Ridhoul Wahidi rafiuddin Afkari
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TAFSIR AL-AHKAM KARYA ABDUL HALIM HASAN BINJANI Ridhoul Wahidi rafiuddin Afkari
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2097.386 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v3i2.79

Abstract

Berdialog mengenai tasir al-Qur’an bagi orang asing (non arab), al-Qur’an harus diperjelas agar dapat dicerna dan dipahami baik melalui media terjemahan atau penjelasan (exegesis). Sementara terjemahan atau penjelasasan sendiri tergolong dalam tafsir. Di wilayah Nusantara (Indonesia) khususnya, tidak semua masyarakat Muslim dapat memahami ayat al-Qur’an secara langsung, perlu adanya alat bantu, seperti terjemahan atau tafsir. Jauh-jauh hari, para pemikir Islam Indonesia telah berupaya menerjemahkan dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an agar dapat dipahami oleh Umat Islam Nusantara. Salah satu ulama yang berasal dari Sumatera Utara, tepatnya di Binjai yakni Abdul Halim Hasan menulis sebuah karya monumental yakni tafsir al-Ahkam. Sebagai seorang ulama, beliau mencurahkan ilmunya mengupas aspek hukum dalam alQur’an  yang  kemudian  menjadi  corak  dan  karakteristik  dalam penafsirannya.  Hal  ini  penting  bagi  tiap  umat  Muslim  akan kandungan hukum yang dapat dipecahkan berdasarkan al-Qur’an dan  sunnah.  Kemudian,  pengetahuan  yang  mendalam  terhadap ayat-ayat hukum pada gilirannya akan melahirkan produk tafsir yang  fleksibel  sesuai  dengan  tuntutan  zaman  dan  tidak  rigid. Nah,  tulisan  ini  kiranya  penting  mengungkap  ayat-ayat  yang selalu  ramai  diperbincangkan  dan  masih  memiliki  perbedaan sehingga  menimbulkan  polemik  dimasyarakat  sehingga  dengan tulisan ini masyarakat dapat memahaminya dan tujuan al-Qur’an diturunkan  akan  selalu  relevan  dengan  zaman  (shalihun  likulli zaman)  serta  menjadi  acuan  bagi  umat  Islam  dalam  menjalani setiap langkah kehidupan.