Anjar Nugroho
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Ali Shari’ati’s revolutionary Islamic thought and its relevance to the contemporary socio-political transformation Anjar Nugroho; Tulus Warsito Surwandano
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 7, No 2 (2017): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v7i2.251-276

Abstract

Ali Shari’ati emerged as an enlightened intellectual figure in the phenomenonof the authoritarian and oppressive power of the Syah Pahlavi regime. Shari’atiappeared as a pioneer of radical ideas about Islam and the revolution whichstemmed from the Shi’a teachings that had been grafted into the revolutionary tradition of the Third World and Marxism. Shari’ati succeeded in establishing a revolutionary Islamic ideology that became the basis of the mass collective consciousness against the regime of the Syah. In Shari’ati’s thought, Islam is an emancipatory ideology and liberation. The progressive and revolutionary view of Shari’ati’s Islam derives from a belief system of tauhid. While tauhid in Shari’ati’s view is the unity among God, man and the universe, the society which is full of social discrimination, injustice, and arbitrariness can be categorized as Shirk, the opponent of tauhid. In the context of the Iranian revolution, the Shari’ati’s Islamic thought and ideology became the fourth  t-text-stroke-width: 0px; " bridge or road from the ideological stalemate of the pre-revolutionary opposition movement, which is between secularist-nationalist, Marxist-Communistand Islamic Fundamentalism. Further, Shari’ati’s ideology paved the way forthe acceptance of Imam Khomeini as a revolutionary leader. This paper aimsto contextualize Ali Shari’ti’s views on socio-political change in Indonesia.Ali Shari’ati muncul menjadi sosok intelektual tercerahkan dalam fenomenakekuasaan rezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas. Shari’ati lalu tampilsebagai pelopor gagasan-gagasan radikal tentang Islam dan revolusi yang bersumberdari ajaran Syi’ah yang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner DuniaKetiga dan Marxisme. Ali Shari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioneryang kemudian menjadi basis kesadaran kolektif massa menentang kekuasaan rezimSyah. Dalam pemikiran Shari’ati, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi danpembebasan. Pandangan Islam Ali Shari’ati yang progresif dan revolusionerbersumber pada satu sistem keyakinan yaitu tauhid. Jika tauhid dalam pandanganShari’ati adalah kesatuan antara Tuhan, manusia dan alam semesta, maka kondisimasyarakat yang penuh diskriminasi sosial, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangandapat dikategorikan sebagai syirk, lawan dari tauhid. Dalam konteks revolusi Iran,tawaran pemikiran dan ideologi Islam Syari’ati menjadi jembatan atau jalan keempatdari kebuntuan ideologi gerakan oposisi pra-revolusi, yaitu antara nasionalis-sekuler,Marxis-Komunis dan Fundamentalisme Islam. Ideologi Shari’ati melapangkanjalan bagi diterimanya Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusioner. Tulisanini hendak mengkontekstualisasikan pemikiran Ali Shari’ati dalam perubahan sosialpolitik di Indonesia.
DISKURSUS MUSLIM ABAD PERTENGAHAN TENTANG AGAMA DAN SEKTE Anjar Nugroho
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 2 (2017): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i2.3923

Abstract

Artikel ini mengkaji ciri-ciri risalah Muslim Abad Pertengahan tentang agama dan sekte. Sejumlah ilmuwan Muslim menulis lebih dari beberapa karya yang berkaitan dengan studi agama dan antar budaya. Namun, sebagian besar ilmuwan memiliki fokus yang sama: baik “agama Al-kitab” atau “ajaran sesat Muslim”, sementara yang lain melangkah lebih jauh dengan penjelasan mendalam tentang tradisi keagamaan Hind. Dalam membahas agamaagama alkitabiah dan ajaran sesat Muslim, kecenderungan umum, teknik, dan metode yang digunakan oleh para penulis Muslim di era abad pertengahan kebanyakan bersifat polemik dan apologetis. Selain itu, jenis informasi yang diperoleh ilmuwan abad pertengahan Muslim, menurut penulis, biasanya merupakan studi regional dan lintas budaya yang kadang-kadang mencakup diskusi mengenai gagasan keagamaan atau komunitas religius. Sejalan dengan ekspansi politik dan budaya Muslim, pengamatan para pengamat Muslim dan penulis pada saat itu tidak terbatas pada masyarakat, agama dan budaya di semenanjung Arab dan Persia, namun juga menghidupkan Hind dan bahkan China. Paling tidak, tiga kategori informasi yang berbeda dapat dilihat lebih jauh dalam karya mereka: beberapa ilmuwan Muslim menekankan apresiasi mereka terhadap studi budaya, beberapa terkonsentrasi pada laporan saksi mata mereka mengenai wilayah tertentu dan informasi geografinya, dan yang lainnya menyediakan karya ensiklopedi dan intisari
Rekonstruksi Pemikiran Fikih: Mengembangkan Fikih Progresif-Revolusioner Anjar Nugroho
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic University of Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4176.466 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v9i1.508

Abstract

Tulisan ini melakukan kajian ulang secara kritis terhadap teori-teori usul fikih yang selama ini telah memasung fikih menjadi sekedar kumpulan hukum statis yang tidak bisa berbicara apa-apa terhadap problem masyarakat. Tulisan ini akan memaparkan pemikiran fikih baru yang berasal dari para pemikir Islam progresif-revolusioner, seperti misalnya Ali Syariati dan Hassan Hanafi. Dalam tulisan ini akan dielaborasi lebih lanjut sebagai sebuah tulisan utuh tentang konsep fikih progresif-revolusioner dengan berangkat dari pokok-pokok masalah sebagai berikut: Pertama, tentang apa yang menjadi tujuan dan orientasi fikih progresif-revolusioner. Kedua, tentang bagaimana rekonstruksi usul fikih untuk mendukung bangunan fikih progresif-revolusioner. Dan ketiga, tentang apa yang menjadi proyek strategis revolusi sosial dalam rangka menggerakkan fikih progresif-revolusioner dalam dataran praksis. Fikih progresif-revolusioner adalah alternatif atas kebekuan ajaran Islam dewasa ini yang telah dikungkung oleh bentuk-bentuk pemikiran konservatif yang selalu mempertahankan sesuatu yang sudah mapan. Fikih progresif-revolusioner merupakan bentuk progresifisme pemikiran Islam yang ingin mengembalikan misi ajaran Islam pada otentisitasnya, yaitu semangat pembebasan. Membebaskan umat dari bentuk-bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan yang telah membuat umat menjadi sengsara dengan kemiskinannya dan keterbelakangannya.