Erman Sepniagus Saragih
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hipokrit Pemuka Agama (Matius 23:1-12) Erman Sepniagus Saragih
Integritas: Jurnal Teologi Vol 3 No 2 (2021): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v3i2.68

Abstract

Tindakan Penguasa Agama (Matius 23:1-12). Matius 23 terkenal sebagai teks kontroversial, dimana pasal ini merupakan antitesis khotbah Yesus di bukit (pasal 5-7). Yesus mengakui otoritas ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, namun mereka menentang eksistensi-Nya sebagai Mesias. Keberadaan Yesus baik dari aspek popularitas pelayanan maupun pada masa depan membuat kecemasan bagi para pemuka agama di Yudea. Metodologi yang digunakan adalah prinsip hermeneutik dengan menggunakan historis kritis, struktur teks dan analisis sosial komunitas Matius. Dengan demikian Matius 23 menggambarkan perilaku pelayanan pemuka agama di Yudea sebagai dasar untuk memahami maksud kritik Yesus terhadap penguasa agama yang duduk di kursi Musa. Tanpa meniadakan otoritas pemuka agama itu, Yesus dalam injil Matius menekankan ajaran penatalayanan transformatif kepada orang banyak dan murid-murid-Nya (komunitas Matius) untuk lebih menerapkan solidaritas persaudaraan dan empati sosial sebagai keutamaan.
Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai Pendidik Moral Siswa Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 1, No 1 (2017): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v1i1.36

Abstract

Guru PAK adalah seorang guru yang berusaha untuk mendidik watak dan pribadi para murid, supaya akhirnya mereka sendiri berani bertanggungjawab di depan Tuhan tentang kepercayan mereka. Guru PAK adalah juga seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang mengenal akan pribadi Yesus serta memiliki pribadi yang meneladani Yesus sebagai guru besarnya.Guru PAK memiliki peranan penting dalam mendidik siswa untuk memiliki moral Kristen yang Alkitabiah. Saat ini, generasi muda yang masih mencari jati dirinya kerap kali jatuh ke dalam cobaan dan kehilangan moralitasnya sebagai orang Kristen. Khususnya para siswa-siswi Kristen yang sedang dalam belajar untuk menjadi seorang Kristen yang sejati. Disinilah terletak peranan Guru PAK sebagai pendidik moral Kristen. Tugas guru tidak hanya sebatas mengajar, yang menjelaskan bahan pengajaran tetapi juga melatih dan membimbing anak didiknya untuk memiliki moral Kristiani. Peranan Guru PAK sebagai pendidik  moral siswa yaitu: 1) Menuntun anak didik keluar dari kegelapan menuju terang, 2) Mengajar agama Kristen sebagai pengetahuan dan kehidupan, 3) memberikan perlengkapan pengetahuan kognitif, afektif, moral dan spiritual, 4) Menaruh perhatian pada pembentukan watak dan moral peserta didik. Kata Kunci : Guru PAK Sebagai Pendidik Moral Siswa
POLA MENDIDIK DI SINAGOGA DALAM TRADISI ISRAEL DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Christian Humaniora Vol 3, No 2 (2019): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v3i2.124

Abstract

Abstract: The current of globalization is unstoppable and has an impact on culture, society, economics, and social relations. Christian Education has an important role in planting spiritual values as a practical control of the current flow of globalization. The purpose of this article is to raise the history of the educational process, the theological foundation as a pattern of education in the Synagogue in the tradition of teaching Israel which has implications for present-day Christian Education. The method used is the analysis of the content of the relevant literature. The results obtained are that the pattern of education in the Israeli tradition prioritizes God as true wisdom knowledge, experience-based learning with God (spirituality), curriculum grouping based on age, misyna is interpretation learning methods by adjusting words that are understood without reducing real meaning, and besides learning rabbis are done in an integrated manner with parents every day as God's command.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Arus globalisasi tidak terbendung dan berdampak pada budaya, masyarakat, ekonomi dan relasi sosial. Pendidikan Agama Kristen memiliki fungsi strategis dalam penanaman nilai-nilai spiritual sebagai kontrol praksis arus globalisasi masa kini. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengangkat kepermukaan sejarah terjadinya proses pendidikan, landasan teologis sebagai pola pendidikan di Sinagoga dalam tradisi mengajar Israel yang berimplikasi pada pendidikan kristen. Metode yang digunakan adalah analisys content terhadap literatur yang relevan. Hasil yang diperoleh adalah pola pendidikan dalam tradisi Israel mengutamakan Allah sebagai pengetahuan hikmat sejati, pembelajaran berbasis pengalaman dengan Allah (spiritualitas), pengelompokan kurikulum berdasarkan usia, misyna metode pembelajaran penafsiran dengan penyesuaian kata-kata yang dipahami tanpa mengurangi makna sebenarnya, dan selain Rabi pembelajaran dilakukan secara terintegrasi dengan orang tua tiap harinya sebagai implementasi perintah Allah.Keywords: Israel, Christian, Education, Sinagoge
Kristus Sebagai Imam Besar: Studi Eksegesis Ibrani 9:11-28 dan Relevansinya Bagi Gereja Bethel Injil Sepenuh Kasih Kristus Tarutung Christmas Jonathan Simanugkalit; Warseto Freddy Sihombing; Erman Sepniagus Saragih
Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama Vol. 2 No. 2 (2024): April : Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Assisi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jutipa.v2i2.292

Abstract

This research is intended to understand the role of Christ as High Priest and its significance for Christ Tarutung's Christ Full Gospel Bethel Church. A priest had responsibilities regarding the presentation of offerings, and the high priest served as head of the priests. Christ, as the High Priest, served as intercessor for humans and sacrificed his blood and himself to atone for human sins. The pastor in GBIS Love of Christ, as leader, is responsible for guiding and shepherding the congregation. The research method in this scientific work is a qualitative method with a descriptive approach (library research). This research also uses an exegetical approach by analyzing verses and sources related to Hebrews 9:11-28. This method is used by the author to find useful materials according to the research objectives. In this research, we will explore Christ as the High Priest and its relevance for the Full Gospel Bethel Church, the Love of Christ Tarutung congregation. Christ as the High Priest, the role of Christ as the High Priest is the blood of Christ as a sacrifice to redeem human sins, Christ becomes the High Priest who passes through Heaven, Christ as the High Priest grants eternal salvation to all those who wait patiently.