Abstract PT. Pegadaian makes an agreement with the borrower when the pawn company decides to make a lending. This agreement, which is made by PT. Pegadaian, shall be acknowledged by customer when the customer borrows money. Such payable-receivable agreement may explain the collateral rate given by the customer to the pawn company as the guarantee that the customer will repay in full rate the principal and interest, and also as the guarantee for repayment of principal and interest in the case of default because the pawn company can put the collateral into auction. Pawn is accessoir agreement while main agreement is loan-borrow agreement with current asset used as collateral, including gold. The provision of pawn is regulated at Civil Code, Book II, Chapter XX, Article 1150-1161. The verification of pawn agreement is similar to the requirement of other agreement, and it is already regulated in Article 1320 of Civil Code. In administering gold collateral, PT. Pegadaian remains pursuant to Article 1977 of Civil Code. However, PT. Pegadaian must apply the principles in cautious manner to accept pawned collateral because the pawn company must track strictly who is the legal owner of the gold. The pawn company must be more specific in making payable-receivable agreement such as by providing a clause in the agreement stating that gold used as the collateral into the pawn company is definitely owned by customer. Â Key words: pawn, collateral, standard agreement of payable-receivable, customer, PT. pegadaian Abstrak Dalam memberikan pinjaman PT. Pegadaian (persero), melakukan perjanjian dengan peminjam uang (Nasabah). Perjanjian tersebut, dibuat oleh PT. Pegadaian, yang harus ditandatangani oleh nasabah pada saat nasabah meminjam uang. Dalam perjanjian utang piutang berisi mengenai jaminan yang diberikan pihak nasabah kepada pegadaian sebagai jaminan pihak nasabah akan membayar lunas uang pinjaman beserta bunganya yang telah diberikan pihak pegadaian pada nasabah, atau sebagai jaminan pelunasan utang beserta bunga apabila nasabah tidak dapat melunasi utang beserta bunganya, maka pihak pegadaian akan melelang barang yang dijadikan jaminan oleh nasabah melalui lelang. Gadai merupakan perjanjian accesoir (tambahan) sedangkan perjanjian pokoknya adalah perjanjian pinjam meminjam uang dengan jaminan benda bergerak termasuk juga emas. Ketentuan mengenai gadai diatur dalam KUHPerdata buku II bab XX, pasal 1150-1161. Untuk sahnya perjanjian gadai sama halnya dengan syarat sahnya perjanjian pada umumnya, yang diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata. Mengenai barang jaminan emas PT.Pegadaian berpegang pada pasal 1977 KUHPerdata. Meskipun demikian PT.Pegadaian harus menerapkan Azas kehati-hatian dalam menerima barang jaminan gadai, harus ditelusur secara cermat dan teliti siapa pemilik yang sah dari emas tersebut. Pihak pegadaian dalam membuat perjanjian utang piutang harus lebih spesifik dalam menbuat klausul dalam perjanjian supaya emas yang dijadikan barang jaminan yang diterima pegadaian benar-benar milik nasabah. Â Kata kunci: gadai, jaminan, perjanjian baku utang piutang, nasabah, PT. pegadaian