Raden Gathutkaca. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan observasi awal melalui pengamatan terhadap pertunjukan wayang kulit dan studi pustaka. Selanjutnya dilakukan wawancara dengan tokoh pedalangan gaya Yogyakarta untuk menambah referensi cerita. Pendekatan asma kinarya japa digunakan sebagai konsep menyusun sanggit baru. Asma kinarya japa merupakan pendekatan yang digunakan untuk menelusuri arti nama-nama tokoh dalam sebuah lakon wayang berdasarkan etimologi. Kemudian dari arti tersebut ditafsirkan maknanya atas dasar konteks, baik konteks mikrokosmos maupun makrokosmos. Langkah terakhir ialah penyusunan lakon Brajadenta Brajamusthi menggunakan teori sanggit lakon. Gagasan pengkarya dituangkan dalam tema, gagasan pokok, penokohan, setting, dan alur. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis, didapat asumsi bahwa kadang Braja berasal dari daya kesaktian Aji Gandawastra milik Prabu Pandhu yang diberikan kepada Prabu Tremboko. Tema yang akan disampaikan dalam lakon Brajadenta Brajamusthi ialah kesempurnaan hidup. Jadi karya ini menyampaikan sebuah pemikiran bahwa Brajadenta dan Brajamusti yang berasal dari Aji Gandawastra dengan aspek angin dalam diri mereka, pada akhirnya mencapai kesempurnaan hidup dengan cara bersatu dengan penguasa angin yang ada dalam diri Raden Gathutkaca.
Konsep Kepemimpinan Mangkunegara IV dalam Cerita Patih Suwanda Aneng Kiswantoro
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.11354

Abstract

AbstractThis study aims to identify behaviors reflecting guna kaya purun leadership values in Premier Suwanda. Literature study was used to determine the research perspective and summary of Premier Suwanda’s journey was obtained from various sources, spoken and written. The analysis was then conducted using the concept of guna kaya purun according to the Serat Tripama. The results show that purun, guna kaya concept is very useful for leadership principle. Capability (purun) in all matters is the first and foremost thing and the key to life. A sense of capability (purun) will motivate us to complete everything with intelligence, ownership, and ability (guna kaya) to achieve the best possible results. As a leader, people must utilize their best capacities and abilities to benefit others.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan perilaku yang mencerminkan guna, kaya, purun dalam diri tokoh Patih Suwanda sebagai nilai-nilai kepemimpinan. Langkah awal penelitian ini adalah studi pustaka untuk menentukan point of view penelitian, selanjutnya meringkas perjalanan Patih Suwanda berdasarkan berbagai sumber baik lisan, buku, karya, maupun dokumen lainnya. Selanjutnya dilakukan analisis menggunakan konsep guna kaya purun menurut Serat Tripama. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep purun, guna, kaya sangat baik untuk kita jadikan prinsip kepemimpinan. Kesanggupan (purun) dalam segala hal merupakan hal pertama dan utama serta kunci dalam hidup. Apabila kita memiliki rasa sanggup (purun) maka akan mendorong kita untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan kepintaran, kepemilikan, dan kemampuan (guna, kaya), untuk mencapai hasil sebaik- baiknya. Sebagai seorang pemimpin, maka gunakanlah kapasitas dan kemampuan kita semaksimal mungkin supaya berguna bagi orang lain maupun sesembahan kita.