Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Karakteristik Dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Sidomulyo Dendy Chandra Wiguna Junaedi; Rizki Nur Azmi
Jurnal Kesehatan Republik Indonesia Vol 1 No 8 (2024): JKRI - Agustus 2024
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor utama yang mempengaruhi hasil pengobatan pada individu dengan diabetes mellitus tipe 2 adalah ketidakpatuhan terhadap pengobatan. Ciri-ciri pasien merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kepatuhan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan bagaimana individu dengan ciri-ciri diabetes melitus tipe 2 dan kepatuhan pengobatan berhubungan satu sama lain. Pada Mei 2023, penelitian cross-sectional dilakukan di Puskesmas Sidomulyo di Samarinda. Purposive sampling digunakan untuk memilih sampel 23 pasien dengan diabetes melitus tipe 2 untuk penelitian ini. Kuesioner Skala Kepatuhan Pengobatan Morisky (MMAS-8) digunakan untuk mengukur kepatuhan pengobatan. Skor pada skala dibagi menjadi dua kategori: kepatuhan tinggi (skor 0-3) dan kepatuhan rendah (skor 3-8). Usia, jenis kelamin, dan pencapaian pendidikan semuanya mengungkapkan ciri-ciri pasien. Tes Chi-square digunakan untuk mengevaluasi data dan menentukan apakah ada korelasi antara fitur dan kepatuhan pengobatan menggunakan SPSS versi 24. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada enam responden dengan kepatuhan tinggi (26,1%), delapan belas pasien dengan kepatuhan rendah (73,9%). Usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan pasien tidak berkorelasi secara signifikan dengan kepatuhan pengobatan (p > 0,05). Jelas dari data bahwa pasien diabetes tipe 2 masih mematuhi rejimen resep mereka, meskipun pada tingkat yang rendah. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi variabel yang dapat memengaruhi kepatuhan.
Antiepileptic Drug Prescribing Patterns and Seizure Control Among Outpatients with Epilepsy at a Public Hospital in Indonesia Muhammad Faqih; Zakky Cholisoh; Nirma Seftiyanti; Ambar Yunita Nugraheni; Rizki Nur Azmi
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 12 No 2 (2025): J Sains Farm Klin 12(2), August 2025
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.12.2.156-166.2025

Abstract

Background: Epilepsy affects nearly 50 million people globally, including approximately 700,000–1.4 million in Indonesia, with 70,000 new cases reported annually. Objective: This study aimed to determine antiepileptic drug (AED) prescribing patterns and to examine their association with seizure control outcomes in patients with epilepsy. Methods: A descriptive cross-sectional analysis was conducted using 185 outpatient prescriptions. Data on patient demographics, seizure frequency, and AED regimens were collected. Patterns of monotherapy and polytherapy were analyzed descriptively, and seizure control was compared using chi-square analysis. Results: Of the patients evaluated, 48.6% were male and 51.4% female. Monotherapy was prescribed in 51.4% of patients, predominantly valproic acid (VPA) and phenytoin (PHT). Polytherapy was used in 48.6% of patients, with the most common combinations being VPA + carbamazepine (CBZ) and PHT + VPA. Seizure-free control within six months was achieved in 34.6% of patients. A significant association was found between therapy regimen and seizure control (p = 0.040), with poor control more frequent in polytherapy (73.3%) than monotherapy (57.9%). Patients on polytherapy had twice the risk of poor seizure control (OR = 2.00; 95% CI: 1.08–3.72). Conclusion: Valproic acid remains the most prescribed AED for monotherapy, while phenytoin–valproic acid combinations are frequent in polytherapy. Polytherapy was associated with poorer seizure control, highlighting the importance of individualized AED selection and rational drug utilization in epilepsy management