Thabathaba’i mengajukan “gugatan” pemikiran filsafat yang menyatakan bahwa realitas pengetahuan tergantung persepsi subjek seperti apa yang dikatakan kaum shopis “apa yang kita ketahui tak lain hanya sekedar persepsi kita, dan tidak memiliki realitas eksistensinya. Namun, bagi Thabathaba’i, bukan berarti peran subjek tidak ada, karena, menurutnya realitas pengetahuan, secara ontologis pada hakikatnya adalah riil. Sebab, pengetahuan manusia yang didasarkan dari persepsi dirinya sebagi subjek terhadap objek di luar dirinya yang dipersepsikan adalah bersifat kuiditatif (māhīyat). Karena jika tidak demikian, maka dengan sendirinya tidak akan pernah manusia memiliki pengetahuan. Lalu, bagaimana relasi antara realitas pengetahuan kita di dalam mental dengan realitas di luar? Apakah realitas pengetahuan di mental berbeda dangan realitas pengetahuan di alam luar? Pada dasarnya, menurut Thabathaba’i, seluruh objek pengetahuan eksternal tak lain merupakan konsep-konsep mental kita. Namun, konsep-konsep mental tersebut memiliki karakteristik yang khas, yaitu semacam “cermin” yang dapat memantulkan gambaran luarnya (mir‘ātun masyīrat ilā al-khārij). Ia merupakan produk imajinal tentang pengetahuan eksternal pada mental kita tanpa perantara pada tahap awalnya. Selanjutnya, mental kita pada tahap kedua, menandaskan bahwa konsep-konsep pengetahuan tersebut memiliki realitas eksistensinya di alam eksternal. Kemudian pada tahap akhir, mental kita menyatakan bahwa kehadiran dan kemunculan realitas konsep-konsep tersebut di mental kita bertitik tolak dan bersumber dari efek-efek realitas eksternal Kata Kunci: Realitas Pengetahuan, Kuiditatif, Konsep Mental, Realitas Eksternal