This Author published in this journals
All Journal Media Wisata
Santosa
Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Studi tentang Uang Kiriman Mahasiswa sebagai Penyebab Kegagalan Belajar Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 1 (2003): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2337.939 KB) | DOI: 10.36276/mws.v2i1.29

Abstract

Sumber kesulitan belajar mahasiswa di Perguruan Tinggi pada dasarnya sama dengan sumber kesulitan belajar bagi siswa ataupun mahasiswa di berbagai strata pendidikan. Munculnya kesulitan belajar pada umumnya dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu sumber internal (dalam diri individu) dan sumber eksternal (luar diri individu). Namun demikian kedua sumber tersebut masing-masing memiliki sub faktor yang cukup beragam. Mengidentifikasi sub faktor saja nampaknya sangat kesulitan. Karena sub faktor kesulitan belajar pada umumnya berjalan secara bersamaan (simultan). Demikian halnya dengan mengukur kontribusi salah satu sub faktor akan sangat sulit karena keterlibatan/keterkaitan antara satu sub faktor dengan sub faktor yang lain. Tanda sebagai mahasiswa mengalami kesulitan belajar adalah rendahnya hasil belajar yang diukur melalui besarnya Indeks Prestasi mahasiswa tersebut (selanjutnya ditulis IP). Ukuran normatif IP yang rendah adalah dibawah 2,00, atau mahasiswa tersebut mengalami penurunan yang relatif lebih besar (lebih dari 0,5) pada tiap-tiap semesternya. Dalam penelitian ini disoroti faktor eksternal yaitu sub faktor ekonomi keluarga khususnya mengenai uang kiriman mahasiswa. Dan dari hasil studi empiris tentang sub faktor tersebut, menunjukkan bahwa sub faktor uang kiriman mahasiswa tidak merupakan faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar sehingga mengakibatkan kegagalan belajar. Artinya bahwa beberapa responden yang menerima uang kiriman sedikit/relatif rendah tidak semuanya mengalami kegagalan dalam belajar. Sebaliknya responden yang menerima uang kiriman lebih banyak/cukup tinggi tidak semua sukses dalam belajarnya.
Sikap Mahasiswa dalam Memilih Tempat Kos Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 1 (2003): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3238.604 KB) | DOI: 10.36276/mws.v2i1.32

Abstract

Fenomena tempat tinggal sementara bagi mahasiswa (rumah kost/kontra) di Yogyakarta telah menjadi kajian yang sangat menarik, karena semakin banyaknya jumlah mahasiswa luar Yogyakarta yang melakukan studi lanjut di Yogyakarta. Fenomena ini telah membawa pengaruh dengan semakin suburnya usaha jasa tempat tinggal sementara. Layaknya sebuah produk yang memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan, maka semakin tahun semakin banyak pengusaha rumah tinggal sementara baik orang asli Yogyakarta maupun orang luar Yogyakarta. Mahasiswa sebagai konsumen yang berdaya beli potensial memiliki berbagai alternatif penilaian terhadap berbagai atribut yang melekat pada produk jasa rumah tinggal tersebut. Banyaknya atribut yang melekat tersebut akan berpengaruh pada sikap mahasiswa dalam menentukan pilihan rumah tinggal sementara. Karena sikap merupakan faktor utama dalam menentukan pilihan pembelian. Sikap akan dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya adalah jenis Perguruan Tinggi. Pada mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri relatif lebih sederhana dalam memilih tempat tinggal sementara, sedangkan kebanyakan mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta relatif lebih teliti dalam melakukan tindakan pembelian jasa rumah tinggal sementara. Kenyataan ini akan berimplikasi pada penyediaan berbagai macam produk rumah tinggal sementara yang disesuaikan dengan atribut yang dipilih oleh mahasiswa.
Manajemen Pelayanan Industri Jasa Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5325.36 KB) | DOI: 10.36276/mws.v2i2.36

Abstract

Perkembangan sektor jasa seiring dengan perkembangan perekonomian dunia. Di negara maju perkembangan sektor jasa justru melebihi sektor manufaktur dan industri barang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa semakin diperlukan oleh manusia. Pengelolaan industri jasa memiliki spesifikasi yaitu lebih menekankan dalam keterlibatan sumber daya manusia, artinya dalam industri jasa manusia berperan sangat penting dibanding faktor produksi yang lain (modal, teknologi). Kepentingan faktor tenaga kerja ini mengandung arti bahwa pelanggan lebih banyak mengharapkan adanya kontak langsung (direct contact) dalam proses pertukaran. Dengan demikian pelanggan dapat langsung memberikan penilaian tentang kinerja produk jasa memuaskan atau tidak memuaskan. konsekuensi terjadinya kontak langsung antara pembeli dan penjual itulah yang dinilai sebagai faktor pelayanan, oleh karenanya pelayanan telah menjadikan produk jasa bernilai tinggi dan rendah. Untuk menjamin kepuasan pelanggan maka penyelenggara jasa harus siap setiap waktu dalam keadaan prima (service excellent). Berkaitan denga hal diatas sebab itu pengelolaan organisasi jasa baik dalam hal pemasaran maupun dalam hal penyelenggaraan jasa bersifat sangat labil artinya sangat sulit untuk bisa diukur. Oleh sebab itu produk jasa sangat sulit distandarkan. Memasarkan dan mengelola produk jasa tidak sekedar janji tetapi harus bukti, memasarkan produk jasa diawali dari penyampaian tentang informasi produk, proses produk dan pelayanan pasca pembelian produk (after sales service).
Menyikapi Bisnis Jasa Pariwisata melalui Bauran Pemasaran Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3417.269 KB) | DOI: 10.36276/mws.v2i2.38

Abstract

Salah satu aktivitas dari sebuah industri adalah menciptakan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sedangkan salah satu aktivitas marketing adalah melakukan penjualan. Dalam aktivitas ini pemasar (marketer) meletakkan berbagai indikator agar barang dan atau jasa bisa tepat pada sasaran (target market). Indikator-indikator tersebut lebih sering dikenal dengan bauran pemasaran (marketing mix) yang oleh Mc. Carthy dikenal dengan 4 P (product, price, place and promotion). Dalam industri jasa indikator 4 P tersebut tentunya kurang lengkap karena produk jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk industri fisik (barang murni). Kenyataan ini menunjukkan perlunya pebisnis mengadakan pengkajian tentang bauran pemasaran pada produk jasa.
Membangun Organisasi Customer-Driven Santosa
Media Wisata Vol. 3 No. 1 (2005): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4886.714 KB) | DOI: 10.36276/mws.v3i1.44

Abstract

Meningkatnya pengetahuan pelanggan memiliki implikasi strategies bagi pengusaha. Pelanggan semakin cerdik, selektif dalam pengambilan keputusan dalam pembelian, karena barang yang tersedia semakin beraneka ragam, harga sangat kompetitif. Dalam keadaan seperti ini pengusaha perlu memperhatikan aspek-aspek non fisik dalam berusaha. Aspek non fisik yang dimaksud adalah bagaimana perusahaan mengelola pelanggan baik dalam arti bagaimana perusahaan memelihara dan mempertahankan pelanggan menjadi hal yang penting. Memelihara pelanggan dengan selalu berupaya pada pemuasan pelanggan dalam arti kata upaya secara berkesinambungan memberikan pelayanan kepada konsumen. Perusahaan hendaknya memahami bahwa keberadaan pelanggan adalah aset yang paling besar dan berperan dalam jangka panjang. Beberapa langkah perlu dilakukan oleh perusahaan dalam upaya mendorong organisasi pembeli sehingga menjadi pelanggan yang loyal. Mulai dari penyusunan marketing plan yang dapat mengakomodasi segala kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen sampai dengan pengembangan marketing mix yang tidak saja mencakup 4 P tetapi 7 P
Studi tentang Perbedaan Kinerja Karyawan Hotel Berbintang Santosa
Media Wisata Vol. 4 No. 1 (2010): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6941.497 KB) | DOI: 10.36276/mws.v4i1.54

Abstract

Studi tentang perbedaan prestasi kerja (kinerja) lulusan Stipar Ampta ini dilakukan di 7 (tujuh) hotel berbintang 4 dan bintang 5 di Yogyakarta, dengan sampel sebanyak 93 (sembilan puluh tiga) responden penelitian. Tujuan dari penelitian ini dimaksudkan untuk memastikan apakah ada perbedaan yang signifikan antara prestasi kerja karyawan lulusan Stipar AMPTA dengan karyawan lulusan Perguruan Tinggi lain pada jenjang diploma III jurusan perhotelan. Adapun hasil dari penelitian ini ternyata tidak terdapat perbedaan secara statistik (menerima Ho dan menolak Ha) dari prestasi kerja karyawan. Hal ini dimungkinkan karena prestasi kerja karyawan di beberapa hotel yang dijadikan obyek penelitian terdapat banyak faktor / elemen penilaian prestasi kerja, yang berada diluar prestasi perguruan tinggi. Akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa hotel bisa dengan leluasa memilih / merekrut karyawannya tanpa melihat darimana asal perguruan tingginya.