Iffan Ahmad Gufron
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MENJADI MANUSIA BAIK DALAM PERSPEKTIF ETIKA KEUTAMAAN Iffan Ahmad Gufron
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.235 KB) | DOI: 10.24235/jy.v2i1.909

Abstract

Aristoteles dalam karyanya Nichomachean Ethics memulai pertanyaan dengan “apakah kebaikan manusia itu?” dan jawabannya adalah “kebaikan manusia merupakan aktivitas jiwa dalam kesesuaiannya dengan keutamaan. Dalam memahami etika, kiranya kita harus memahami apakah yang membuat seseorang menjadi pribadi utama. Aristoteles menjawabnya dengan empat keutamaan: yaitu, keberanian, kontrol diri, kemurahan, dan kejujuran. Ia juga menekankan bahwa  keutamaan itu tidak akan terjadi dalam ekstrimitas tetapi selalu dalam jalan tengah. Di samping itu Aristoteles bersama sejumlah pemikir kuno lainnya termasuk Sokrates dan Plato mendekati etika dengan mempertanyakan “sifat karakter macam apakah yang membuat seseorang menjadi pribadi yang baik?”, sehingga pada waktu itu terutama sejak Aristoles sampai dengan Abad Pertengahan, etika keutamaan menjadi sangat dominan di filsafat Barat. Keutamaan menjadi titik pijak dalam diskusi etika. Kita mengandaikan keutamaan membuat seseorang menjadi manusia yang baik. Lebih jauh kita ingin lebih mengenal apa yang dimaksud dengan keutamaan. Jika kita ingin menyifatkan keutamaan, mungkin dapat kita mengatakan bahwa keutamaan merupakan disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara moral. Kemurahan hati sebagai contoh, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang membagi harta bendanya untuk orang lain yang membutuhkan dan kita sepakat bahwa prilaku tersebut adalah baik dan terpuji.  Kata Kunci: Baik, Etika dan Keutamaan