Julia Ike Haryanto
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE LEVEL OF UNDERSTANDING OF GENERAL DOCTORS AND SPECIALIST DOCTORS IN THE MAKING OF VISUM ET REPERTUM IN SEMARANG CITY Wahyu Purnomo Adji; Intarniati Nur Rohmah; Julia Ike Haryanto; Edward Kurnia Setiawan
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL (JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO) Vol 9, No 1 (2020): DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( Jurnal Kedokteran Diponegoro )
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University, Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.709 KB) | DOI: 10.14710/dmj.v9i1.26562

Abstract

Background: Visum et repertum is a form of report addressing the condition of human bodies, both living and dead. The reality is that in the field there are still mistakes in making VeR that can influence court decisions, this is also reinforced by the findings of research data that had been done before. Aim: To determine the level of understanding of general doctors and specialists (Obstetrics and Gynecology and Surgery) in making VeR in Semarang City. Methods: Descriptive study of 34 doctors consisting of 16 general doctors, 10 surgeons and 8 obstetricians and gynecologists. The procedure of the research involved collecting data using a questionnaire consisting of the VeR section. The data are sorted according to the group of respondents and description is done. Results: Descriptive analysis showed that the level of understanding of 16 general doctors was categorized as medium with a value of 71.43 % with: 8 doctors (50 %) good questionnaire value, 6 doctors (37.5 %) medium questionnaire value, and 2 doctors (12.5 % ) bad questionnaire value. The level of understanding of 10 surgeons is categorized as good with a value of 76.43 % with: 4 doctors (40 %) good questionnaire value, 6 doctors (60 %) medium questionnaire value, and no bad value. The level of understanding of 8 obstetrics and gynecology specialists was categorized as good with a value of 76.17 % with: 4 doctors (50 %) good questionnaire value, 4 doctors (50 %) medium questionnaire value, and no bad scores. Conclusion: The level of understanding of general doctors was medium with a value of 71.43%, the surgeon specialist was categorized good with a value of 76.43% and obstetricians and gynecology specialists were categorized good with a value of 76.17%.Keywords: level of understanding, visum et repertum
Kekerasan Fisik Non-Abdomen pada Perempuan Hamil dalam Hubungan Pacaran yang Berdampak pada Fetal Distress : Laporan Kasus Maytie Retnowulan; Bianti Hastuti Machroes; Intarniati Nur Rohmah; Julia Ike Haryanto
Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Forensik dan Medikolegal Indonesia
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jfmi.2026.7.2.22146

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan fisik dalam hubungan pacaran pada perempuan hamil merupakan masalah kesehatan dan medikolegal yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Trauma pada ibu hamil tidak harus mengenai abdomen secara langsung untuk menimbulkan gangguan janin. Trauma tumpul non-abdomen dapat menyebabkan gangguan perfusi uteroplasenta melalui respons stres maternal, perubahan hemodinamik, dan pelepasan hormon stres yang berujung pada fetal distress. Kasus: Dilaporkan seorang perempuan hamil usia kehamilan 8 bulan datang ke RSUP Dr. Kariadi sebagai korban kekerasan fisik oleh pacarnya. Korban mengalami trauma tumpul berupa tamparan pada pipi kanan dan pukulan pada tungkai atas kanan menggunakan tangan kosong. Pemeriksaan fisik menunjukkan luka memar pada pipi kanan berukuran 4 × 3 cm dan memar pada tungkai atas kanan berukuran 20 × 8 cm. Pemeriksaan obstetri menunjukkan janin intrauterin tunggal dengan denyut jantung janin meningkat hingga 166 bpm disertai ancaman persalinan prematur tanpa trauma langsung abdomen maupun kelainan plasenta. USG menunjukkan plasenta dan cairan ketuban dalam batas normal, sedangkan kardiotokografi menunjukkan kategori I dengan takikardia janin. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan perfusi uteroplasenta akibat stres maternal. Penanganan dilakukan secara multidisiplin serta disertai evaluasi forensik. Kesimpulan: Trauma tumpul non-abdomen pada perempuan hamil tetap berisiko menyebabkan fetal distress melalui mekanisme stres maternal dan gangguan perfusi uteroplasenta. Penanganan cepat, multidisiplin, dan evaluasi medikolegal komprehensif diperlukan untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin.