Latar belakang: Penyakit kecacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Kondisi sanitasi lingkungan yang belum memadai, kebersihan pribadi, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi rendah dan perilaku hidup bersih dan sehat merupakan faktor-faktor yang mempengaruh kejadian kecacingan. Sementara itu penyakit kecacingan di Kabupaten Langsa Barat masih tinggi yaitu 56,6%. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian cross-sectional. Data diambil dengan menyebarkan kuesioner pada 46 orang ibu yang mempunyai balita di Desa Kuala Langsa  dengan teknik proportional sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan Uji Chi-square dan Uji Regresi Logistik berganda pada α = 5%. Hasil: Hasil analisis menunjukkan variabel cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun (p-value 0,018), dan saluran pembuangan air limbah (p-value 0,009) berpengaruh signifikan terhadap kejadian kecacing pada balita. Variabel yang tidak berpengaruh terhadap infeksi kecacingan adalah: penggunaan air bersih, penggunaan jamban, ketersediaan air bersih, sarana pembuangan sampah, dan ketersediaan jamban. Variabel yang paling dominan mempengaruhi infeksi kecacingan pada balita adalah cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun. Kesimpulan: Diharapkan kepada ibu untuk lebih membiasakan cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun sebelum memberi makan anaknya, setelah buang air besar (BAB), dan buang air kecil (BAK). Selain itu diharapkan untuk selalu memantau anaknya dalam bermain terutama yang berinteraksi dengan tanah serta pihak ibu harus memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar.