Yulizar Abidarda
Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peer Counseling : Upaya Dalam Meminimalisir Masalah Remaja Akhmad Rizkhi Ridhani; Yulizar Abidarda
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2020): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v4i1.2742

Abstract

ABSTRAK Masa kian berubah dari tahun ke tahun, seiring perubahan tersebut tentunya banyak fenomena yang kita lihat dan rasakan, tak terkecuali fenomena masalah yang terjadi di remaja, khususnya di Indonesia. Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mulai tumbuh dari masa kanak-kanak menuju masa penemuan jati diri, dimana pada saat-saat seperti itulah biasanya para remaja akan bertingkah sembarangan tanpa memikirkan akibat apa yang akan terjadi dari perbuatannya tersebut. Sering kali dengan kelakuan sembarangannya itu para remaja mendapatkan masalah yang tidak ringan. Maka oleh sebab itu perlu dicanangkan program peer-counseling bagi remaja sehingga mereka dapat mengungapkan masalahnya dengan memanfaatkan teman sejawat. Hubungan sebaya memiliki peranan yang kuat dalam kehidupan remaja, hubungan sebaya ini menimbulkan suatu hubungan saling percaya antar teman sebaya. Hubungan ini dapat menimbulkan suatu perilaku dimana remaja lebih percaya terhadap teman sebaya daripada dengan orang tua, sehingga pembentukan dan pelatihan konselor sebaya dapat menjadi suatu pilihan yang tepat dalam upaya membentengi anak atau remaja dari pengaruh negatif lingkungan sekitarnya.Kata Kunci: masalah remaja; peer counseling. ABSTRACTThe period has changed from year to year, as these changes certainly have many phenomena that we see and feel, including the phenomenon of problems that occur in adolescents, especially in Indonesia. Adolescence is a period where a person begins to grow from childhood to the time of discovery of identity, where at times like that usually the teenagers will act carelessly without thinking about the consequences of what will happen from these actions. Often with careless behavior, teenagers get problems that are not light. Therefore, it is necessary to launch a peer-counseling program for adolescents so that they can express their problems by using colleagues. Peer relationships have a strong role in adolescent life, this peer relationship creates a trusting relationship between peers. This relationship can lead to a behavior where adolescents are more trusting of peers than with parents, so the formation and training of peer counselors can be an appropriate choice in an effort to fortify children or adolescents from the negative influences of the surrounding environment.Keywords: peer counseling; youth problems.
DINAMIKA KEPRIBADIAN ISLAMI (Studi Fenomenologi Masyarakat Kabupaten Banjar) Yulizar Abidarda; Akhmad Rizkhi Ridhani
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 7 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v7i1.11139

Abstract

Layanan bimbingan dan konseling merupakan bentuk layanan yang diberikan oleh konselor kepada konseling untuk mengoptimalisasikan potensi yang dimiliki oleh konseli tersebut. Maka oleh sebab itu penting bagi seorang konselor untuk dapat memahami kondisi konseli agar mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kondisi masalah yang dihadapi oleh konseli. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk menemukan dinamika kepribadian islami melalui studi fenomenologi masyakatar di kabupaten banjar. Metode penelitian yang digunakan yakni melalui pendekatan kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi. Hasil yang diperoleh yakni d kepribadian islam masyarakat terbentuk dari aktivitas agamis yang dilakukan secara dinamis dengan mengikuti kegiatan pengajian untuk memperoleh pengetahuan tentang agama dan tata cara beragama, serta mengamalkan pengetahuan agama tersebut dalam kesehariannya seperti bersikap, berperilaku, dan berkomunikasi sesuai pedoman al-quran, hadis, dan sumber pendukung lain yang disepakati oleh alim ulama. Kemudian dari pada itu dinamika kepribadian islami berkaitan langsung dengan nafsun, yang dimana nafsu tersebut terbagi menjadi 3 bagian yakni : (1) nafsu amaratau bi as-Su’  merupakan kesadaran manusia yang lebih dominan pada tabiat pemuasan hasrat, kemudian dari pada itu (2) nafsu lawwamah merupakan kekuatan psikis (jiwa) yang telah sadar menggunakan logikanya untuk berpikir rasional sehingga menyadari akan tindakan yang salah, selanjutnya (3) nafsu al-mutmainnah merupakan kekuatan psikis yang membawa jiwa kepada tuntunan, petunjuk, serta pemeliharaan yang baik.