Haryadi Haryadi
Universitas Sriwijaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

FENOMENA KEKERASAN BAHASA DI KOTA PALEMBANG Haryadi Haryadi
Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.826 KB)

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fenomen kekerasan bahasa yang terjadi di kota Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pengamatan langsung di lapangan. Teknik yang digunakan adalah dengan teknik dokumentasi, yaitu dengan memotret tulisan yang ada di sudut-sudut kota Palembang. Tempat yang diamati di antaranya kompleks  perumahan, perkampungan padat penduduk,  di kebun, tempat pembuangan sampah, dan lain-lain.  Hasil yang diperoleh adalah terdapat sembilan  ungkapan kata, yaitu sebagai berikut. (1) “Pemulung Masuk Digebuk!”; (2)  “Ngebut Benjut”; (3) “Dilarang Kencing Di Sini, Kecuali Anjing!”; (4) “Masuk Tanpa Salam, Keluar Tanpa Kepala”; (5) “Merokok Membunuhmu”; (6) “Yang Merokok Harus Dimatikan”;  (7)  “Yang Membawa Hp Harus Dimatikan” (8) “Orang Pintar Lampu Hijau Baru Jalan”; (9)  “Hanya Monyet Yang Boleh Buang Sampah.” Dari ungkapan-ungkapan tersebut masyarakat cenderung menggunakan bahasa yang serampangan dan asal-asalan. Hal ini terjadi  karena komunikan menginginkan kemudahan dalam memilih kalimat yang digunakan. Kesalahan dalam penggunakan kata atau ungkapan akan berakibat fatal. bagi penerima pesan. Dalam ungkapan atau tulisan tertentu secara langsung akan menimbulkan interpretasi yang berbeda dari pembaca. Oleh karena itu, hindari kata-kata yang kasar. Buatlah kata-kata yang santun. Dengan kata-kata yang santun, maka akan membentuk budaya yang santun pula, sebaliknya dengan kata-kata yang kasar akan membentuk budaya yang beringas.